Berkaca pada Kasus Deepwater Horizon, Bagaimana Penanggulangan Pencemaran Minyak di Teluk Balikpapan ?

599
Pencemaran minyak mentah di Teluk Balikpapan

Ekonomi, Tengokberita.com – Pencemaran minyak di laut merupakan bencana lingkungan paling mengerikan. Dampak yang ditimbulkannya terhadap lingkungan sungguh luar biasa. Bahan-bahan berbahaya yang terkandung dalam minyak mentah (crude oil) mampu membunuh ratusan ribu ekor burung dalam sekejap, merusak dan menghancurkan ekosistem laut, menghancurkan ratusan hektar hutan mangrove, mematikan usaha para nelayan dan pembudidaya ikan selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun, dan masih banyak lagi.

Bagi perusahaan minyak dan gas bumi (migas) itu sendiri, minyak mentah miliknya yang tumpah di laut dan mengakibatkan bencana lingkungan, mengancam keberlangsungan bisnis. Bahkan sangat berpotensi membuat perusahaannya gulung tikar.

Hal ini nyaris dialami British Petroleum (BP), perusahaan minyak asal Inggris terkemuka di dunia. Kasus Deepwater Horizon di Teluk Meksiko yang terjadi pada 20 April 2010, membuat kondisi perusahaan BP, limbung bukan kepalang.

(baca: Nyawa Melayang, Penyakit Menghadang, Pendapatan Nelayan Rp11 Miliar/Hari Hilang)

BP harus mengeluarkan biaya sekitar 90 miliar dolar AS atau lebih dari Rp1.100 trilun, untuk menyelesaikan kasus tumpahan minyak miliknya setelah rig atau anjungan pengeboran lepas pantai miliknya, Deepwater Horizon di Teluk Meksiko meledak dan membakarnya. Rig yang dioperasikan Transocean, mitra bisnis BP itu, tenggelam setelah dua hari terbakar.

Selain menewaskan 11 pekerjanya dan menciderai 170 karyawan lainnya, ledakan pengeboran lepas pantai Deepwater Horizon itu juga menyebabkan minyak mentah mengalir deras dari perut bumi dan mencemari laut dan kawasan pantai di sekitar Teluk Meksiko. Minyak mentah itu terus mengalir deras selama 87 hari dan menumpahkan 4,9 juta barel atau 778.610.000 liter (1 barel = 158,9 liter).

Berdasarkan citra satelit, minyak mentah sebanyak lebih dari 778 juta liter itu telah mencemari kawasan seluas 180.000 km2. Butuh waktu empat tahun bagi BP untuk membersihkan seluruh tumpahan minyak yang telah mencemari laut di kawasan Teluk Meksiko. BP juga harus menghadapi gugatan hukum di pengadilan selama bertahun-tahun.

Di Indonesia, penanganan dan penyelesaian kasus tumpahan minyak yang selama ini banyak terjadi, tak seterbuka di luar negeri seperti kasus Deepwater Horizon. Alhasil informasi mengenai aneka kasus tumpahan minyak di Indonesia yang sudah terjadi sejak tahun 1972, begitu minim.

Hanya saja berdasarkan data dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) selama kurun waktu 1975 – 2016, pihaknya mencatat ada 14 kasus tumpahan minyak besar yang terjadi di Indonesia. Kasus tumpahan minyak terbesar di Indonesia yang dicatat Kementerian ESDM adalah kasus tumpahan minyak mentah yang terjadi di perairan Indramayu, Jawa Barat pada 14 September 2008.

Saat melakukan bongkar muat minyak mentah dari kapal tangker MT Arendal untuk ditransfer ke terminal Single Bouy Moaring (SBM) milik Pertamina Refinery Unit (RU) Balongan, tiba-tiba floating house (pipa) kapal MT Arendal pecah (blow out). Minyak mentah pun langsung menyembur deras mencemari perairan Indramayu.

Tak ada data pasti, berapa volume minyak mentah yang tumpah. Ada yang menyebut 150 DWT, 150 ribu liter, dan 1,5 juta liter. Kementerian ESDM sendiri mencatat volume minyak mentah yang tumpah itu sebanyak 150 ribu ton dan disebut sebagai kasus tumpahan minyak terbesar di Indonesia. Tumpahan minyak mentah itu mencemari laut sejauh 38 kilometer dan mengakibatkan kerusakan tambak udang dan laut seluas ratusan hektar yang terdapat di 17 desa di 4 kecamatan di Indramayu.

Butuh waktu lima tahun bagi Pertamina RU VI Balongan untuk memulihkan kondisi lingkungan yang terdampak cemaran minyak, ke kondisi semula. Wapres Jusuf Kalla menyebut, Pertamina menghabiskan dana sebesar 282 juta Euro atau sekitar Rp4,716 triliun (kurs 16.725).

Jika Pertamina RU VI Balongan menghabiskan anggaran senilai Rp4,716 triliun, lalu berapakah anggaran yang akan dikeluarkan Pertamina RU V Balikpapan atas kasus tumpahan minyak di Teluk Balikpapan yang terjadi 31 Maret 2018? Jika dilihat dari luasan area terpapar minyak yang mencapai 120 km2 dan kawasan pantai sepanjang 60 km, anggaran yang dikeluarkan Pertamina RU V Balikpapan, tentu akan jauh lebih besar dari angka Rp4,716 triliun di Indramayu.

Soal besaran kerugian yang dialami RU V Balikpapan, memang tidak bisa dihitung secara cepat. Pertamina hingga kini masih menunggu data kerugian yang tengah dihitung Kementerian Lingkungan Hidup dan Lingkungan (KLHK) selaku instasi pemerintah yang paling berwenang dalam persoalan lingkungan.

Sesuai Pasal 11 Peraturan Presiden (Perpres) No 109 Tahun 2006 tentang Penanggulangan Keadaan Darurat Tumpahan Minyak di Laut, biaya-biaya yang harus ditanggung Pertamina RU V Balikpapan dalam kasus tumpahan minyak di Teluk Balikpapan itu meliputi: biaya penanggulangan tumpahan minyak, biaya penanggulangan dampak lingkungan, biaya kerugian yang diderita masyarakat, dan biaya (pemulihan) kerusakan lingkungan. Juga biaya duka terhadap lima warga setempat yang meninggal dalam kasus tumpahan minyak tersebut.

Ganti kerugian itu merupakan tanggung jawab mutlak (strict liability) yang harus dilakukan Pertamina sebagaimana diatur dalam Pasal 88 UU No 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Tanggung jawab mutlak merupakan ganti rugi yang harus dibayarkan Pertamina tanpa perlu pembuktian unsur kesalahan. (has)

Bagaimana menurut pembaca?