Home » News » Sosok » Ali Mukartono, Dari Cicak Buaya Hingga Penistaan Agama
ali mukartono, jampidum, hakim, jpu

Ali Mukartono, Dari Cicak Buaya Hingga Penistaan Agama

Jakarta, Tengokberita.com – Ali Mukartono kini menjabat Direktur pada Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Umum (Jampidum). Pria ini ditunjuk memimpin Jaksa Penuntut Umum (JPU) kasus penistaan agama yang menjerat Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok sebagai terdakwa. Kasus ini mulai disidangkan PN Jakarta Utara dengan mengambil tempat di bekas PN Jakarta Pusat, di Jl Gajah Mada, Selasa (13/12/2016).

Jaksa Utama Muda itu memimpin 13 jaksa senior untuk menangani kasus yang menghebohkan seantero nusantara. Mereka, Reky Sonny Eddy Lumentut, Lila Agustina, Bambang Surya Irawan, J Devi Sudarsono, Sapta Subrata, Bambang Sindhu Pramana, Ardito Muwardi, Deddy Sunanda, Suwanda, Andri Wiranof, Diky Oktavia, dan Robertino Fedrik Adhar Syaripuddin.

Ali Mukartono adalah mantan Kepala Kejaksaan Tinggi Bengkulu. Dia pernah menjadi Ketua Tim Jaksa Peneliti kasus yang menjerat Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Chandra M Hamzah dan Bibit Samad Rianto, pada 2009 lalu yang dikenal dengan sebutan kasus Cicak vs Buaya.

Kala itu, Ali ditugaskan Kejaksaan menjadi jaksa peneliti dan jaksa penuntut umum dalam perkara dugaan pemerasan serta penyalahgunaan wewenang dengan tersangka Bibit Samad Rianto dan Chandra M Hamzah. Perkara yang menjadi polemik panjang di tengah masyarakat itu baru berakhir setelah Kejaksaan menerbitkan Surat Ketetapan Penghentian Penuntutan (SKPP).

Nama Ali Murtono kembali mengemuka ke permukaan pada 2011 ketika diajukan Kejaksaan Agung menjadi Direktur Penuntutan KPK. Ali diajukan menggantikan Ferry Wibisono. Namun, nama Jaksa golongan 4C ini menjadi sorotan karena pernah menjadi jaksa dalam kasus Cicak vs Buaya. Akhirnya, dia memang gagal duduk sebagai Direktur Penuntutan KPK.

(Baca: Sylviana Murni, Cawagub yang Asli Betawi)

Dalam sidang perdana kasus penistaan agama ini, Ali Mukartono dengan lantang membacakan dakwaan terhadap Ahok. “Dengan sengaja di muka umum mengeluarkan perasaan atau melakukan perbuatan yang pada pokoknya bersifat permusuhan penyalahgunaan atau penodaan terhadap agama yang dianut di Indonesia yang dilakukan oleh terdakwa dengan cara-cara sebagai berikut,” kata Jaksa berbintang satu itu.

Ali Mukartono menambahkan, dalam kasus ini Ahok meminta warga untuk tidak mudah percaya dengan pihak-pihak tertentu yang kerap menggunakan dalil-dalil agama untuk tujuan politik.

Jadi tak usah pikiran ah nanti kalau tak terpilih mesti Ahok program bubar tidak saya sampai Oktober 2017. Jadi, jangan percaya sama orang, bisa saja dalam hati kecil bapak-ibu tak bisa pilih saya dibohongi pakai Surat Al Maidah 51 macam,” kata Ali Mukartono mengutip pernyatan Ahok ketika kunjungan kerja di Kepulauan Seribu.

Menurut Ali, Ahok seharusnya jangan menyinggung surat Al Maidah. Sebab, kata Ali, bukan kapasitas Ahok untuk menerjemahkan ayat tersebut. “Di mana terjemahan dan interpretasinya menjadi domain bagi agama Islam, baik pemahaman maupun penerapannya,” kata jaksa eselon 2 ini pada persidangan pagi tadi.

Ali Mukartono adalah pengacara negara yang malang melintang menangani berbagai perkara pidana di negeri ini. Kepiawaiannya mengantarnya menangani berbagai kasus yang menyedot perhatian publik. Setelah kasus Cicak vs Buaya, kasus dugaan penistaan agama pun dipercayakan pimpinan kepadanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Related Post

Nanan: VW Tanamkan Nilai Kebersamaan, Kekeluargaan dan Persaudaraan

Tengokberita.com – Mengusung tema ‘Harmony in Diversity’ Jambore Nasional Volkswagen Indonesia ke 48 sudah digelar ...

Ali Mukartono, Dari Cicak Buaya Hingga Penistaan Agama

Tengok Berita red tengokberita.com Berita Hari ini: 2 min
0