Hari Perempuan Internasional, Perjuangan Kesetaraan Gender

142

Jakarta,Tengokberita.com– Hari ini tanggal 8 Maret bertepatan dengan peringatan Hari Perempuan Internasional. Gagasan penetapan hari perempuan itu bertolak dari sejarah panjang mengenai hak berpendapat dan berpolitik dimana pijakan dasarya adalah Keadilan dan kesetaraan tanpa memandang seksualitas atau jenis kelamin.

Kesamaan kondisi bagi laki-laki dan perempuan tanpa memandang gender inilah yang menjadi alasan diperingatinya hari perempuan Internasional. Caplan (1987) mengatakan bahwa gender merupakan perbedaan perilaku antara laki- laki dan perempuan selain dari struktur biologis, sebagian besar justru terbentuk melalui proses social dan cultural. Artinya,karena kondisi dan kultural  yang tidak sama di tiap wilayah akhirnya menimbulkan perbedaan perempuan dalam mendapatkan keadilan berpendapat dan berpolitik.

Perbedaan-perbedaan itulah yag terus diperjuangkan oleh kaum perempuan. Mereka ingin memperoleh kesempatan serta hak-hak yang sama sebagai manusia sehingga mampu berperan dan berpartisipasi dalam kegiatan politik, ekonomi, hukum, sosial budaya, pendidikan, pertahanan, keamanan nasional, dan lain sebagainya.

Kesetaraan gender menuntut adanya suatu perlakuan adil terhadap laki-laki dan perempuan. Perbedaan biologis atau ketidaksamaan seksualitas tidak dapat dijadikan dasar untuk terjadinya diskriminasi mengenai hak sosial, budaya, hukum dan politik terhadap satu jenis kelamin tertentu.

Apalagi dalam Undang-undang Dasar 1945 Pasal 27 ayat (1) berbunyi: “Setiap warga negara bersamaan kedudukannya didalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu tidak ada kecualinya”

Pasal ini menyebutkan semua orang mempunyai kedudukan yang sama di muka hukum dan pemerintah tanpa ada diskriminasi antara laki-laki dan perempuan. Bagi Indonesia sejak tahun 1945 prinsip kesetaraan laki-laki dan perempuan telah diakui karena sudah ada dalam ketentuan Undang-undang Dasar 1945.

Sementara itu secara Internasional, konvensi wanita tahun 1981, yang disetujui oleh Majelis Umum PBB, sebagian menerangkan tentang adanya kesetaraan antara laki-laki dan perempuan.

Pasal 1, “…istilah diskriminasi terhadap wanita” berarti setiap perbedaan pengucilan atau pembatasan yang dibuat atas dasar jenis kelamin, yang mempunyai pengaruh atau tujuan untuk mengurangi atau menghapuskan pengakuan, penikmatan atau penggunaan hak-hak asasi dan kebebasan-kebebasan pokok di bidang politik, ekonomi, sosial, budaya, terlepas dari status perkawinan mereka, dan dasar persamaan antara pria dan wanita.

Pasal 2, mewajibkan negara untuk menjamin melalui peraturan perundang-undangan atau dengan cara-cara lainnya untuk melaksanakan prinsip persamaan antara wanita dan pria.

Pasal 3, negara-negara peserta mengambil langkah-langkah yang tepat termasuk pembuatan undang-undang di semua bidang, khususnya dibidang politik, sosial, ekonomi dan budaya, untuk menjamin perkembangan kemajuan wanita sepenuhnya, dengan tujuan untuk menjamin mereka melaksanakan dan menikmati hak-hak asasi manusia dan kebebasan-kebebasan pokok atas dasar persamaan dengan pria.

Pasal 4, pembuatan peraturan-peraturan khusus oleh negara-negara peserta, termasuk peraturan-peraturan yang dimuat dalam konvensi, yang ditujukan untuk melindungi kehamilan, dianggap sebagai diskriminasi.

Pasal 5, negara-negara peserta wajib wajib membuat peraturan-peraturan:

a. Untuk mengubah pola perilaku sosial budaya pria dan wanita dengan maksud untuk mencapai penghapusan prasangka, atau kebiasaan yang berdasarkan peran stereotipe pria dan wanita, dan
b. Untuk menjamin bahwa pendidikan keluarga meliputi pengertian mengenai kehamilan sebagai fungsi sosial dan pengakuan tanggung jawab bersama antara pria dan wanita dalam membesarkan anak-anak mereka ….”

Hasil konvensi wanita tahun 1981 dan telah disetujui PBB itu menunjukkan bahwa kesetaraan gender berlaku bagi umat manusia di seluruh dunia.

Peringatan soal Hari Perempuan pertama kali dilakukan pada 28 Februari 1909 di New York, Amerika Serikat. Agenda ini diinisiasi oleh Partai Sosialis Amerika Serikat untuk memperingati setahun berlalunya demonstrasi kaum perempuan setahun sebelumnya pada 8 Maret 1908 yang berlangsung di New York. Namun dengan proses yang cukup panjang dan dengan beragam peristiwa yang melatarbelakanginya maka pada tahun 1975, untuk pertama kalinya PBB memperingati Hari Perempuan Internasional pada 8 Maret. Sejak saat itulah tanggal ini dijadikan patokan untuk memperingati Hari Perempuan Internasional.(rot)

Bagaimana menurut pembaca?