Erwin Aksa : Hampir Semua Kecelakaan Kerja Konstruksi Akibat dari Kelalaian

79
ERWIN AKSA

Urban, Tengokberita.com – Soal lemahnya pengawasan dalam proyek-proyek pembangunan infrastruktur sehingga menjadi salah satu penyebab maraknya terjadi kecelakaan konstruksi, tengokberita.com juga sempat bertanya kepada Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri Indonesia Bidang Konstruksi, Erwin Aksa.

Erwin menuturkan, hampir semua kasus kecelakaan kerja sektor konstruksi yang terjadi dalam setahun terakhir, merupakan kelalaian. Karena itu Erwin mendesak agar mekanisme pengawasan pada setiap proyek infrastruktur yang kini tengah dibangun, diperbaiki.

Mekanisme pengawasan perlu diperbaiki karena hampir semua kecelakaan kerja merupakan kelalaian,” kata Erwin.

(baca: Lazuardi Nurdin : Pengawasan Lemah, Kualitas SDM Proyek Konstruksi Juga Rendah)

Selain aspek pengawasan yang perlu diperbaiki, Erwin juga menyoroti soal masih rendahnya pekerja konstruksi yang tersertifikasi. Sepanjang 2017, kata Erwin, jumlah pekerja sektor konstruksi tersertifikasi di Indonesia sekitar 150 ribu orang.

Idealnya, kata Erwin, setiap tahun paling tidak sebanyak 500 ribu hingga 750 ribu tenaga kerja di sektor konstruksi, tersertifikasi. Saat ini, berdasarkan data dari Kementerian PUPR, jumlah tenaga kerja di sektor konstruksi yang sudah tersertifikasi tercatat sebanyak 720 ribu orang.

Jumlah itu memang terasa sangat timpang jika dibandingkan dengan jumlah total pekerja di sektor konstruksi yang berdasarkan data Badan Pusat Statistik, kini mencapai 8,1 juta orang. Dengan demikian, jumlah pekerja sektor konstruksi yang belum tersertifikasi tercatat 7.380.000 orang atau lebih dari 90 persen dari total jumlah pekerja konstruksi yang kini mencapai 8,1 juta.

Dari data ini, kata Erwin, kualitas SDM di bidang konstruksi masih sangat rendah. Karena itu Erwin menyebut bahwa kelalaian menjadi penyebab utama terjadinya serangkaian kecelakaan konstruksi di Indonesia dalam satu tahun terakhir ini. “Sepanjang Agustus 2017 hingga Januari 2018 saja sudah terjadi 10 insiden konstruksi dalam pengerjaan proyek infrastruktur,” kata Erwin.

Dihubungi terpisah, anggota Komite Keselamatan Konstruksi (KKK) Lazuardi Nurdin mengatakan, pihaknya langsung menurunkan tim untuk melakukan investigasi atas kasus kecelakaan konstruksi berupa jatuhnya besi sepanjang empat meter di proyek Rusunawa Tingkat Tinggi Pasar Rumput yang menewaskan Mimin, warga yang tengah berbelanja di sebuah pasar yang lokasinya berdampingan dengan proyek pembangunan Rusunawa Tingkat Tinggi Pasar Rumput. Hanya saja Lazuardi mengaku tidak terlibat dalam melakukan investigasi atas kasus tersebut sebab sedang ada tugas lain di luar kota.

LAZUARDI NURDIN, Ketua Umum Asosiasi Ahli Keselamatan dan Kesehatan Kerja Konstruksi Indonesia (A2K4-Indonesia). (Foto: Hasan/Tengokberita.com)

Menariknya, kasus kecelakaan kerja konstruksi berupa jatuhnya besi sepanjang empat meter yang kemudian menimpa dan menewaskan Mimin tersebut, kembali menyeret nama PT Waskita Karya Tbk dalam pusaran kecelakaan kerja konstruksi. Pasalnya, proyek Rusunawa Tingkat Tinggi Pasar Rumput senilai Rp950 miiar di Jakarta Selatan yang merupakan bagian dari program Pengadaan Sejuta Rumah dari pemerintahan Presiden Jokowi itu, juga dikerjakan oleh PT Waskita Karya Tbk.

Perusahaan pelat merah yang selama ini bergerak di bidang konstruksi dan infrastruktur tersebut, menjadi sebuah perusahaan milik negara (BUMN) paling tidak aman. Dari 16 kasus kecelakaan kerja konstruksi yang terjadi dalam tujuh bulan terakhir (1 Agustus 2017 – 18 Maret 2018), 10 kasus di antaranya terjadi di proyek-proyek infrastruktur yang tengah digarap PT Waskita Karya Tbk.

Menanggapi hal ini, Lazuardi Nurdin yang juga menjabat sebagai Ketua Umumk Asosiasi Ahli Keselamatan dan Kesehatan Kerja Konstruksi Indonesia (A2K4-Indonesia) hanya mengatakan bahwa ada yang salah dalam penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3)nya. “Ada yang salah mungkin dalam penerapan sistem manajemen K3 nya, terutama dalam hal penerapan HIRADZ (Hazzard Identification, Risk Assasment and Determining Control) dan JSA (Job Safety Analysis),” Lazuardi menambahkan. (has)

Bagaimana menurut pembaca?