Darimana Datangnya Cacing pada Ikan Kaleng Makarel? Produsen Pun Bingung

53

Science, Tengokberita.com – Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) RI sudah menyatakan 27 dari 66 merek produk ikan makarel yang beredar di pasar Indonesia, positif terpapar cacing. Lalu, darimana dan bagaimana cacing itu bisa berada di dalam kemasan kaleng ikan Makarel?

Dr Meutia Ismet, pakar mikrobiologi laut menegaskan bahwa cacing atau mikroba apapun tidak mungkin hidup apabila proses pengolahan dan pengemasan ikan dalam kaleng sudah sesuai standar.

Standar dimaksud adalah serangkaian panjang proses industri pengolahan dan pengalengan ikan. Mulai dari pengadaan bahan baku, proses produksi, precooking, sterilisasi, pelabelan, hingga distribusi.

(baca: Sudah Melalui Proses Produksi Sangat Ketat, Kenapa Bisa Terpapar Cacing?)

Setiap tahapan dalam proses industri pengolahan dan pengalengan ikan, sebagaimana dijelaskan Jones B Simbolon, Manajer HRD PT Maya Food Industries, sudah melalui proses dengan standarisasi mutu yang tinggi.

Maya Food Industries sendiri, kata Jones, sudah mengantongi ISO 22000 tentang Keamanan Pangan dari SGS, SNI, HACCP (Hazaard Analysis & Critical Control Point).

Lewat serangkaian proses sangat ketat yang dilakukan perusahaannya, kata Jones, tidak dimungkinkan mikroba apalagi cacing bisa berada di dalam kemasan kaleng ikan yang diproduksi Maya Food Industries.

Tetapi fakta di lapangan menunjukkan sebaliknya. BPOM sudah menyatakan bahwa dua produk kami, Botan dan Ranesa, positif terpapar cacing. Kami mau bilang apa,” kata Jones.

Pihak Maya Food Industries langsung melakukan pengecekan dan pengujian yang sama begitu BBPOM mengumumkan dua produknya terkontaminasi cacing di pabrik mereka di Pekalongan, Jawa Tengah. Disaksikan sejumlah pihak, kata Jones, pihaknya melakukan pengecekan dan pengujian terhadap produk-produk yang memiliki batch yang sama dengan yang diuji BBPOM yaitu produk dari retort 7 batch ketiga.

Hasilnya, nihil. Pihaknya tidak menemukan cacing di sejumlah kaleng ikan yang dibukanya. Padahal, berasal dari batch yang sama dengan yang diuji BBPOM.

Jika ahli mikrobiologi laut menyatakan cacing tidak mungkin hidup jika proses pengolahan dan pengemasan sudah melalui standar plus proses pengolahan dan pengemasan memang sudah dilakukan lewat serangkaian proses ketat dan mengacu pada standar mutu yang berlaku, lalu dari mana datangnya cacing?

Kami juga bingung. Seluruh isi perut ikan sudah kami buang. Dari daging ikan? Kemungkinannya nol koma nol nol sekian persen,” kata Jones.

Untuk sementara, pihaknya menyimpulkan bahwa cacing yang berada di produknya, berasal dari daging ikan. Tetapi lewat pengujian yang dilakukan pihaknya, tidak semua produk Maya Food Industries terkontaminasi cacing.

Saya mengibaratkannya seperti manusia yang memiliki ketahanan tubuh berbeda-beda. Begitu pula dengan ikan,” ujarnya.

Pastinya, kata Jones, atas kasus ini pihaknya menderita kerugian yang tidak sedikit. Proses produksi ikan makarel di perusahaannya kini terhenti hingga batas waktu yang tidak ditentukan. Imbasnya, banyak karyawannya yang juga terpaksa berhenti.

Meski mengalami kerugian yang tidak sedikit, pihaknya tidak akan melakukan langkah hukum apapun terhadap BBPOM. “Kami tunduk sepenuhnya pada peraturan yang ada dan kami serahkan kepada asosiasi (APIKI, red),” katanya pasrah. (has)

Bagaimana menurut pembaca?