Dramatisasi ‘Kepalsuan’ Bocah Suriah Pelintas Gurun

123

Jakarta, Tengokberita.com-Gambar anak laki-laki Suriah melintas padang pasir seorang diri kembali viral. Sesaat foto itu menuai simpati dari sejumah netizen. Sebagian dari mereka merasa iba dengan bocah yang terlihat menenteng tas bawaannya dengan terengah-engah di tengah tandusnya situasi padang pasir.
Dua orang laki-laki staf UNHCR mendekati  bocah itu  seperti akan menanyakan sesuatu.

Ia terlihat memakai sweater dan jaket serta celana panjang berwarna gelap. Pakaian berlapis itu untuk melindungi tubuhnya dari suhu padang pasir yang merosot tajam saat matahari tenggelam. Apalagi dalam gambar itu ada caption ” Ini Marwan, bocah 4 tahun yang terpisah sementara dari keluarganya”.

Gambar itu kembali di-retweet ke publik yang lebih luas oleh seorang jurnalis CNN International dengan caption “Staf PBB menemukan Marwan yang berusia 4 tahun melintasi padang pasir sendirian setelah terpisah dari keluarga yang melarikan diri #Syria”.

Karena itulah, tak heran jika gambar itupun viral dan menimbulkan simpati dari para netizen.

Sayangnya, gambar tak menggambarkan kondisi yang sebenarnya. Sebab, faktanya, Marwan, demikian UNHCR memberikan nama kepada anak laki-itu (untuk melindungi identitasnya) yang difoto di wilayah Hagallat daerah perbatasan antara Suriah dan Yordania, tak sendirian. Dia berjalan bersama ratusan warga Suriah yang memang sedang mengungsi.

Dia terpisah, dia tidak sendiri,” kata Andrew Harper, kepala badan pengungsi UNHCR di Yordania seperti dilansir the guardian.
Harper yang pertama mengambil mengatakan bahwa bocah itu telah bertemu kembali dengan ibunya sekitar 10 menit kemudian.

Gambar tentang Marwan itu sebenarnya sudah terjadi pada 2014 lalu dan kini kembali dilempar ke publik dengan harapan publik percaya bahwa itu adalah sebuah kebenaran.

Pengulangan membuat sesuatu menjadi nyata. Adolf Hitler menulis dalam otobiografinya bahwa jika kebohongan diulangi secara terus-menerus, maka pikiran manusia akan mempercayainya. Kebohongan pun diterimanya sebagai kebenaran. Pengulangan adalah metode hypnosis. Apa yang diulangi secara terus-menerus itu akan terukir pada diri manusia. Inilah yang menyebabkan ilusi dalam hidup.

Hitler percaya kepalsuan yang diulangi secara terus-menerus diterima sebagai kebenaran. Manusia bisa mempercayai apa saja. Ia bisa percaya pada kepalsuan. Ia bisa dibohongi dengan sangat mudah. Ia dapat mempercayai apa saja yang diulangi secara terus-menerus. Tapi, itu akan terjadi jika satu arah.

Saat media sosial berkembang pesat seperti saat sekarang, maka pengulangan dari sebuah kepalsuan akan cepat terdeteksi. Sama seperti kasus Marwan. Begitu kepalsuan itu beredar, maka tak seberapa lama fakta sebenarnya juga muncul ke permukaan.
Marwan tak sendiri. Bocah itu hanya berada 20 langkah di belakang keluarg besarnya dan ratusan warga Suriah yang juga sedang mengungsi.(rot)

Bagaimana menurut pembaca?