Diserang Novanto, Ini Hantaman Balik Pramono

48

Jakarta, Tengokberita.com-Terdakwa kasus korupsi Karta Tanda Penduduk (KTP) elektronik Setya Novanto menyebut ada uang hasil korupsi yang mengalir kepada dua politisi PDI Perjuangan, yakni Puan Maharani dan Pramono Anung.

Tak ayal pengakuan Setya Novanto itu ditanggapi serius Sekretaris Kabinet Pramono Anung. Politisi PDIP ini mengatakan Setya Novanto berbohong dalam persidangan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi yang digelar Kamis (22/3/2018). Bahkan, Novanto dianggap menyembunyikan sesuati mengenai peristiwa di Solo beberapa waktu lalu.

Seperti diketahui Setnov dalam sidang hari ini mengatakan pernah mengonfirmasi penerimaan uang e-KTP sebesar 500 ribu dollar Amerika kepada Pramono Anung dalam suatu acara di Solo. Sebaliknya, Pramono Anung menyatakan hal yang berbeda. Justru Setnov lah yang malah meminta tolong terkait izin pemeriksaan.

“Pak Nov yang minta tolong ketika mengirim surat supaya pemeriksaan dapat izin presiden. Saya tidak jawab,” ujar Pramono Anung di Kompleks Istana Kepresidenan, Kamis (22/3/2018).

Menurut Pramono, setelah pertemuan di Solo tersebut, surat permintaan izin itu tidak pernah sampai kepada dirinya atau pun kepada Presiden Jokowi.

Pramono menilai pernyataan-pernyataan Setya Novanto dalam persidangan proyek KTP elektronik yang mengungkapkan sejumlah nama agar mantan Ketua DPR itu bisa menjadi justice collaborator (JC).

“Ini untuk mendapatkan JC. Menyebut nama-nama,” ujar Pramono.

Setnov dalam sidang hari ini tak hanya menyeret nama Pramono, ia juga menyebut Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo disebut turut menikmati uang proyek KTP-E.

Politikus lain yang disebut Setnov ialah mantan pimpinan Badan Anggaran (Banggar) DPR Melchias Mekeng, politikus PKS Tamsil Linrung, dan Gubernur Sulawesi Utara Olly Dondokambey.

Pengakuan Setya Novanto soal aliran dana ke beberapa nama penting elit politik dan bantahan Pramono Anung adalah sebuah Perang Urat Saraf (Psy War) yakni suatu proses komunikasi saling melakukan kegiatan propaganda antara seorang figur politik dengan figur politik lain, antara suatu kelompok dengan kelompok lain, dan antara suatu negara dengan negara lain, dengan tujuan untuk saling menekan dan menjatuhkan nama orang atau kelompok atau negara lain tersebut.

Onong Uchjana Effendi dalam buku Ilmu Komunikasi, Teori Dan Praktek, mengutip dan menterjemahkan pendapat William E. Daugherty dan Morris Janowitz dari buku yang diterbitkan Departemen of Army USA berjudul A Psychological Warface Casebook, menyatakan bahwa perang urat saraf dapat didefinisikan sebagai “Penggunaan secara berencana propaganda dan kegiatan-kegiatan lainnya yang dirancangkan untuk mempengaruhi pendapat, emosi, sikap, dan perilaku pihak musuh, pihak netral, pihak kelompok asing yang bersahabat dalam rangka mendukung pencapaian sasaran dan tujuan nasional).

Setya Novanto membuka nama-nama itu dalam rangka ingin menjadi justice collaborator (JC). Sebaliknya, Pramono Anung juga tak mau ditekan dengan cara-cara semacam itu sehingga dia juga membuka apa sebenarnya yang terjadi dalam pertemuan di Solo tersebut.

Setya Novanto juga menggunakan perang urat syarat jenis pertama yakni berusaha untuk menjatuhkan lawan dengan cara membesar-besarkan kekuatan yang dimilikinya dibarengi dengan mengintimadasi lawan agar mental lawan menjadi jatuh. Dengan strategi ini, pihak pengintimadasi cenderung melakukan ‘bluffing’ dimana mereka menggertak lawan dengan membuat distorsi fakta yang ada, lalu membangun suatu persepsi mengenai kekuatan yang dimilki untuk menipu lawan-lawannya. (rot)

Bagaimana menurut pembaca?