Enny Arrow adalah Wartawati Bernama Asli Enny Sukaesih? (Bag 2)

388

Jakarta, Tengokberita.com – Nama Enny Arrow pertama kali muncul pada 1965. Kala itu ada sebuah novel berjudul “Sendja Merah di Pelabuhan Djakarta” ditulis atas nama Enny Arrow.

Tetapi sejak itu, nama Enny Arrow mendadak menghilang dan tiba-tiba muncul kembali 12 tahun kemudian di tahun 1977. Dan, karya-karyanya tiba-tiba saja membanjiri pasar. Ada ratusan judul novel erotis karya Enny Arrow yang beredar di masyarakat dalam tempo sekitar 15 tahun (1977 – 1992).

Sejak kemunculannya kembali di tahun 1977, isi novel karya Enny Arrow sangat berbeda dengan novel pertamanya, “Sendja Merah di Pelabuhan Djakarta.” Novel-novel Enny Arrow pasca kemunculannya kembali di tahun 1977, lebih mengisahkan tentang erotisme dan seksual. Sejumah kalangan menyebutnya sebagai novel erotisme pertama dan terlaris yang dibuat oleh penulis Indonesia.

(baca: Karya-karyanya Banjiri Pasar, Siapakah Enny Arrow? (bag 1))

Meski karya-karyanya laris manis di pasaran, toh hingga kini, 40 tahun kemudian, siapa sosok Enny Arrow masih berbalut misteri. Apakah Enny Arrow merujuk nama seorang penulis atau merek dagang (brand)?

Sepenggal kisah yang mengungkap siapa itu Enny Arrow, mengalir dari mulut Abdullah Harahap di awal tahun 1980-an. Abdullah Harahap selama ini dikenal sebagai novelis horor paling produktif di masa-masa yang sezaman dengan Enny Arrow.

Dikutip dari blog milik Sunardian Wirodono, Enny Arrow: Pejuang, Pendidik Generasi Bangsa yang diunggah di blog pribadinya pada 14 November 2015, Sunardian menulis, ketika ia tengah melakukan penelitian tentang buku-buku bawah tanah (underground) di Jakarta, ia bertemu dengan Abdullah Harahap.

Sunardian pun mewawancarai novelis horor tersebut. Dari Abdullah Harahap lah, muncul nama Enny Sukaesih Probowidagdo, yang lahir di Hambalang, Bogor pada tahun 1924.

Dikisahkan Abdullah Harahap, karir menulis Enny Sukaesih dimulai sebagai wartawan pada masa pendudukan Jepang yang kemudian direkrut menjadi salah satu propagandis Heiho dan Keibodan (pasukan pembantu polisi). Pada masa revolusi kemerdekaan Enny Sukaesih bekerja sebagai wartawan Republikein yang mengamati jalannya pertempuran seputar wilayah Bekasi.

Pada tahun 1965 Enny Sukaesih menulis novel dengan judul “Sendja Merah di Pelabuhan Djakarta”. Ini karya pertamanya dengan mengenalkan nama samaran sebagai Enny Arrow. Kata Arrow ia dapatkan dari nama toko penjahit di daerah Kali Malang, Bekasi, di mana dia sempat bekerja sebagai penjahit pakaian di situ.

Setelah peristiwa 30 September 1965 suasana politik tidak menentu, Enny Arrow berkelana ke Filipina, Hongkong dan ke Seattle Amerika Serikat pada bulan April 1967. Di situlah Enny Sukaesih belajar penulisan kreatif bergaya John Steinbeck yang merupakan satu-satunya penulis aliran kiri dari Amerika Serikat yang dianugerahi Nobel Sastra.

Ia mulai mencoba menulis dan mengirimkan beberapa karyanya ke sejumlah koran di Amerika dengan salah satu karya novelnya berjudul “Mirror Mirror”.

Tahun 1974 Enny Sukaesih kembali ke Jakarta dan bekerja di salah satu perusahaan asing sebagai copy writer. Berbekal kemampuannya menulis, pada 1977 ia mulai melahirkan banyak karya novel erotis yang kemudian laris manis di pasaran.

Pergaulan Bebas, Hari Kelabu, Selembut Sutra, Sepanas Bara, Gairah & Cinta, Hati yang LukaDi Celah Dinding Kontrakan, Si Dildo, Kisah Tante Sonya, merupakan sebagian kecil dari karya-karya Enny Arrow.

Karya-karyanya itu diterbitkan oleh penerbit Mawar. Pihak penerbit memberikan label “Bacaan Khusus Dewasa” pada setiap novel erotis karya Enny Arrow.

Enny Sukaesih dikabarkan meninggal dunia pada tahun 1995, di usia 71 tahun. Hingga kematiannya, tidak ada yang tahu siapa sebenarnya Enny Sukaesih. Apakah benar dia adalah Enny Arrow, penulis ratusan novel erotis di rentang waktu 1977-1992 sebagaimana dikisahkan novelis horor/misteri Abdullah Harahap?

Untuk mengetahui jawabannya, ikuti terus ulasan mengenai siapa itu Enny Arrow hanya di Tengokberita.com. (pink/has)

Bagaimana menurut pembaca?