Home » News » Sosok » Eddy Silitonga Dalam Balutan Lagu Pop Sampai Daerah

Eddy Silitonga Dalam Balutan Lagu Pop Sampai Daerah

Jakarta, Tengokberita.com – Sebenarnya, seluruh kerabat Eddy Silitonga sangat lega saat kondisi sang musisi membaik setelah dirawat di RS Fatmawati. Walau sempat diberitakan meninggal dunia pertengahan bulan ini. Namun kondisi yang drop karena jantung dan diabetes yang tidak membaik membuat kerabat harus rela melepas kepergian Eddy Silitonga untuk selama-lamanya, Kamis (25/8/2016) pukul 00.05 WIB.

Sepanjang karir Eddy Silitonga, tak terhitung lagu yang telah dibawakannya. Tembang-tembang legendaris seperti ‘Biarlah Kusendiri’ dan ‘Mama’ adalah beberapa yang sempat mempopulerkan namanya bersama Eddy’s Group dengan iringan Lolipop Band.

Awalnya, Eddy melangkah ke Jakarta akhir tahun 1968. Dia menumpang kapal laut dari Medan. Awalnya dia tidak bermimpi menjadi penyanyi. Dia hanya ingin bersekolah sembari menyambi bekerja. Ada yang menyebut dia pernah jadi kondektur bus kota.

Nasibnya mulai berubah saat berani mengikuti Festival Lagu Populer Tingkat Nasional. Saat itu tahun 1975. Eddy tidak menang. Dia dikalahkan oleh Melky Goeslaw. Tapi dia berhasil merebut hati Rinto Harahap yang waktu itu sudah jadi produser musik.

Rinto yang juga penulis lagu, memberi Eddy sebuah karya berjudul Biarlah Sendiri. Itu ternyata karpet merah Eddy menuju puncak ketenaran. Setahun setelah perlombaan menyanyi itu, siapa tak kenal Eddy. Suaranya ada di mana-mana.

Walau tembang-tembang tersebut membuat namanya melambung, namun pria kelahiran Pematang Siantar, 17 November 1950 ini ternyata tidak lupa untuk mencintai negerinya. Hal ini terlihat dari lagu-lagi daerah yang juga sempat dipopulerkannya.

Uniknya, dia tidak hanya membawakan lagu-lagu dengan satu bahasa daerah saja. Ada puluhan lagu dengan berbagai bahasa daerah yang sempat dibawakannya, mulai dari Jawa, Batak, Melayu, Minang, Gorontalo, dan beberapa lagu daerah lainnya.

Walau nama belakangnya mencerminkan keturunan orang Batak, namun lagu daerah pertama yang dilantunkannya justru berbahasa Jawa, yaitu ‘Wolak-walik Jaman’. Selain itu, ada beberapa lagu berbahasa Jawa lainnya, seperti ‘Nggo Kowe dan Romo Ono Maling’.

Tentu saja, dia juga tidak melupakan lagu untuk daerah asalnya sendiri. Lagu-lagu Batak yang sempat dia bawakan antara lain adalah Au dan Songon Bulan. Selain itu, masih ada beberapa lagu unik lainnya yang menunjukkan betapa dia bangga bisa membawakan berbagai lagu dari bahasa daerah.

Tapi tak ada yang boleh lupa, dari sanalah Eddy melangkah ke Jakarta akhir tahun 1968. Ia menumpang kapal laut dari Medan. Awalnya ia tidak bermimpi menjadi penyanyi. Eddy hanya ingin bersekolah sembari menyambi bekerja. Ada yang menyebut ia pernah jadi kondektur bus kota.

Eddy sempat mengenyam pendidikan di Manila, Filipina berkat diajak pamannya. Dia juga sempat mengalami masa-masa terpuruk. Anak ke-empat dari 11 bersaudara itu bangkrut pada 1980. Hanya beberapa tahun Eddy menikmati kejayaan.

Perusahaan tempat ia menginvestasikan hasil kariernya bertahun-tahun harus gulung tikar karena dia salah mencari rekan bisnis. Ratusan juta melayang. Aset-asetnya pun harus direlakan. Suara lantang Eddy sempat menghilang bertahun-tahun. Sampai akhirnya dia pentas di Malaysia pada 1987 bersama Emilia Contessa. Namanya mulai terdengar kembali. Eddy pun dikenal karena menyanyikan lagu tradisional dari berbagai daerah.

Salah satu lagu yang ia populerkan adalah Ubekan Denai, lagu daerah berbahasa Minang. Dia juga menyanyikan Alusi Au (Batak), Romo Ono Maling (Jawa), Ngawujudko Tika Tika (Ogan Komering Ulu), Pujaan (Sekayu), Ndung Ku (Muara Enim), Cugak (Ogan Komering Ilir), Ade Dide Kah (Lahat), Belek Gi (Lubuk Ling-gau), dan Ingkar Janji (Bangka).

Dia juga menyanyikan lagu-lagu rohani. Senandung pop yang ia nyanyikan termasuk Kini Kusadari ciptaan Bartje van Housten, Mama ciptaan Murry, Jatuh Cinta ciptaan Titiek Puspa, Mimpi Sedih ciptaan A. Riyanto, dan banyak lagu lainnya. Eddy menelurkan setidaknya empat album, dua kompilasi Tembang Kenangan dan dua lagi menyanyi untuk album kompilasi Rinto Harahap.

Ayah dari Marco Silitonga, Jikri Silitonga, Mario Silitonga, Nafra Silitonga, Nadra Silitonga itu, juga pernah main film berjudul Kembalilah Mama pada 1977. Sutradara Abubakar Djunaedy yang menggarap film itu. Kini, Eddy Silitonga harus kembali kepada Yang Kuasa.

Selamat jalan, Eddy Silitonga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Related Post

Nanan: VW Tanamkan Nilai Kebersamaan, Kekeluargaan dan Persaudaraan

Tengokberita.com – Mengusung tema ‘Harmony in Diversity’ Jambore Nasional Volkswagen Indonesia ke 48 sudah digelar ...

Eddy Silitonga Dalam Balutan Lagu Pop Sampai Daerah

Tengok Berita red Berita Hari ini: 2 min
0