Benarkah Enny Arrow adalah Abdullah Harahap? (Bag 3)

137
Sebagian dari novel-novel misteri karya Abdullah Harahap

Jakarta, Tengokberita.com – Nama Enny Sukaesih Probowidagdo, seorang wartawati di masa penjajajahan Jepang, sebagai penulis ratusan novel erotis berlabel Enny Arrow muncul dari keterangan Abdullah Harahap setelah diwawancarai Sunardian Wirodono di awal tahun 1980-an.

Kisah tentang Enny Sukaesih Probowidagdo berdasarkan informasi dari Abdullah Harahap itu kemudian ditayangkan Sunardian di blog milik pribadinya pada 14 November 2015 dengan judul Enny Arrow: Pejuang, Pendidik Generasi Bangsa.

Belakangan, Sunardian malah curiga, jangan-jangan Enny Sukaesih Probowidagdo adalah tokoh rekaan Abdullah Harahap sendiri. Sebab, selain menceritakan kisah sosok Enny Sukaesih, Abdullah menyebut Enny Arrow sebagai nama samaran dari seorang penulis laki-laki.

Siapakah yang dimaksud Abdullah Harahap? Sunardian menduga jika penulis laki-laki yang dimaksud Abdullah Harahap adalah dia sendiri. Apalagi, menurut Sunardian, Abdullah juga mempelajari gaya penulisan John Ernst Steinbeck dan dia juga merupakan novelis produktif di masa-masa kejayaan Enny Arrow di rentang waktu 1977 – 1992.
.
Sunardian mengatakan, pada masa itu, nama samaran ada kemungkinan sering dipakai penulis yang kepepet masalah keuangan. Sebab honorarium penulis waktu itu kecil, Rp50 ribu hingga Rp100 ribu. Sayangnya kecurigaan Sunardian tak bisa dikonfirmasi lantaran Abdullah Harahap meninggal pada 2015. “Enny Arrow masih gelap sampai sekarang,” kata Sunardian.

Lantas, benarkah kecurigaan Sunardian? Benarkah Abdullah Harahap adalah Enny Arrow? Dan, siapakah Abdullah Harahap?

ABDULLAH HARAHAP (1943 – 2015)

Abdullah Harahap adalah seorang penulis novel misteri/horor yang terkenal di zamannya. Lahir di Sipirok, Tapanuli Selatan pada 17 Juli 1943. Sebelum menulis novel horor misteri, ia juga menulis novel roman percintaan, namun namanya melambung berkat novel horor yang dikarangnya.

Mengawali kariernya sebagai penulis sejak masih duduk di bangku SMA di kota Medan (1960) dengan menulis sejumlah cerita pendek dan puisi yang dimuat di media cetak setempat. Tahun 1963, ia hijrah ke Bandung guna melanjutkan studi di IKIP (kini UPI).

Selagi di Bandung itu lah, ia menjadi penulis cerpen paling produktif yang karya-karyanya membanjiri sejumlah media cetak (koran) di Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Medan, dan paling terutama Jakarta (yang oleh Abdullah Harahap dianggap sebagai kota yang membesarkan namanya sebagai penulis). Abdullah Harahap dikenal dengan sebutan AH yang merupakan kependekan dari namanya.

Di tengah perjalanan kuliahnya, AH menekuni profesi sebagai jurnalis di SK Mingguan GAYA dan GALA (cikal bakal SK Harian Galamedia), lalu kemudian menjadi perwakilan tetap untuk wilayah Jawa Barat dari Majalah Selecta Grup (Selecta, Detektif & Romantika, Senang, Stop, Nova).

Perjalanan karier sebagai wartawan yang ditekuni AH selama seperempat abad lebih (1965-1995) menambah luas wawasan serta pengetahuan AH sebagai penulis novel. Karena sebagai wartawan, AH bukan hanya sekadar meliput berita sesuai tanggung jawab yang diembannya, akan tetapi juga memanfaatkan setiap kesempatan yang ada untuk melakukan riset ke tempat-tempat tertentu yang dia inginkan untuk bahan novel misterinya.

Di tahun 1990-an, AH berhenti menulis novel misteri karena ketika itu novel-novel karyanya picisan, murahan. Selain itu, banyak penerbit langganannya yang tutup. Di masa ini, AH lebih banyak menulis naskah drama atau skenario misteri untuk film maupun sinetron. Sekali-kali karyanya berupa cerita bersambung (cerbung) berbalut misteri, muncul di sejumlah koran seperti Misteri Boneka Cinta (SK Mingguan Galamedia Bandung), Misteri Janda Hitam (Jawa Pos Surbaya), dan Misteri Sebuah Peti Mati bagian 1 dan 2 (Surabaya Post).

