Bila Pernyataan Menkes tentang Makarel Bercacing Diukur dari Perspektif Netizen

111

Urban, Tengokberita.com -Di era kekinian segala aspek kehidupan yang mengandung gejolak sosial kerap mengundang beragam reaksi dari media sosial dengan netizen sebagai subjeknya. Begitupun ketika muncul kasus Ikan Makarel bercacing, tak ayal, lini media sosial ramai dengan komentar para warganya.

McGraw Hill Dictionary menyebutkan bahwa Media sosial adalah sarana yang digunakan oleh orang-orang untuk berinteraksi satu sama lain dengan cara menciptakan, berbagi, serta bertukar informasi dan gagasan dalam sebuah jaringan dan komunitas virtual.

Maka ketika kasus ditemukannnya cacing pada tubuh ikan makarel dalam kemasan kaleng menyeruak ke permukaan, tak lama warganet atau netizen juga heboh. Mereka langsung berinteraksi satu sama lain dengan menciptakan sudut pandang dan pemikiran sendiri-sendiri. Mulai dari yang berkomentar serius dengan fakta-fakta lapangan sampai yang bercanda dengan memunculkan meme-meme lucu semua terekspresikan dalam media sosial terutama twitter. Mereka merekam isu cacing dalam makarel dan kemudian mendistribusikan ulang dengan cara pandang mereka sendiri. Inilah yang oleh P.N. Howard dan M.R Parks (2012) disebut juga sebagai produk budaya digital.

Netizen menangkap informasi soal makanan kaleng bercacing dan kemudian diproduksi ulang sesuai kapasitas dan pemahaman mereka soal informasi tersebut.
Informasi baru itu bisa berupa pesan-pesan pribadi, berita, gagasan, dan produk-produk budaya yang berbentuk digital.

Maka tak heran, bila kasus ini menimbulkan beragam komentar dan pandangan dari warga Netizen. Ada yang langsung enggan mengonsumi makarel karena ‘jijik’ dengan temuan cacing itu, tapi banyak juga yang bersikap santai dengan temuan tersebut. Beberapa yang lain menanggapinya dengan nada bercanda terutama saat Menteri Kesehatan mengatakan bahwa kandungan cacing yang terdapat di Makarel itu mengandung protein.

Seorang Netizen bernama M Khumaini malah membalas pernyataan Ibu Menteri itu bahwa “Tai Ayam” juga mengandung protein. Tak hanya itu, akun @mkhumaini juga menggambar cacing, dimana dipojok kiri atas ditulis Kripik Pedas Menkes:CACING itu sebenarnya isinya PROTEIN. Cuitan ini pun direspon netizen lain dan menyebutkan bahwa “cebong jg mengandung protein looohh” kata @Auryn071. Bahkan, akun @Suryapr37700870 meminta Menteri Kesehatan Nila F Moeloek untuk membuktikan ucapannya dengan cara memakan cacing yang disebutnya mengandung protein itu.

Dia lantas mengunggah foto Menkes dan menuliskan di bawah wajahnya ” Gerakan Tuntut Menteri Kesehatan Untuk Makan Cacing Berprotein” “Ayooo kita tuntut menteri kesehatan ini untuk makan semua sarden yang mengandung cacing”. Akun @logic_editor mengatakan bahwa produsen sudah melakukan pelanggaran karena di kalengnya tidak ada komposisi cacing, namun kenapa justru muncul cacing. “Logikanya simpel: di komposisinya ada tertulis cacing ngga? Kalo g ada, ya mau cacing, mau upil, mau emas, mau sertifikat tanah, itu adalah hal2 yg tdk boleh ada di dalam sarden,” tulisnya.

Sedangkan akun @langitbiruvi mempertanyakan apakah masih bernama parasit saat sudah masuk dalam tubuh manusia “cacing tersebut brgkali memang scara alami parasit tumbuh hidup ditubuh ikan, makarel yg pada kasus ini produk impor..tapi kalo udah mati apa ya masih parasit jika di konsumsi manusia?” ujar dia.
Akun @eko_kuntadhi menanggapi masalah cacing makarel dengan berpantun “Mancing ikan umpannya cacing, ikannya digoreng. Kemasan ikan makarel ada cacingnya, malah isunya yang digoreng.”

Hingga kini, beragam pandangan dan komentar dari netizen terus mengalir. Kita tidak tahu kapan komentar dan pandangan itu akan berakhir. Namun, tetap ada rentang waktunya. Seperti kata Charles H. Cooley, hubungan antar manusia berada dan berkembang atas dasar simbol-simbol dalam pikiran, bersamaan dengan makna penyampaiannya melalui ruang dan bertahan dalam waktu. (rot)

Bagaimana menurut pembaca?