Home » News » Sosok » Benny Mamoto Punya Sejuta Cara Untuk Menyelinap

Benny Mamoto Punya Sejuta Cara Untuk Menyelinap

Jakarta, Tengokberita.com – Nama Benny Mamoto dan Badan Narkotika Nasional memang tidak bisa dipisahkan. Pria bernama lengkap Benny Josua Mamoto yang lahir dari keluarga dengan adat Minahasa yang kental, membuatnya memiliki sifat yang tegas dan bertanggungjawab seperti yang diajarkan oleh kedua orangtuanya. Namun, dia lahir di Ngadirejo, Temanggung, Jawa Tengah, pada 7 Juni 1955.

Benny begitulah dia disapa, punya sepenggal cerita ketika menjabat sebagai Deputi Pemberantasan Narkotika BNN. Cerita itu berkaitan dengan penangkapan Marwan Adli diungkap Benny Mamoto. Penangkapan itu bermula saat dia bersama tim BNN dipersulit ketika hendak merazia lapas di Nusakambangan.

Kendati saat itu surat izin dari Direktur Jenderal Pemasyarakatan telah dikantongi, Benny dan tim justru ditahan para sipir yang berjaga di Dermaga Wijaya Pura Cilacap. “Saya merasa seperti anak sekolah yang disetrap. Sebab saya ditahan di dermaga selama tiga jam, padahal saya dan anggota-anggota BNN akan merazia peredaran narkoba di dalam lapas,” katanya Kamis (25/8/2016).

“Setelah tiga jam, saya baru diperbolehkan ke Nusakambangan. Apa yang terjadi? Saat saya masuk para napi sudah berjejer rapi dan siap diperiksa, tentu saja kemungkinan besar sudah dikondisikan dan akhirnya hasil operasi nihil,” katanya.

Benny pun tidak ingin kehilangan buruan. Dia memilih menyelinap ke pulau Nusakambangan melalui dermaga milik sebuah perusahaan swasta. “Di depan lapas narkotika, saya ketuk pintu dan langsung gelar razia. Nah dari situ saya mendapatkan banyak tangkapan, termasuk adanya indikasi atau dugaan kepala lapas Nusakambangan ikut terlibat jaringan narkona,” kata Benny.

Empat tahun berdinas di BNN sejak 2009 dengan posisi terakhir Deputi Pemberantasan Narkotika BNN, dia mengaku kerap mendapatkan teror pembunuhan. Memasuki usia 61 tahun, dia masih mengingat catatan panjang perjalanan pemberantasan narkotika di Tanah Air. Pria kelahiran 7 Juni 1955 itu beberapa kali mencokok bandar narkotika.

Namun, sukses menangkap bandit narkotika, Benny dengan pangkat Irjen pada periode 2012- 2013 itu justru bolak-balik mendapat ancaman pembunuhan. Mirisnya, ancaman itu justru muncul dari dalam lembaga pemasyarakatan.

“Saya sudah kenyang dapat ancaman pembunuhan, terutama lewat telepon kantor atau handphone. Ironisnya, setelah saya lacak asal-usul teror itu justru berasal dari sejumlah lapas (Lembaga Pemasyarakatan). Di antaranya lapas-lapas di Nusakambangan, di Cipinang, di Medan, dan daerah lain,” kata Benny seperti dikutip dari laman ‘tribunnews’.

Menurutnya, ancaman dihabisi nyawa tidak melulu kepada dirinya. Keluarga, termasuk istri juga mendapat teror pembunuhan. “Istri saya pernah menangis histeris karena diancam dibunuh. Pengancam bilang ke istri saya supaya saya berhenti menangkap bandar-bandar narkoba, jika tidak maka istri saya akan dihabisi,” kata Benny.

Dia menyebut, ada tiga tahap teror yang berasal dari para pemain narkotika. Tahap pertama, adalah iming-iming suap dengan jumlah kakap. Tahap kedua, berupa ancaman pembunuhan. Dan tahap ketiga berupa pembunuhan karakter, baik melalui media massa maupun langsung melalui atasan.

“Jika atasan kita percaya atas isu yang dihembuskan oleh oknum-oknum tertentu, maka saya selesai dalam karier dan dipindahtugaskan. Saya tidak pernah menerima uang atas segala sesuatu terkait narkoba, jadi kenapa saya mesti takut? Ketiga ancaman itu sudah pernah saya lalui semua,” kata pria yang pernah menjuarai lomba menembak antarangkatan AKABRI angkatan 1977 itu.

Benny Mamoto

Benny merupakan alumnus Fakultas Hukum Universitas Krisnadwipayana, dengan gelar sarjana pada 1992. Sebelumnya dia sudah sudah menempa diri di AKABRI Kepolisian pada 1977. Setelah lulus dari Universitas Krisnadwipayana dia kemudian melanjutkan studinya di Universitas Indonesia (UI), mengambil program S2 dalam bidang Kajian Ilmu Kepolisian dan berhasil lulus pada 2002. Benny resmi mendapatkan gelar doktor di bidang yang sama dari UI pada 2008.

Bagi Benny, penanggulangan masalah Narkoba yang banyak banyak ditanganinya adalah di daerah Aceh dan Mandailing Natal. Di kedua daerah itu memerlukan strategi khusus agar mampu dibasmi secara tuntas dan menyeluruh. Dia menyebutnya sebagai totalitas, seperti halnya dalam sepak bola ia mengenal istilah total football, sebuah gaya permainan sepak bola menyerang dan agresif.

Menurutnya, kombinasi antara determinasi, kesigapan, dan kerjasama berbagai pihak diharapkan dapat memberantas maraknya kasus Narkoba di Aceh, dan Indonesia secara umum. Aceh memang dikenal sebagai lahan ganja yang sangat subur, sehingga langkah konkret yang akan dilakukan Benny adalah menutup lahan-lahan penanaman ganja tersebut dengan mengejar pihak yang terkait sampai ke akar-akarnya.

Dalam bertugas, Benny mendapatkan berbagai penghargaan seperti Satya Lencana Kesetiaan, Bintang Bhayangkara Nararya, sebagainya sebagai bukti kapabilitas dan loyalitas yang dimilikinya. Namun tak hanya prestasi di bidang kepolisian saja, Benny juga turut andil dalam pemecahan rekor MURI sebagai pemrakarsa kegiatan pawai salib dalam peringatan hari Paskah oleh masyarakat Minahasa Utara (Minut) pada April 2012.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Related Post

Nanan: VW Tanamkan Nilai Kebersamaan, Kekeluargaan dan Persaudaraan

Tengokberita.com – Mengusung tema ‘Harmony in Diversity’ Jambore Nasional Volkswagen Indonesia ke 48 sudah digelar ...

Benny Mamoto Punya Sejuta Cara Untuk Menyelinap

Tengok Berita red Berita Hari ini: 3 min
0