Sejak ia berkarya di tahun 1960-an, total sudah 15 Pulpen (kumpulan cerita pendek), 75 novel misteri, dan 60 naskah drama dan skenario film (misteri). Sebagian karyanya diangkat ke layar lebar dan yang terbanyak ke layar kaca (TPI, SCTV, RCTI, dan Indosiar), baik dalam bentuk sinetron seri maupun FTV.

Novel-novel misteri karyanya antara lain Misteri Perawan Kubur, Manusia Serigala, Bisikan Arwah, Senggama Kubur, Bercinta dengan Syaitan, Babi Ngepet, Misteri Sebuah Peti Mati (1 dan 2), Misteri Rumah di Atas Bukit, Perawan Sembahan Setan, Panggilan dari Neraka, Sepasang Mata Iblis, dan masih banyak lagi.

Dalam menulis karyanya, selain memuat faktor latar belakang sosial dan budaya suatu tempat yang menjadi setting dari kisah misteri yang diangkatnya, AH juga sering memasukkan unsur seks di dalam novelnya. Novel-novel itu diproduksi antara periode pertengahan tahun 1960-an hingga awal 1990-an.

ABDULLAH HARAHAP (1943 – 2015)

Novel erotis karya Enny Arrow praktis berhenti di awal tahun 1990-an, persis bersamaan dengan waktu berhentinya Abdullah Harahap menggarap novel-novel misterinya.

Adanya kesamaan dalam hal unsur seks dalam karya-karyanya dan kesamaan periode penulisan antara Enny Arrow dan Abdullah Harahap, menyemburkan dugaan kuat bahwa Abdullah Harahap adalah Enny Arrow.

Sebagaimana kisah tentang Enny Sukaesih yang diceritakannya, Abdullah Harahap juga mengaku gaya penulisannya dipengaruhi oleh gaya penulisan John Ernst Steinbeck (1902-1968), penulis kelahiran California Amerika Serikat tahun 1902 dan peraih Nobel Sastra pada 1962. Karya Steinbeck yang terkenal di antaranya adalah Forgotten Village (1941) dan Viva Zapata! (1952). Karya-karya Steinbeck banyak berlatar belakang sosial dan budaya plus unsur seks di dalam karya-karyanya.

JOHN ERNST STEINBECK (1902 – 1968)

Sendja Merah di Pelabuhan Djakarta,” sebuah novel pertama yang menggunakan nama Enny Arrow di tahun 1965, adalah sebuah karya yang berlatar belakang sosial budaya dan dibubuhi unsur seks di dalamnya. Setelah novel ini, Enny Arrow tiba-tiba saja menghilang dan muncul kembali di tahun 1977 dengan karya-karya novel erotisnya yang terkenal dan fenomenal.

Enny Sukaesih dikabarkan meninggal tahun 1995 dalam usia 71 tahun. Mungkinkah, kabar meninggal ini memiliki makna meninggal karyanya dan bukan dalam pengertian sesungguhnya? Sebab sejak 1992, sudah tidak ada lagi novel erotis karya Enny Arrow beredar di pasar.

Abdullah Harahap sendiri meninggal di kediamannya di kawasan Dalem Kaum Bandung pada 2015 dalam usia 72 tahun, sebuah usia yang persis sama dengan meninggalnya Enny Sukaesih. Mungkinkah Sunardian Wirodono yang pertama kali mempublikasikan siapa itu Enny Arrow di blog pribadinya, memegang amanah untuk merahasiakan jati diri Enny Arrow? Dan mengapa wawancara dengan Abdullah Harahap yang dilakukannya di awal tahun 1980-an namun baru dipublikasikannya pada 14 November 2015 setelah meninggalnya Abdullah Harahap?

Mungkinkah pula, seperti dikatakan Sunardian Wirodono, di kisaran tahun 1977 Abdullah Harahap mengalami kesulitan keuangan sehingga ia menggunakan nama samaran Enny Arrow dan membuat karya-karya novel erotis guna memenuhi dahaga pasar? Dan mengapa Enny Arrow berhenti berkarya di tahun 1992?

Untuk mengetahui jawabannya, ikuti terus ulasan mengenai siapa itu Enny Arrow hanya di Tengokberita.com. (pink/has)

Bagaimana menurut pembaca?