Enny Arrow, Boccacio, Kama Sutra, dan Candi Sukuh (5-Habis)

CANDI SUKUH DI JAWA TENGAH

Jakarta, Tengokberita.com – Erotisme telah menempati panggung tersendiri dalam sejarah peradaban manusia. Erotisme, yang pada hakikatnya membangkitkan gairah seksual, telah hadir seiring dengan kehadiran manusia di bumi ini.

Tersaji dalam bentuknya yang beraneka rupa dan terhidang dalam tujuannya yang beragam pula. Ada karya sastra, ada patung (arca), pahatan, relief candi, arsitektur, dan ada ajaran.

Di masa Yunani Kuno (beberapa abad Sebelum Masehi) ada patung Dewa Apollo yang dibuat telanjang lengkap dengan alat kelaminnya. Dalam hal arstiketur, ada Monumen Nasional (Monas) yang merupakan perwujudan modern dari lingga (simbol alat kelamin pria) dan yoni (simbol alat kelamin wanita).

DEWA APOLLO

Dalam bentuknya sebagai arca, ada arca pria yang digambarkan sedang memegang alat kelaminnya di Candi Sukuh (dibangun pada masa akhir Kerajaan Majapahit di penghujung abad 15 M), Jawa Tengah. Begitu pula pada bagian reliefnya yang memperlihatkan alat kelamin pria secara vulgar.

ARCA DI CANDI SUKUH, JAWA TENGAH

Di India, persisnya di distrik Chhatarpur negara bagian Madya Pradesh, erotisme bahkan dipahatkan secara amat vulgar di Candi Khajuraho. Di candi yang dibangun pada abad 10 M itu dipahatkan banyak relief tentang teknik bersenggama secara lengkap dan sempurna.

Dalam hal karya sastra ada kitab Shu Ni Jing, Hung Lou Meng, dan Yin Yuan Thu yang membahas seks secara sempurna di zaman China kuno. Di Indonesia juga ada lontar-lontar berbahasa Jawa Kuno yaitu Rahasya Sanggama, Yaning Stiri Sanggama, dan sebagainya.

Dari masa Jawa Tengahan muncul sastra-sastra seperti Serat Centhini, Serat Kamaweda, dan sebagainya. Serat Centhini bahkan disebut-sebut sebagai serat yang paling vulgar dalam mendeskripsikan seksualitas.

Di masa Kerajaan Melayu Lingga Riau (kerajaan Islam) juga ada Cempaka Putih, yang tidak hanya membahas masalah teknik dan gaya bersenggama tetapi juga dilengkapi dengan doa-doa secara Islam.

Karya sastra yang paling terkenal sejagat raya adalah Kama Sutra, karya Vatsyayana Mallanaga. Kama Sutra merupakan karya sastra erotis paling tua yang pernah ada di bumi, diperkirakan dibuat di India pada abad 3 SM (Sebelum Masehi) atau lebih dari 2.300 tahun lalu.

Dalam agama Hindu, seksualitas adalah sakral yang secara implisit termuat dalam ajaran catur purusārtha yaitu dharma, artha, kama, dan moksa. Dan kama sutra merupakan tantra. Sebagai sebuah ajaran, setelah mempelajari secara teori dari Kama Sutra maka para siswa akan diajak oleh guru spiritual mereka ke candi Khajuraho untuk menuntaskan ajaran teori yang dipelajarinya dari Kama Sutra.

Relief senggama yang terpahat di Candi Khajuraho, India.

Dalam karya sastra modern, dalam konteks tidak terikat pada sebuah ajaran atau kepercayaan tertentu, novel The Decameron yang diterbitkan di Italia pada 1353 disebut-sebut sebagai karya sastra erotis modern pertama dan tertua di dunia. Novel yang ditulis sastrawan Italia, Giovanni Boccaccio itu berkisah tentang cinta, rayuan, dan nafsu seksual.

Setelah itu, di masa-masa kemudian, banyak bermunculan novel serupa; sebuah cerita romantika kehidupan yang dibumbui dengan seks dan percintaan. Di Inggris misalnya ada Fanny Hill: Memoirs of a Woman of Pleasure karya novelis Inggris, John Cleland, yang terbit pada 1749.

Di abad 20 ada Lolita karya novelis Amerika-Rusia, Vladimir Nabokov, pada 1955. Ada juga novelis perempuan Amerika, Anais Nin, yang antara lain menulis Delta of Venus (1977) dan Little Birds (1979). Nabokov dan Nin bahkan namanya sangat terkenal lantaran novel-novel percintaan karya keduanya selalu menjadi best seller.

VLADIMIR NABOKOV

Apakah novel-novel erotis karya Enny Arrow bisa disetarakan dengan Kama Sutra, Serat Centhini, Cempaka Putih, atau bahkan Hung Lou Meng dari masa China kuno? Bagaimana dengan The Decameron karya Boccaccio atau bahkan Lolita karya Nabokov?

Tentu saja sangat jauh untuk bisa disejajarkan dengan karya-karya sastra erotis legendaris dan fenomenal tersebut. Akan tetapi, sebagai sebuah karya sastra, karya-karya Enny Arrow di masa-masa awal justru memiliki tema cerita yang jelas, ada plot, dan adegan percintaan yang disajikan dengan diksi dan bahasa yang memancing imajinasi pembacanya.

Seperti halnya John Ernst Steinbeck, ada tema-tema sosial dan budaya yang diangkat dalam novel-novel erotis karya Enny Arrow di masa-masa awal. Seperti persoalan biduk rumah tangga, penyalahgunaan narkoba, urbanisasi, dan kehidupan realita lainnya.

Namun belakangan, tema-tema sosial budaya sebagai ciri khas atau gaya penulisan Steinbeck yang menjadi kiblat Enny Arrow, tak lagi muncul. Cerita percintaan dan seksual dideskripsikan secara vulgar.

Tak ada yang tahu pasti kenapa Enny Arrow mengubah gaya penulisannya. Namun diduga kuat, perubahan arah penulisan itu dipicu oleh derasnya permintaan pasar. Alhasil, novel-novel erotis karya Enny Arrow benar-benar picisan dan rasanya tak layak untuk disebut sebagai karya sastra. (pink/has)

Bagaimana menurut pembaca?