Eddy: Kesimpulan Partai (PDIP), Citra Karolin Bagus

56
EDDY KUSUMA WIJAYA

Jakarta, Tengokberita.com – Dugaan kasus pornografi yang sempat membelit Karolin Margret Natasha, tak menyurutkan langkah PDIP untuk mengusung kadernya itu maju di Pilkada Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar) pada 2018 ini. PDIP sudah resmi mengusung Karolin untuk berlaga di ajang Pilkada Provinsi Kalbar tahun 2018.

Menanggapi hal ini, anggota Komisi III DPR RI dari Fraksi PDIP Eddy Kusuma Wijaya mengatakan bahwa pengajuan nama Karolin sudah dilakukan secara matang oleh partainya.

Kesimpulan partai bahwa dia (Karolin) itu cukup bagus, generasi muda, bahwa dia di sana (Kalimantan Barat, red) suaranya waktu jadi caleg besar sekali, waktu dia jadi bupati (Kabupaten Landak, Kalbar) juga suaranya besar sekali, kalau tidak salah 80 persen. Masyarakat di sana senang sama dia (Karolin),” ujar anggota Komisi III Eddy Kusuma Wijaya di Komplek Parlemen, Rabu (10/1/2018).

(baca: Ditanya Soal Karolin, Aria Bima Naik Pitam)

Meski demikian, Eddy mengaku hanya kenal sepintas cagub wanita tersebut dan tidak tahu tentang masalah yang pernah membelit Karolin. Eddy berdalih, selain tidak pernah berada satu komisi, juga disebabkan perbedaan periode ketika menjadi anggota DPR.

Aku sih gak begitu paham, karena itu bukan wilayah dapil saya dan saya juga gak pernah satu komisi. Saya gak tahu kasusnya, saya belum sampai sini (menjadi DPR),” kata mantan Kadit Serse Polda Bali tersebut.

Eddy hanya melihat, bahwa dari besarnya perolehan suara yang didulang Karolin dalam Pilkada Kabupaten Landak pada 2016 lalu menunjukkan bahwa putri dari Cornelis, Gubernur Kalbar dua periode, itu memiliki citra yang baik.

Berdasarkan pengamatan Eddy, jika dilihat dari besarnya perolehan suara yang diterima oleh Karolin sebelum-sebelumnya menunjukkan bahwa sosok anak Gubernur Kalimantan Barat itu memiliki citra yang baik.

Eddy juga tak mempersoalkan jika dalam suatu wilayah ada anggota keluarga yang menjabat, seperti yang terjadi di Kalimantan Barat. Ayah kandung Karolin, Cornelis sudah dua periode menjabat sebagai Gubernur Kalbar sejak 2008. Jabatannya akan berakhir pada 2018 ini.

Di saat Cornelis menjabat Gubernur, Karolin terpilih sebagai Bupati Kabupaten Landak pada 2016. Jika Karolin terpilih, maka ia akan menjadi Gubernur Kalbar menggantikan ayah kandungnya sendiri.

Dulu kita sudah ada undang-undangnya, tapi dianulir oleh MK. Gak ada masalah, kan sudah dicalonkan,” kata Eddy. (nug)

Bagaimana menurut pembaca?