Ahli Bahasa UI: ‘Kitab Suci Itu Fiksi’ tak Menyalahi Tata Bahasa & Keilmuan

1344
DR SUNU WASONO, SS, MHUM

Budaya, Tengokberita.com – Pernyataan Rocky Gerung bahwa Kitab Suci Itu Fiksi dalam acara Indonesia Lawyer Club tanggal 10 April 2018, menimbulkan kontroversi di masyarakat. Bahkan, atas ucapannya itu, Rocky Gerung dilaporkan ke polisi.

Benarkah ucapan Kitab Suci Itu Fiksi dimaknai sebagai ucapan yang telah menimbulkan terjadinya pelanggaran pidana berupa tindakan penodaan agama sebagaimana dimaknai sebagian masyarakat? Bagaimana ahli bahasa memaknai Kitab Suci Itu Fiksi?

Saya kira benar apa yang dikatakan Rocky Gerung. Sebab kata fiksi memiliki makna yang luas, tak sekadar bermakna khayalan sebagaimana selama ini pandangan umum. Fiksi adalah karya rekaan. Rekaan itu bikinan, dan untuk membuat sesuatu itu membutuhkan pemikiran. Jadi, fiksi adalah hasil pemikiran dari seseorang mengenai sesuatu hal yang diwujudkan dalam karya sasrtra, novel, cerita pendek, dan sebagainya,” kata ahli bahasa dari Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI) Dr Sunu Wasono, SIB, MHum.

(baca: Ketua PBNU Pun Tak Mempermasalahkan ‘Kitab Suci Itu Fiksi’)

Sunu tidak melihat apa yang diucapkan Rocky Gerung bahwa Kitab Suci Itu Fiksi mengarah pada apa yang kemudian dilaporkan oleh pihak-pihak yang tidak menerima pemikirannya, yaitu penodaan agama. “Ucapannya jangan dimaknakan bahwa kitab suci itu khayalan atau fiktif. Saya kira dia tidak bermaksud begitu. Saya kira pemikiran dia tidak berpijak seperti itu,” kata Sunu, Ketua Program Studi (Prodi) Indonesia FIB UI.

Menurut pria yang sering dijadikan narasumber oleh aparat penegak hukum dalam kasus-kasus ujaran kebencian (hate speech) ini, kitab suci berisi cerita-cerita dan kisah-kisah kejadian yang disajikan seperti fiksi.

Kalau fiksi di sini mau diartikan sebagai cerita rekaan, ya silakan saja. Tapi fiksi di sini bukan cerita khalayan sebagaimana pandangan umum. Sebab di dalam cerita atau kisah-kisah kejadian yang ada di dalam kitab suci itu, ada sesuatu yang ingin disampaikan, ada amanah yang hendak disampaikan, dan ada pesan-pesan luar biasa yang ingin disampaikan sehingga kemudian menjadi pegangan bagi umat yang meyakininya,” Sunu menjelaskan.

Sunu tak memungkiri bahwa pengertian fiksi yang terdapat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah khayalan. Tetapi, katanya, KBBI adalah kamus umum yang penggunaannya juga untuk hal-hal yang berlaku umum. Tetapi jika sudah masuk ke wilayah khusus seperti wilayah keilmuan, ada kamus lain lagi, yaitu kamus istilah.

Ada kamus Sastra, kamus Hukum, kamus Biologi, kamus Arkeologi, kamus Politik, kamus Filsafat, dan sebagainya. Itu kemudian yang dinamakan ragam bahasa. Jadi, KBBI adalah kamus umum, tetapi begitu memasuki ranah-ranah keilmuan, ada kamusnya sendiri,” kata Sunu.

Sunu kembali menegaskan, dari aspek tata bahasa dan keilmuan, apa yang diucapkan Rocky Gerung bahwa Kitab Suci Itu Fiksi, tidak menyalahi aturan. “Fiksi dalam konteks Kitab Suci Itu Fiksi yang diucapkan Rocky Gerung dalam acara ILC tidak dalam pengertian khayalan atau mengarang bahkan mengada-ada,” Sunu menegaskan.

Rocky Gerung, kata Sunu, bicara Kitab Suci Itu Fiksi sebagai orang yang paham akan hal itu. “Tetapi ketika pembicaraannya atau ucapannya dilihat dan didengar banyak orang seperti di media televisi, ucapannya itu kemudian menimbulkan penafsiran yang beragam. Kalau Rocky bicara di ruang kuliah atau ruang terbatas yang audiensnya jelas siapa, tidak masalah,” Sunu menambahkan. (has)

Bagaimana menurut pembaca?