Ganja, Ekstasi, Sabu-Sabu dan Heroin, Dilihat dari Bahaya dan Cara Kerjanya

675

Kesehatan, Tengokberita.com – Narkoba pada hakikatnya diciptakan dan diproduksi untuk kepentingan kesehatan dan/atau pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Tetapi pemakaiannya malah acap disalahgunakan atau tidak sesuai dengan standar medis.

Alih-alih mendapatkan kesehatan dan kebugaran sebagaimana tujuan pengobatan medis itu sendiri, penyalahgunaan narkoba akan mengakibatkan organ-organ di dalam tubuh malah rusak. Bahkan tak sedikit yang kemudian berujung dengan kematian lantaran pemakaiannya yang tidak sesuai standar.

Heroin, misalnya. Sejak ditemukan pertama kali di penghujung abad 19, heroin digunakan sebagai obat penenang (sedatif), penghilang rasa sakit (analgesik), dan obat bius (anastetik). Pemakaian heroin dalam dunia medis tersebut bahkan masih digunakan hingga sekarang ini.

Namun apabila heroin yang merupakan hasil sintesis dari diasetilmorfin (hasil ekstrak morfin) digunakan tidak sesuai standar medis atau disalahgunakan, si pengguna akan kecanduan sebab heroin merupakan narktotika yang memiliki ketergantungan yang sangat tinggi dibanding narkotika jenis lain.

Penggunaan heroin yang berlebihan dan dalam jangka waktu lama akan menyebabkan penggunanya menjadi kurus kerontang, sebab heroin menimbulkan efek tidak lapar. Tubuh yang kurus karena jarang mendapat asupan makanan, akan menjadi rentan terhadap berbagai penyakit.

Penyalahgunaan heroin juga akan menyebabkan tingkat kesadaran terus menurun dari waktu ke waktu, sulit tidur (insomnia) parah, batuk berkepanjangan, saraf-saraf di otak menjadi rusak, dan aneka penyakit lainnya.

(baca: Kisah Pilu Seorang Ibu: Akibat Terkena Stigma)

Setiap jenis narkoba memang memiliki efek masing-masing bagi para penggunanya. Ganja akan membuat si pengguna merasakan kesenangan yang berlebihan (eforia) sehingga mudah sekali untuk tertawa sekalipun bagi orang lain tidak ada sesuatu yang lucu atau patut untuk ditertawakan. Kebalikan dari morfin yang bisa menghilangkan rasa lapar jika digunakan, ganja malah bisa mendatangkan rasa lapar.

GANJA

Psikotropika jenis pil ekstasi akan membuat penggunanya merasa lebih bertenaga serta cenderung membuatnya lebih senang dan gembira untuk jangka waktu tertentu (biasanya 4 – 6 jam).

EKSTASI

Efek yang tak jauh berbeda juga dihasilkan oleh saudara dekat pil ekstasi, yaitu sabu-sabu. Penggunanya juga akan merasa lebih bertenaga sebab ekstasi dan sabu-sabu akan memacu kerja organ tubuh seperti otak dan jantung lebih cepat dari biasanya.

SABU-SABU

Berbeda dengan pil ekstasi, pengaruh penggunaan sabu-sabu di tubuh pengguna memiliki rentang waktu yang lebih lama. Bisa 12 hingga 24 jam, tergantung dosis yang dipakainya. Kerja otak yang lebih cepat dari biasanya itu akan membuat si pengguna sabu tidak mengantuk dan tidak merasa lapar.

Meski terbuat murni dari senyawa kimia, sabu bisa mendatangkan kecanduan bagi penggunanya apabila dia tidak bisa mengontrol penggunaan. Karena itu bagi para pecandu sabu, tidak tidur selama 10 hari berturut-turut adalah hal biasa.

Bagi para pengamen jalanan, penjahat jalanan, dan bahkan para pelajar, yang tidak memiliki kepercayaan diri atau keberanian, mereka biasanya memilih narkoba jenis Rohypnol, Benzodiazepin, Megadon, BK (Sedatin), dan beberapa obat golongan keras lainnya yang biasa disebut Pil Koplo. Selain harganya yang murah, narkoba jenis itu dipilih mereka sebab apabila dikonsumsi secara berlebihan akan membuat si pengguna menjadi lebih berani dan cenderung nekat.

PIL KOPLO

Penggunaan obat-obatan tersebut akan membuat mata si pengguna berwarna merah, bicara tidak jelas, jalan sempoyongan, dan tidak peduli akan keadaan di sekitarnya dan cenderung berlaku nekat. Badan akan terasa lemas, tetapi tindakan menjadi lebih beringas.

Lain lagi dengan Flakka. Narkoba jenis baru yang dikabarkan belum masuk ke Indonesia ini, akan membuat si penggunanya berpolah layaknya zombie atau mayat hidup. Jika sudah demikian, mereka cenderung melukai diri sendiri dengan cara menggigit anggota tubuh hingga berdarah-darah.

FLAKKA DAN EFEK PENGGUNAANNYA

Flakka merupakan satu stimulan kimia yang hampir sama seperti amphetamine atau senyawa kimia utama dari pil ekstasi dan sabu-sabu. Flakka juga sering menjadi alternatif dari bubuk ekstasi, meskipun efek yang dihasilkan berbeda antara keduanya.

Pengguna Flakka akan merasakan detak jantung yang cenderung naik/berdegup lebih cepat, meningkatkan kadar emosional dan jika dosisnya ditambah, pengguna akan merasakan halusinasi yang kuat.

Flakka kini menjadi narkoba paling berbahaya karena bisa menimbulkan kerusakan psikologis bagi pecandu sebab salah satu efeknya menyangkut mood regulating. Ini dapat membuat otak dari pengguna terus menerus memproduksi dophamine yang berlebih, hingga mengakibatkan besarnya peluang gagal jantung.

Secara umum, ada empat efek yang akan timbul dari penyalahgunaan narkoba. Yaitu:
1. Halusinogen
Memicu terjadinya halusinasi. Si pengguna akan melihat suatu hal/benda yang sebenarnya tidak ada/tidak nyata bila dikonsumsi dalam sekian dosis tertentu. Contoh narkoba dengan efek halusinasi tinggi adalah Flakka, kokain, LSD.

2. Stimulan
Memacu kerja organ tubuh seperti jantung dan otak lebih cepat dari biasanya sehingga mengakibatkan penggunanya lebih bertenaga serta cenderung membuatnya lebih senang dan gembira untuk sementara waktu. Contoh : sabu-sabu, esktasi.

3. Depresan
Menekan sistem saraf pusat dan mengurangi aktivitas fungsional tubuh, sehingga pemakai merasa tenang bahkan tertidur dan tidak sadarkan diri. Contoh : heroin, putaw.

4. Adiktif
Menimbulkan kecanduan. Seseorang yang sudah mengonsumsi narkoba biasanya akan ingin dan ingin lagi karena zat tertentu yang terkandung dalam narkoba akan mengakibatkan seseorang cenderung bersifat pasif, karena secara tidak langsung narkoba memutuskan saraf-saraf dalam otak. Contoh: morfin, heroin, putaw, sabu-sabu. (has)

Bagaimana menurut pembaca?