‘I Corrrupt All Cops’ & ‘Chasing The Dragon,’ Film Pemberantasan Korupsi di Hong Kong

1090

Entertaiment, Tengokberita.com – Hong Kong pernah mengalami masa ketika korupsi dan pungutan sangat marak di semua sektor. Penyakit korup ini melanda hampir di semua lini. Warga Hong Kong sangat familiar dengan istilah ‘mo chin mo sui’ (tidak ada uang tidak ada air).

Istilah ini sering dilekatkan pada petugas pemadam kebakaran yang baru bertindak kalau hitung-hitungan uangnya selesai. Selama 1962 sampai 1972, Hongkong kehilangan sekitar 10 miliar dolar Hong Kong akibat korupsi.

Di balkon gedung itu, gerombolan bromocorah menggebuki korban dan menjatuhkannya hingga tewas. Seorang nenek menyaksikan peristiwa mengerikan itu lalu meniup peluit. Dua polisi muda datang mendengar jeritan peluit. Para preman pun menghampirinya tanpa rasa takut.

Apa yang terjadi? Polisi malah meminta si nenek diam, seakan tak menyaksikan peristiwa berdarah itu. “Ini bukan urusan kamu, Nek,” kata polisi itu. Si nenek pun malas melapor ke kantor polisi karena dua polisi itu mengatakan akan memakan waktu 48 sampai 72 jam.

Sementara itu, kelompok preman sibuk menghilangkan barang bukti dengan menyingkirkan mayat. Rupanya, sang polisi sudah dapat amplop biaya koordinasi dari para preman.

Cuplikan pembuka film I Corrupt All Cops (2009) seakan mewakili potret Hong Kong sebagai negara korup pada periode sebelum 1973, ketika wilayah itu masih dalam koloni Inggris. Dalam Film tersebut diceritakan zaman kegelapan ketika korupsi dan penyuapan adalah tatanan hari itu.

Inspektur Kepala Polisi Hongkong Lak (Tony Leung Ka-fai) bersama gengnya, Unicorn (Anthony Wong), Gale (Eason Chan) dan Gold (Wong Jing) mencuci uang dalam jumlah besar sehingga membuat Hong Kong menjadi kerajaan korupsi.

(Baca: Ade Irfan Pulungan: KPK Tebang Pilih dan Penuh Pencitraan)

Pada awal 1970-an, Gubernur Hong Kong memutuskan untuk membersihkan kepolisian. ICAC (Independent Commission Against Corruption/KPK di Indonesia) didirikan, yang cabang operasinya dipimpin oleh Yim (Bowie Lam). Meskipun ada ancaman kekerasan dan intimidasi dengan dukungan penuh dari Kerajaan Inggris, Hong Kong bebas dari korupsi.

Film kedua Chasing the Dragon 2017. Film ini lebih berkisah kolaborasi gengster dan polisi sejak awal. Pencapaian Crippled Ho adalah sejarah kolaborasi dengan seorang petinggi kepolisian bernama Liu Lockalias Lee Rock (Andy Lau) yang korup.

Keberhasilan keduanya menjadi penguasa hitam bisnis narkotik juga dimungkinkan oleh bobroknya hukum dan korupsi oleh penegak hukum yang kebetulan saat Hong Kong masih berada dalam kendali kolonialisme Inggris. Pejabat-pejabat Inggris juga digambarkan turut sebagai petinggi yang ikut berburu untung dan pelanggengan pengaruh.

Maraknya korupsi dan kriminalisasi di kalangan penegak hukum, khususnya kepolisian Hong Kong, membuat otoritas Kerajaan Inggris mendirikan ICAC. Kehadiran ICAC mulanya dianggap “angin lalu” oknum polisi kelas kakap yang selama ini bermain mata dengan Triad Hong Kong.

Akan tetapi, kehadiran ICAC ternyata ampuh memberangus semua tindak pidana korupsi dan kriminalisasi di sana. Lee Rock pensiun dini, dan melarikan diri ke Kanada. Hong Kong akhirnya melewati masa kegelapan.

Transparency International sekarang menempatkan Hong Kong di urutan 12 sebagai negara paling bersih dari korupsi–bandingkan dengan Indonesia yang menempati urutan 100. ICAC pun menjadi model komisi pemberantasan korupsi di negara lain, termasuk Indonesia. (jar)

Bagaimana menurut pembaca?