Amir Husin Daulai & Anies Rasyid Baswedan, Jalan Sejarah yang Semakin Dekat

127
AMIR HUSIN DAULAY

OLEH GEISZ CHALIFAH
Budayawan

SABTU 6 Juli 2013, di tengah jalan Jakarta saya mendapat telepon. Seorang teman mengabarkan Amir Husin Daulai wafat. Sejenak saya tergagap, orang baik itu telah pergi.

Amir Husin adalah perekat dari semua aktifis di Jakarta, tubuhnya yang tambun tak mengurangi kelincahannya dalam beraktivitas. Amir selalu menjadi muara bagi semua lapisan untuk bertemu dan beradu gagasan. Amir adalah jembatan bagi yang berada di kanan maupun kiri.

Beberapa waktu setelah wafatnya Amir Husin Daulai, saya bertemu Hida (Istri Almarhum). Hida bercerita bahwa sekolah Rumah Bambu yang dikelola bersama almarhum suaminya, jumlah anak – anak yang mengaji di situ semakin banyak.

Anak-anak itu menyukai marawis. Namun tak ada alatnya. Maka…anak-anak itu menjadikan meja belajar sebagai alat untuk bermain marawis.

Beberapa hari kemudian, Hida mengirim sebuah foto via WA dengan sebaris kalimat di bawahnya, “Terimakasih telah memberi keceriaan pada mereka.”

Sebuah foto yang dikirim membuat saya tercekat. Betapa sederhananya membuat keceriaan bagi anak-anak itu; betapa sederhananya mensyukuri hidup dengan menyenangkan hati orang lain.

Waktu berjalan, politik semakin gaduh. Cita-cita Amir Husin Daulai semakin jauh dari kenyataan. Ketimpangan sosial, politik transaksional, korupsi dan berbagai masalah bangsa tak pernah ditangani dengan seksama.

Reformasi yang diperjuangkannya telah dirampok di tengah jalan…..

Jum’at 2 Maret 2018, sebuah acara bernama Temu Kangen Aktivis 80an dan 90an.

Anies Rasyid Baswedan didaulat tampil ke panggung diminta untuk menyerahkan penghargaan kepada Hida (Istri alm Amir Husin Daulai). Mereka berada di atas panggung bersama-sama.

Saya tak pernah membayangkan situasi semacam itu akan terjadi. Saya juga tak tahu apakah Anies mengenal secara langsung Amir Husin Daulai atau tidak.

Namun ketika Anies berpidato, tentang kesetaraan, tentang perjuangan, menghadirkan keadilan sosial.

Saya meyakini Amir Husin Daulai tersenyum di alam sana. Telah lahir pemimpin yang dengan lantang menyatakan: akan memikul beban di pundaknya sebagai penentu kebijakan untuk menghadirkan keadilan sosial bagi semua orang.

Mimpi-mimpi itu semakin nyata, jalannya sejarah semakin mendekat. Hadirnya seorang pemimpin yang berpihak bukan pada kekuasaan dan tidak takluk kepada Taipan tapi pemimpin yang berempati dan memiliki visi berpihak pada yang tertinggal dan terpinggirkan.

Selamat jalan Amir Husin Daulai. Selamat Datang Anies Rasyid Baswedan. Di pundak Anda semua harapan dari darah yang pernah tertumpah, semua nyawa yang telah melayang, demi perjuangan dan harapan untuk tegaknya keadilan sosial. Setidaknya di kota ini, di kota semua sejarah bangsa bermula untuk diwujudkan secara nyata.***

Bagaimana menurut pembaca?