Golkar Menggali Kubur di Jabar, PDIP Tersenyum Lebar

OLEH: EDI SUDARJAT (Analis & Konsultan Politik)

PARTAI Golongan Karya (Golkar) tampaknya sedang menggali kuburnya sendiri di Jawa Barat (Jabar). Analisis ini muncul ketika Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Golkar mendukung pencalonan Ridwan Kamil dan Daniel Muttaqien sebagai calon gubernur (cagub) dan calon wakil gubernur (cawagub) Jabar, mengabaikan calon dari dalam Golkar, Dedi Mulyadi.

Mengapa demikian?

Soalnya, pertama, Dedi Mulyadi bukan hanya ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Golkar Jabar, melainkan kepala daerah yang sudah menjabat dua periode dan mencetak prestasi. Ia bupati yang sukses membangun Purwakarta, hingga menjelma menjadi kabupaten “baru” yang indah, bersih, dan berbudaya dalam arti luas.

Kalau Anda ke Purwakarta sekarang, niscaya Anda terkejut melihat arstektur, keindahan, dan kebersihan kotanya. Begitu pula dengan pelayanan birokrasinya yang tangkas & ramah. Tingkat kepuasan publik kepada Pemda Purwakarta menempati posisi ketiga tertinggi se-Jabar, di bawah Sukabumi dan Pangandaran. Demikian hasil survei Pusat Studi Politik dan Keamanan (PSPK) bersama Pusat Kajian dan Kepakaran Statistika (PK2S), Universitas Padjadjaran Bandung, 2016.

Pengelolaan anggaran Purwakarta juga diacungi jempol Wakil Menteri Keuangan Prof Mardiasmo. Anggaran belanja untuk pegawai Purwakarta mengalami penurunan berarti, dari 60 persen pada tahun 2012 hingga 46,69 persen pada 2016. Bersamaan dengan itu, belanja modal dan belanja barang atau jasa di Kabupaten Purwakarta meningkat tajam hingga dua kali lipat.

Itu mengindikasikan ada upaya mendorong belanja yang sifatnya produktif untuk masyarakat. Ini menunjukkan upaya serius pemerintah Purwakarta,” kata Prof. Mardiasmo kepada media massa.

Kedua, lantaran prestasinya yang telah dibangun lebih dari sewindu, Dedi Mulyadi dipandang memiliki kemampuan memimpin (leadership) yang tinggi. Sebagaimana diketahui, di Indonesia, leadership merupakan faktor utama yang membuat orang memilih partai dan pemimpin dalam Pemilu dan Pilkada. Begitulah simpulan riset berkala tentang perilaku pemilih yang dilaksanakan Saiful Mujani dan William Liddle sejak 1999.

Ketiga, lantaran dipandang memiliki leadership tinggi, Dedi Mulyadi punya pemilih setia, baik di Purwakarta, maupun daerah sekitarnya. Warga dan tokoh masyarakat di Subang, Bogor, dan Karawang, misalnya, beberapakali meminta Dedi memimpin di daerah tersebut, setelah dua periode di Purwakarta. Namun, undang-undang melarangnya.

Keempat, leadership Dedi pula yang dinilai plus para pengurus Golkar Jabar, sehingga akan mampu menjaga dan meningkatkan perolehan suara Golkar dalam Pemilu 2018. Tak heran bila ia terpilih sebagai ketua DPD Golkar Jabar secara aklamasi.

Oleh karena leadership merupakan faktor utama, berlakukah hipotesis: jika Dedi dicalonkan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) sebagai cagub Jabar, kemudian meninggalkan Golkar untuk menjadi pengurus PDIP, maka para pemilih setianya akan beralih memilih PDIP.

Lebih jauh, kepengurusan Golkar Jabar yang rawan konflik, sebagaimana terjadi pada masa sebelumnya, dapat diduga akan terulang.

Kedua hal tersebut di atas, niscaya akan menurunkan perolehan Golkar pada Pemilu 2018. PDIP lah yang akan tersenyum lebar.

Public Relations Dedi Lemah

Tak jarang orang bertanya, mengapa popularitas dan elektabilitas (tingkat keterpilihan) Dedi Mulyadi dalam berbagai survei konsisten berada di bawah Ridwan Kamil?

Kiranya, hal itu terjadi karena Dedi tidak mengelola sumber daya kehumasannya (public relations) dengan baik. Berbeda dengan Ridwan Kamil yang didukung sumber daya public relations kuat, yang sebagian berasal dari almamaternya Institut Teknologi Bandung (ITB), salah satu perguruan tinggi terbaik di Tanah Air.

Dalam public relations berlaku dalil: berita buruk tak usah disebarkan, akan menyebar dengan sendirinya; sedangkan berita baik tak akan tersebar, kalau tidak ada yang menyebarkan.

Berita positif tentang Dedi Mulyadi tidak tersebar luas, selain karena tidak didukung sumber daya (dana dan manusia) kelas wahid, juga ditutupi berita yang dianggap buruk tentang dirinya. Misalnya, ia menikah dengan Nyi Roro Kidul, gandrung akan klenik, menyuburkan syirik (menyekutukan Tuhan) dengan membangun banyak patung. Akibatnya ia dihujat sekelompok orang sebagai “raja syirik”.

Padahal tetap ada ulama Islam internasional terkemuka seperti Rasyid Ridha dan Muhammad Abduh yang menghalalkan membuat patung.

Di Jawa Barat sendiri, lahirlah ulama merangkap pelukis internasional dan pematung: almarhum Prof. Ahmad Sadali. Ia salah seorang pendiri dan pembina mesjid Salman ITB dan Universitas Islam Bandung. Tidak ada satupun tokoh Islam Indonesia yang pernah menghujat Sadali, sebagaimana menghujat Dedi Mulyadi.

Selanjutnya, pertanyaan yang menggelitik adalah, jika Dedi Mulyadi diusung PDIP, berapa besar peluangnya memenangi Pilgub Jabar, mengingat popularitas dan elektabilitasnya di bawah Ridwan Kamil?

Tentu saja cukup besar. Dengan syarat ia didukung tim public relations (mencakup tim kampanye) yang mumpuni dan PDIP berhasil menggerakkan mesin partainya dengan optimal.

Popularitas dan elektabilitas tokoh terus bergerak seiring dengan gencarnya tim pemenangan bekerja. Lazim diketahui, di luar Jakarta, hasil survei valid dalam jangka waktu tiga bulan. Sedangkan di Jakarta hanya satu bulan. Setelah itu hasil survei kehilangan validitasnya, alias tidak dapat digunakan. Nah, cagub dan timnya yang bekerja sungguh-sungguh dengan strategi tepat, bakal memenangi Pilgub Jabar.

Lebih-lebih, elektabilitas Ridwan Kamil belum dapat disebut perkasa, karena belum mencapai angka 35%. Elektabilitas Ridwan Kamil dalam survei SMRC 16,8% dan LSI Denny JA 14%. Ia masih bisa disalip cagub lain.***

 

Bagaimana menurut pembaca ?