Cara Pandang Makanan Bisa Picu Konflik Sosial

205

Jakarta, Tengokberita.com- Provinsi DKI Jakarta dinilai mempunyai banyak hotspot konflik sosial sebagai dampak dari berbagai permasalahan masa lalu yang tidak pernah dipecahkan terutama ketidakadilan dan ketidakmerataan pembangunan ekonomi. Semua hotspot konflik sosial itu harus diwaspadai karena setiap saat bisa meledak karena timbulnya persoalan sosial.

Salah satu dari sekian banyak potensi konflik adalah makanan dan cara pandang memandang makanan orang lain,” ujar Drs Taufan Bakri , M.Si, Kabid Ketahanan ekonomi , Seni budaya, Agama dan Masyarakat, Kesbangpol DKI Jakarta pada acara pembukaan Peningkatan Kerukunan beragama, Kesbangpol DKI Jakarta belum lama berselang.

Untuk mencegah konflik sosial itu maka pencegahannya harus menemukan akar masalah yang menjadi penyebab terjadinya konflik. “Cara mencegah konflik, pembangunan dalam tataran kebijakan dan operasional, harus semakin menghadirkan sila kedua dari Pancasila yaitu Kemanusiaan yang adil dan beradab dan sila kelima dari Pancasila, yaitu Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.” kata dia.

Sementara itu, menurut Taufan, berdasarkan Data kesbangpol Pemprov DKI jakarta, penduduk Jakarta yang diperkirakan berjumlah 12 juta orang itu menghabiskan konsumsi beras sebesar 2.500 ton/ hari dan ayam potong 500.000 ribu ayam potong /hari.

Jika kurang dari jumlah itu, kata dia, Pemprov tidak dapat menjamin ketersediaannya sehingga bisa menjadi sumber potensi konflik.

Sedangkan jumlah etnis sesuai statisik Kesbangpol DKI Jakarta, etnis Tionghoa mencapai 600.000 ribu lebih , berada di urutan ke 4 , setelah pertama etnis Jawa , kedua Betawi dan ketiga etnis Sunda .

Selain itu, karena jumlah keyakinan atau agama beragam, maka pemerintah provinsi juga menyiapkan pengaturan dan regulasi tentang penyediaan daging babi untuk konsumsi warga DKI Jakarta yang non Muslim.

Pemprov DKI juga harus bisa menyediakan rumah potong hewan (RPH), yang bisa memotong hewan secara Syariat Islam terutama untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Muslim yang tinggal di Ibukota DKI Jakarta. (jar/rot)

Bagaimana menurut pembaca?