“Dor…Saya Pungut Megazine, Ternyata Peluru Asli. Saya Panik…”

61
Almarhum Fernando saat menjadi pengawal pribadi Prabowo Soebianto

Jakarta, Tengokberita.com – Kasus kericuhan di sebuah tempat parkir di Bogor yang berakhir dengan tewasnya kader Partai Gerindra bernama Fernando Alan Joshua Wowor, kini riuh diperbincangkan para netizen.

Menurut rekan korban yang sekaligus menjadi saksi mata, Rio Andika Putra Perdana, kasus ini bermula ketika dia dan rekan-rekannya, termasuk korban Fernando, yang tengah berada dalam satu mobil, hendak makan di sebuah restoran siap saji di Bogor.

(baca: Kader Mati Ditembak, DPP Gerindra Pertanyakan SOP Senjata di Polri)

Hanya gara-gara akan parkir, kericuhan dengan Briptu R, anggota Brimob Kelapa Dua, Depok, terjadi. Dan dor…..tiba-tiba pistol yang dipegang Briptu R menyalak. Fernando pun ambruk seketika dalam kondisi bersimbah darah dan mengembuskan napas terakhir tak lama kemudian.

Almarhum Fernando Alan Joshua Wowor

Berikut kronologi peristiwa penembakan oleh Briptu R yang berakhir dengan tewasnya mantan pengawal pribadi Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo, menurut Rio.

1. Malam itu jam 02.00 kita mau makan ke Dunkin Donuts.

2. Saat perjalanan menuju Dunkin, parkiran pas di samping Dunkin terlihat penuh. Kemudian diarahkan oleh tukang parkir Lips untuk parkir di depan ruko-ruko kebetulan ada kosong satu, kata si tukang parkir.

3. Saat mobil belok, baru kepalanya masuk, mobil dihadang oleh satu orang laki-laki muda berkendaraan motor gedhe merek BMW warna abu-abu. Dia mainkan gas motornya seakan sedang acara konvoi. Setelah itu, dia teriak-teriak sambil ngomong, “Motor ini harganya sama dengan mobil itu. Kamu yang mundur atau aku yang mundur?”.

4. Teman saya Arif turun memberikan pengertian, sambil menyarankan agar mengambil sebelah kiri mobil, karena jalan lebar. Tiba-tiba dia malah makin naik pitam, teriak-teriak, sambil marah-marah sambil mencabut pistol, dan mengokang senjata yang moncongnya diarahkan ke kaca depan mobil kami.

5. Saya pun turun, karena kondisi yang tidak kondusif saya berusaha mendinginkan dan melerai. Tapi bukannya makin dingin, malah semakin menjadi. Kemudian, pistol itu diarahkan ke kepala Arif, saya pegang tangannya saya berusaha kasih pengertian lagi, sambil mengatakan, “Jangan gitu mas.”

6. Dia makin marah, moncong pistolnya digetok-getokin ke kepala Arif. Saya yang khawatir, spontan meraih senjata guna menghindari hal berbahaya itu, tetapu bebarengan dengan lepasnya pandangan dia ke saya, dan arief karena dia melihat almarhum turun dari mobil.

7. Di situlah kesempatan saya untuk self defend, berusaha merebut pistol dengan bantuan almarhum yang memiting leher pelaku sampai jatuh dari motor gedenya.

8. Mulai lah rusuh, di saat alotnya saya merebut pistol itu. Saat itu warga sekitar ikut mukulin pembawa pistol ini dan suasana udah tidak jelas kacau.

9. Tiba-tiba, di saat saya fokus, ada orang tarik muka saya dari belakang sekaligus mencakar pipi saya. Akhirnya lepas lah saya dari usaha merebut pistol tadi dengan spontan saya balik badan.

10. Tiba-tiba “DOR” kawan saya Fernando Wowor tumbang. Saya kaget, lalu saya tangkap lagi pistol si pelaku dengan agak memaksa ibu jarinya tekan tombol pelepas magazine. Jatuhlah magazine ke tanah.

11. Pistolnya berhasil saya ambil, posisi di situ, si penembak digebukin oleh banyak orang lain, entah siapa, saya tidak peduli.

12. Saya pungut magazine itu ternyata, peluru asli. Saya panik dan teriak-teriak minta pertolongan untuk mengangkat almarhum ke mobil dan dibawa ke RS Vania.

13. Saya angkat jasad almarhum dengan beberapa rekan kita, kemudian masukkan ke mobil menuju RS Vania. (has)

Bagaimana menurut pembaca?