Hutan Mangrove Karangsong, Raup Rp1 Miliar/Tahun dari Penjualan Tiket (4-Habis)

92
Eko wisata hutan mangrove Karangsong di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. (Foto: Hasanuddin/Tengokberita.com)

Indramayu, Tengokberita.com – Sejak Juni 2015, Karangsong telah menjadi salah satu daerah tujuan wisata baru di Kabupaten Indramayu yang mengusung konsep ekowisata. Sejak itu pula, banyak wisatawan berdatangan ke Karangsong.

Pada hari libur besar seperti libur Natal dan Tahun Baru seperti kemarin, pengunjung yang datang rata-rata mencapai 2.000 orang. Bahkan bisa lebih,” kata Eka Tarika (47), Ketua kelompok masyarakat Pantai Lestari yang menjadi pengelola Eko Wisata Hutan Mangrove Karangsong.

(baca: Hutan Mangrove Karangsong, Jadi Rumah Bagi Ribuan Ekor Burung (3))

SAVE OUR MANGROVE, Hutan Mangrove Karangsong. (Foto:Hasanuddin/Tengokberita.com)

Dari hasil penjualan tiket, kelompok masyarakat Pantai Lestari yang dipimpin Eka, bisa meraup lebih dari Rp1 miliar dalam setahun. Pendapatan penjualan tiket itu telah dibelanjakannya untuk membeli kapal motor sebanyak tiga unit, menggaji karyawan, melakukan perawatan kawasan Karangsong, dan menyumbang Rp30 juta bagi Pemerintah Kabupaten Indramayu dalam bentuk PAD (Pendapatan Asli Daerah).

Setelah ekowisata Karangsong berkembang pesat, banyak pihak datang kepadanya untuk menawarkan kerjasama dalam bentuk penyediaan aneka permainan wahana air seperti banana boat, jetski, dan aneka wahana permainan air lainnya. Belum lagi kerjasama dalam bentuk pembangunan fisik hingga kerjasama dalam pengelolaan.

Tetapi semua tawaran menggiurkan itu ditolak Eka dan teman-temannya yang tergabung dalam kelompok masyarakat Pantai Lestari. Sesuai nama kelompoknya, ia hanya ingin kawasan hutan Mangrove Karangsong bisa tetap lestari hingga jauh ke depan. Begitu pula dengan pantainya yang akan tetap terus dipertahankan kemurnian dan kealamiannya.

Alam telah memberikan begitu banyak berkah kepada kita semua. Bukan saja kepada manusia, tetapi para satwa. Dulu Karangsong adalah kawasan pantai yang gersang, kering, dan sering terjadi abrasi. Tak ada satu ekor burung pun mau singgah di Karangsong. Begitu pula dengan ikan, udang, dan satwa-satwa air lainnya.

Tetapi sekarang, berbagai spesies burung yang jumlahnya ribuan ekor kini tak sekadar singgah tapi sudah menjadikan Karangsong sebagai habitat mereka. Begitu pula dengan ikan, udang, dan beberapa satwa air lainnya yang kini menjadikan akar hutan bakau sebagai tempat mereka bertelur dan meneruskan generasi demi generasinya. Para nelayan pun tak perlu lagi pergi jauh ke tengah laut untuk menangkap ikan.

Jangan ganggu dan usik lagi alam, karena alam akan memberikan segalanya tanpa diminta dan tanpa syarat apapun. (Hasanuddin)

Bagaimana menurut pembaca?