ACTA Desak Penyidik Segera Periksa Sukmawati Soekarnoputri

47
Wakil Ketum ACTA Ade Irfan Pulungan dan Akhmad Leksono (ketiga dari kiri) saat mendampingi Riska Karmalia (kedua dari kiri), pelapor Sukmawati Soekarnoputri, saat akan menjalani pemeriksaan di Bareskrim Polri, Jumat (6/4/2018). (Foto: Tengokberita.com/Istimewa)

Justice, Tengokberita.com – Sejumlah pengacara yang tergabung dalam Advokat Cinta Tanah Air (ACTA) terus melakukan pengawalan terhadap dua dari 13 pelapor Diah Mutiara Sukmawati Soekarnoputri alias Sukmawati Soekarnoputri di Polda Metro Jaya.

Bagi ACTA, puisi putri Proklamator RI merupakan kasus kejahatan agama yang cukup serius, sebagaimana penodaan agama yang dilakukan mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok ketika berpidato di Kepulauan Seribu.

Karena itu, ACTA akan terus melakukan pengawalan terhadap pelaporan Sukmawati Soekarnoputri ke Polda Metro Jaya,” kata Wakil Ketua Umum ACTA Ade Irfan Pulungan kepada tengokberita.com, Sabtu (7/4/2018).

(baca: Waketum ACTA : Tak Ada Alasan Bagi Hakim MA Mengabulkan PK Ahok)

Sepanjang Jumat (6/4/2018), kata Ade, penyidik dari Bareskrim Polri langsung melakukan pemeriksaan terhadap 13 orang yang melaporkan Sukmawati ke Bareskrim Mabes Polri dan Dit Reskrimum Polda Metro Jaya.

Pemeriksaan dilakukan secara serentak terhadap 13 pelapor pada Jumat (6/4/2018) dari pukul 14.00 WIB hingga pukul 20.00 WIB. Seluruh pelapor sudah dibuatkan berita acara pemeriksaannya (BAP),” kata Ade.

ACTA sendiri, kata Ade, melakukan pendampingan terhadap Riska Karmila dan Edwin Irmansyah, dua dari 13 orang warga yang melaporkan Sukamawati Soekarnoputri ke polisi. Selain dirinya, pengacara ACTA lainnya, Akhmad Leksono juga turut melakukan pendampingan terhadap para pelapor pada Jumat kemarin.

Menurut Ade, Riska Karmila (43), warga Bekasi Selatan, melaporkan Sukmawati ke Bareskrim Mabes Polri pada Kamis (5/4/2018). Berdasarkan laporan polisi nomor LP/461/IV/2018/Bareskrim tertanggal 5 April 2018, Riska melaporkan Sukmawati Soekarnoputri dalam perkara kejahatan terhadap ketertiban umum sebagaimana diatur dalam KUHP dan kejahatan tentang penghapusan diskriminasi ras dan etnis sebagaimana diatur dalam Pasal 16 UU No 40 Tahun 2008 tentang Dugaan Tindak Pidana Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis.

Sedangkan Edwin Irmansyah (63), warga Jakarta Selatan yang berprofesi sebagai ustadz melaporkan Sukmawati ke Polda Metro Jaya pada Kamis (5/4/2018) dalam perkara penodaan agama sebagaimana diatur dalam Pasal 156a huruf a KUHP dan Pasal 16 UU No 40/2008 tentang Dugaan Tindak Pidana Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis. Edwin melaporkan Sukmawati dengan bukti surat laporan bernomor LP/462/IV/2018/Bareskrim.

Puisi ‘Ibu Indonesia’
Menurut Ade Irfan Pulungan, lewat puisinya berjudul ‘Ibu Indonesia’, Sukmawati diduga kuat telah melakukan penodaan agama sebagaimana diatur dalam Pasal 156a huruf a KUHP. Puisi ‘Ibu Indonesia’  Sukmawati telah menyandingkan konde ibu Indonesia dengan cadar dan memperbandingkan suara kidung ibu indonesia dengan lantunan adzan.

