Home » News » Refleksi » First Travel, Antara Skema Ponzi dan Gaya Hedonis

First Travel, Antara Skema Ponzi dan Gaya Hedonis

Jakarta, Tengokberita.com-Kasus First Travel hendaknya menjadi pengingat bagi masyarakat untuk berhati dan teliti dalam menerima tawaran berangkat umrah dengan iming-iming harga murah. Tidak menutup kemungkinan harga murah yang ditawarkan itu adalah praktik penipuan.

Kasus First Travel ini adalah contoh dan disinyalir masih ada beberapa usaha sejenis yang melakukan praktik yang sama dengan First Travel tersebut.

Seperti kita tahu, First Travel saat ini memiliki 70.000 orang yang sudah membayar dan hanya 50% jamaah yang sudah berangkat. Artinya masih ada 35.000 orang lagi yang masih menunggu janji keberangkatan dan janji pengembalian uang setoran. Jika dipukul rata Rp 14,3 juta per jamaah yang telah menyetor dananya, dikalikan 35.000 orang maka ada sekitar Rp 500 miliar uang yang ada di manajemen First Travel.Jika demikian kenapa mereka tak bisa memberangkatkan para calon jamaah itu?

Alasan pertama, manajemen First Travel menggunakan Skema Ponzi.

Soal ini, meski tak digambarkaN secara detail, penjelasan Direktur Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri Brigjen Herry Rudolf Nahak bisa menggambarkan bagaimana manajemen First Travel mengeruk uang dari para jamaah.

Polisi, katanya, menerima sebanyak 13 laporan masyarakat untuk mengetahui kemungkinan-kemungkinan skema lain yang dilakukan oleh first Travel ini.

Bahkan berdasarkan hasil pemeriksaan kepada para pelapor polisi menemukan modus tambahan yang dilakukan pelaku. Antara lain: Meminta uang tambahan dengan promo-promo lainnya. Ada pula yang diminta langsung melakukan pembayaran tambahan sebesar 2,5 juta dengan dalih bisa segara diberangkatkan.

“Korban yang tidak bisa berangkat akhirnya ditawarkan ada Carter pesawat, ini menawarkan jalur khusus dengan mencarter pesawat sendiri dengan biaya per jamaah Rp 2,5 juta, tapi ternyata yang bisa diberangkatkan hanya 10 persen sisanya tidak,” ungkap Herry.
Pada bulan Ramadhan lalu, para jamaah diminta menambahkan pembayaran sebesar Rp 2-8 juta untuk segera bisa diberangkatkan. Namun, ternyata juga tak bisa diberangkatkan.

Ini terjadi karena diduga skema yang diterapkan adalah Skema Ponzi, yang membayarkan keuntungan untuk investor dari uang investor sendiri atau dibayarkan oleh investor berikutnya. Bukan dari keuntungan yang diperoleh individu atau organisasi itu dalam menjalankan operasi ini.

Kalau dalam investasi dijanjikan keuntungan tinggi, maka dalam kasus First Travel dijanjikan umrah dengan harga murah. Kekurangan biayanya ditutup oleh jamaah lain yang masuk belakangan. Demikian terus berulang-ulang.

First Travel memiliki 3 produk perjalanan umrah, yaitu paket promo umrah, reguler dan VIP. Paket promo biaya umrah yang dipatok First Travel harganya Rp 14,3 juta. Sementara Kementerian Agama, mematok biaya umrah normalnya dalam kisaran Rp 21-22 juta.

Dengan metode Skema Ponzi, First Travel mengaku memberikan subsidi kepada jamaah. Padahal subsidi itu diambil pihak travel dari merekrut jamaah baru untuk membiayai dan memberangkatkan jamaah sebelumnya yang sudah bayar.
Inilah yang akhirnya mengakibatkan 70.000 jamaah yang sudah membayar tak bisa berangkat semuanya. Karena uang dari mereka itu disubsidikan kepada jamaah sebelumnya atau jamaah yang daftar duluan.

Kedua, adalah hedonisme, sikap hedon dari pelaksananya. Dalam kasus ini sikap hedon ditampikan oleh kehidupan Direktur Utama First Travel Andika Surachman dan istrinya Anniesa Devitasari Hasibuan. Keduanya memiliki rumah bak istana raja di wilayah Bogor dan beberapa mobil mewah.  Anniesa juga kerap memperlihatkan gaya hidup mewahnya, baik  memiliki barang barang branded semacam papperbag Moschino atau plesir ke sejumlah kawasan wisata dengan fasilitas serba mewah.
Kehidupan Andhika dan Anniesa yang cukup ‘WAH’ itu diunggah di akun media sosial, pasangan suami istri ini. Tentu, untuk membiayai gaya hidupnya tersebut memerlukan ongkos yang juga mahal. Gaya hidup mereka ini bisa digolongkan dalam gaya hedone.

Hedon berasal dari kata latin, yaitu hedone yang memiliki arti kesenangan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, hedonisme merupakan pandangan yang menganggap kesenangan dan kenikmatan materi sebagai tujuan utama dalam hidup.
Kesenangan-kesenangan semacam itulah yang diperlihatkan oleh pasangan ini selama menjalankan usaha travel umrahnya ini.

Mungkin tak jadi soal, jika gaya hidup wah itu merupakan uang hasil keuntungan dari sebuah hasil usaha. Bukan hasil ‘menipu’ pihak lain, seperti yang disinyalir dilakukan First Travel. Sebab, Kehidupan serba mewah yang mereka pamerkan bertolak belakang dengan nasib calon jamaah umrah First Travel yang terkatung-katung hingga saat ini. Ribuan calon jamaah umrahnya, bertanya-tanya, jika mereka tak berangkat umrah, apakah uangnya yang disetor ke First Travel, bisa dikembalikan? Hanya waktu yang bisa menjawab. (rot)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Related Post

pki, nkri

PKI Sebagai Investasi Ketakutan Orba (2-Habis)

OLEH : MIQDAD HUSEIN Sejatinya bukan ketakutan yang belakangan merebak di tengah masyarakat negeri ini. ...

First Travel, Antara Skema Ponzi dan Gaya Hedonis

Tengok Berita redaksi Berita Hari ini: 3 min
0