Home » News » Refleksi » 72 Tahun Merdeka, Apakah Kita Sudah Mengindonesia?

72 Tahun Merdeka, Apakah Kita Sudah Mengindonesia?

Jakarta, Tengokberita.com-17 Agustus 2017, negara kita tercinta sudah berusia 72 tahun. Untuk ukuran usia manusia, 72 tahun sudah memasuki fase kakek-kakek, fase yang seharusnya tak hanya mandiri dalam berbagai aspek, namun juga sudah purna dalam beberapa aktifitas. Namun, sebagai sebuah negara, 72 tahun bisa dikatakan sangat belia. Untuk menuju walfare state atau baldatun thayyibatun warabbun ghafur (negeri yang subur, adil dan aman), masih memerlukan waktu dan proses yang cukup panjang.

Apalagi Indonesia ini begitu Komplek. Terdapat lebih 300 kelompok etnik atau suku bangsa di Indonesia. atau tepatnya 1.340 suku bangsa menurut sensus BPS tahun 2010.Belum lagi, bahasa. Ada 1.211 bahasa,dimana 1158 adalah bahasa daerah.
Dengan suku bangsa yang beragam dan menggunakan ratusan, bahkan ribuan bahasa daerah, sebenarnya tak mudah untuk menjadi Indonesia.

Menyatukan Identitas yang beragam itu bukan pekerjaan yang gampang. Belum lagi, ada ego-ego khusus yang ada di tiap tiap suku bangsa.  Kondisi-kondisi semacam itu disadari betul oleh para pendahulu kita. Maka pada 27-28 Oktober 1928 di Batavia (Jakarta), setelah kongres Pemuda, muncullah  Sumpah Pemuda. Ini adalah tonggak utama dalam sejarah pergerakan kemerdekaan Indonesia. Ikrar ini dianggap sebagai kristalisasi semangat untuk menegaskan cita-cita berdirinya negara Indonesia. Bertumpah darah, berbangsa dan berbahasa satu Indonesia.

Pondasi dasar sudah dipancangkan sehingga akhirnya berkumdang Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Dan, selama 72 tahun itu, apakah kita sudah benar-benar menjadi Indonesia” seperti harapan, para pendahulu kita tersebut.

Jawabannya emang masih menjadi Indonesia, tapi friksi-friksi untuk mulai melepas dari rasa ke Indonesian itu mulai muncul.
Lihat saja, bagaimana saat sebuah kelompok dengan pongahnya memaksakan pandangan dan idiologinya terhadap kelompok lain, karena mereka merasa bahwa kelompoknyalah yang lebih bisa menjadi Indonesia.

Kelompok ini merasa paling benar dan menganggap kelompok lain yang tak sejalan itu salah.Sehingga mereka pun membuat justifikasi negatif atau stigma negatif terhadap kelompok penentangnya.
Kehidupan berbangsa dan bernegara oleh kelompok ini di baca dalam bingkai hitam putih. Salah-benar, adil dan tidak adil, pancasila dan a pancasila, berketuhanan dan atheis dan lain-lain sebagainya. Semua dihadapkan sebagai sebuah lawan.

Padahal, kita tahu Indonesia itu sangat plural, sangat beragam. Perbedaan suku, agama, ras, dan antargolongan yang dimiliki bangsa Indonesia tidak harus diseragamkan atau bahkan dilenyapkan.

Semua perbedaan-perbedaan itu harus menjadi pengikat persatuan, bukan penghalang untuk bersatu dan bukan pula penghalang untuk hidup dalam keharmonisan.
Semua perbedaan dan keragaman itu justru harus diikat dengan tali persaudaraan, kebersamaan. Itulah, Indonesia. Ya , jika kita masih terjebak dengan kepentingan kelompok, kepentingan golongan apakah pantas kita disebut sebagai Indonesia? (rot)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Related Post

pki, nkri

PKI Sebagai Investasi Ketakutan Orba (2-Habis)

OLEH : MIQDAD HUSEIN Sejatinya bukan ketakutan yang belakangan merebak di tengah masyarakat negeri ini. ...

72 Tahun Merdeka, Apakah Kita Sudah Mengindonesia?

Tengok Berita redaksi Berita Hari ini: 2 min
0