Fredrich Yunadi, Calon Pimpinan KPK yang gagal

99
Kuasa Hukum Setnov: Prosedur Penangkapan KPK Langgar HAM

Jakarta, Tengokberita.com – Siapa sangka jika kuasa hukum Setya Novanto, Fredrich Yunadi, pernah mengajukan diri sebagai kandidat Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Dikutip dari laman yunadi.com, situs resmi kantor hukum Yunadi & Associates yang ia dirikan bersama 12 rekannya pada 1994, Fredrich menulis bahwa dirinya merupakan seorang kandidat Ketua KPK pada 2010 silam.

Fredrich Yunadi, S.H., LL.M., MBA., PhD, berhasil menjadi salah satu dari 12 kandidat Calon Ketua KPK 2010, dan mengikuti fit&proper test pada Rabu, 4 Agustus 2010,” tulis Yunadi dalam situs tersebut.

Dari penelusuran Tengokberita.com, Fredrich Yunadi memang pernah terdaftar sebagai calon Komisioner KPK pada 2010. Saat ikut seleksi calon pimpinan KPK periode 2011-2015, namanya masuk bersama 11 kandidat lain ke tahap psikotes pada 4 Agustus 2010.

Fredrich ikut psikotes usai lolos dari seleksi makalah. Namun pria berkumis tebal ini gagal lolos ke tahap uji kelayakan dan kepatutan atau fit and proper test di DPR RI.

(baca: Fredrich Yunadi Diketawain Mahfud MD)

Dalam proses seleksi ini, DPR RI kemudian memilih empat nama untuk menemani Busyro Muqqodas yang belum habis masa tugasnya waktu itu. Keempat nama tersebut adalah Abraham Samad, Bambang Widjojanto, Adnan Pandu Praja, dan Zulkarnain.

Alih-alih menjadi komisioner KPK, Fredrich Yunadi kemudian justru berlawanan dengan KPK dengan terlibat dalam pembelaan sejumlah koruptor dan terduga koruptor. Antara lain menangani perkara kasus dugaan korupsi 10 mobil crane Pelindo II di Bareskrim Polri. Di kasus itu, Fredrich menjadi kuasa hukum tersangka RJ Lino, mantan Direktur Utama Pelindo II.

Lalu pada 2015, ia memenangi gugatan praperadilan yang dimohonkan Budi Gunawan di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan. Kala itu, Fredrich bersama rekan-rekan satu kantornya, dipercaya Jenderal Pol Budi Gunawan untuk menjadi kuasa hukumnya dalam mengajukan gugatan praperadilan ke PN Jakarta Selatan setelah calon tunggal Kapolri itu ditetapkan tersangka oleh KPK. Gagal menjadi Kapolri, Budi Gunawan kini menjabat sebagai Kepala Badan Intelijen Negara (BIN).

Sukses saat melakukan pembelaan terhadap Jenderal Pol Budi Gunawan itu rupanya menjadi pintu masuk bagi Fredrich untuk berkenalan dengan Ketua DPR RI Setya Novanto. Fredrich dipercaya Setya Novanto untuk menjadi kuasa hukumnya ketika Setnov ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK dalam kasus korupsi Korupsi KTP-E berbasis NIK periode 2011-2012 pada 17 Juli 2017.

Pada 4 September 2017, lewat Yunadi & Associates, Ketua Umum Partai Golkar itu mengajukan gugatan praperadilan ke PN Jakarta Selatan dan terdaftar dengan Nomor 97/Pid.Prap/2017/PN Jak.Sel. Pada 29 September 2017, majalis hakim tunggal PN Jakarta Selatan Cepi Iskandar mengabulkan gugatan praperadilan dengan menyatakan penetapan tersangka kepada Setya Novanto oleh KPK, tidak sah.

Setya Novanto pun bebas dari jerat hukum, sebelum kemudian pada 10 November 2017 kembali ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK dalam kasus sama. (has)

Bagaimana menurut pembaca?