Sukmawati Soekarnoputri saat membacakan puisi berjudul ‘Ibu Indonesia’ yang merupakan karyanya sendiri di acara Fashion Week 2018 di Jakarta Convention Center, Rabu (28/3/2018).

Dalam puisinya itu, Sukmawati menyebutkan bahwa konde Ibu Indonesia lebih indah dibanding cadar. Sukmawati juga menyebutkan bahwa suara Kidung Ibu Indonesia lebih merdu dibandung suara Adzan.

Puisi Sukmawati itu telah melukai umat muslim di seluruh Indonesia, sebagaimana penodaan agama yang dilakukan Ahok. Karena itu, kami dari ACTA akan terus melakukan pengawalan terhadap kasus ini meski Sukmawati telah menyampaikan permintaan maaf dan telah pula menemui Ketua MUI untuk menyampaikan permohonan maafnya. Permohonan maafnya tidak akan menghilangkan aspek dugaan tindak pidana yang telah diperbuatnya. Kami akan terus mengawal kasus ini,” Ade Irfan Pulungan menegaskan.

Ade juga mendesak agar penyidik dari Bareskrim Polri dan Dit Reskrimum Polda Metro Jaya secepatnya melakukan pemeriksaan terhadap Sukmawati dan menetapkannya sebagai tersangka penodaan agama.

Setiap orang memiiki kedudukan yang sama di mata hukum, equality before the law. Segera periksa Sukmawati Soekarnoputri dan tetapkan sebagai tersangka kasus penodaan agama,” Ade menambahkan.

Sebelumnya, Sukmawati juga dilaporkan ke Dit Reskrimum Polda Metro Jaya oleh Amron Ansyari pada Selasa (3/4/2018). Dalam laporannya bernomor LP/1785/IV/2018/PMJ/Dit. Reskrimum tertanggal 3 April 2018, politisi Partai Hanura ini melaporkan Sukmawati dengan tuduhan melanggar Pasal 156a KUHP tentang penistaan agama.

Di hari yang sama, selain Amron, pengacara Denny Adrian Kushidayat juga melaporkan Sukmawati dengan tuduhan yang sama, yaitu dugaan melakukan tindakan penodaan agama sebagaimana diatur dalam Pasal 156a KUHP. Selain mengadukan Sukmawati Soekanoputri lewat Pasal 156a KUHP, lewat laporan polisinya bernomor LP/1782/IV/2018/PMJ/Dit. Reskrimum, Denny juga melaporkan Sukmawati karena dinilai telah melanggar Pasal 16 UU No 40/2008 Dugaan Tindak Pidana Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis.

Puisi ‘Ibu Indonesia’ dibacakan Sukmawati dalam acara pembukaan “29 Tahun Anne Avantie Berkarya di ajang Indonesia Fashion Week 2018’ di gedung Jakarta Convention Center di Jl Gatot Subroto, Jakarta Pusat, Rabu (28/3/2018). Puisi ‘Ibu Indonesia’ merupakan karya asli Sukmawati, yang menjadi bagian dari buku “Kumpulan Puisi Ibu Indonesia” yang telah diterbitkan pada 2006.

Pada 4 April 2018, Sukmawati membuat surat pernyataan klarifikasi terkait puisinya itu dan menyampaikan permohonan maaf kepada umat Islam Indonesia, khususnya bagi yang merasa tersinggung dan keberatan dengan puisi ‘Ibu Indonesia.’

Sukmawati juga telah mendatangi Ketua MUI KH Ma’ruf Amin dan menyampaikan permohonan maafnya. Setelah menerima permohonan maaf dari Sukmawati itu, Ketua MUI KH Ma’ruf Amin meminta kepada seluruh pihak untuk membatalkan tuntutan mengadili Sukmawati secara hukum. (has)

Bagaimana menurut pembaca?