Ikan Makarel Bercacing, dari Ketidakberdayaan Konsumen Hingga Happy Ending

2347

Refleksi, Tengokberita.com– Masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat konsumen sempat terhentak dengan pemberitaan media massa mengenai temuan cacing di dalam ikan makarel yang dikemas di dalam kaleng.

Pasalnya, produk ikan makarel adalah produk yang cukup familiar dengan lidah mayoritas masyarakat Indonesia lantaran sering dikonsumsi karena rasanya nikmat, praktis dan kandungan gizi terutama proteinnya cukup tinggi.

Temuan itu membuat media massa termasuk media sosial mengangkat kasus itu hingga menjadi salah satu isu teratas atau yang dalam bahasa kekinian disebut viral. Ini karena intensitas pemberitaan terhadap kasus ikan makarel bercaing itu cukup tinggi. Sebelum menjadi sorotan pers nasional, berita makarel viral lebih dulu dalam bentuk video yang menyebar melalui instrumen media sosial alias medsos.

(baca: Geger Ikan Makarel Bercacing: BPOM “Mandul”, Pemerintah Kemana?)

Dalam video tersebut terlihat ada temuan cacing dalam produk ikan makarel kalengan bermerk Farmer Jack Mackarel. Video itu mulai menyebar pada 16 Maret 2018 atau setidaknya pada pertengahan Maret 2018 lalu, di Kecamatan Bukit Batu, Kabupaten Bengkalis, Riau.

Menindaklanjuti materi video berisi cacing dalam kemasan Ikan Makarel yang beredar, BPOM Kota Pekanbaru melakukan inspeksi mendadak (sidak) sekaligus uji laboratorium terhadap produk ikan kalengan sejenis. Lebih-lebih temuan cacing pada ikan makarel juga terjadi di Kota Tembilahan dan Kota Selat Panjang. Hasil uji laboratorium yang dilakukan BPOM Pekanbaru menunjukkan tiga merk produk Ikan Makarel impor bermerek IO, Farmer Jack, dan HOKI terbukti mengandung cacing.

( baca: Ikan Makarel Kaleng Bercacing)
Secara nasional, BPOM RI juga bergerak dengan melakukan uji laboratorium terhadap 66 merk ikan kaleng yang beredar di pasaran. Hasil yang didapat dari uji lab tersebut ditemukan 27 merk mengandung cacing dengan klasifikasi produk ; 16 merk produk impor dan 16 merk produk lokal. BPOM juga menarik kesimpulan dalam penelitiannya terkait produk lokal yang mengandung cacing karena faktor bahan baku yang berasal dari luar negeri.

Temuan itulah yang kemudian menjadi bahasan Tengokberita.com selama sepekan. Tengokberita.com mencoba menggali informasi dari sejumlah ahli mikrobiologi di Institut Pertanian Bogor, mewawancarai produsen makarel dan juga konsumen dari Makarel sendiri.
Semua digambarkan dengan detail, mulai dari awal mula masalah itu muncul hingga tangungjawab hukum dari produsen dikupas tuntas oleh Tengokberita.com.

Berita makarel ini mendapatakan respon beragam dari masyarakat pembaca Tengokberita.com. Bahkan, Maya Food Industries memberikan klarifikasi langsung mengenai dominasi produknya dalam kasus ikan makarel tersebut.

(baca: Sengkarut Ikan Makarel Bercacing di Tengah Ego Sektoral, Masyarakat & Kepentingan Asing)

Lantas bagaimana sekarang?

Saat ini konsumen tak lagi mempersoalan kasus itu. Apalagi, BPOM yang sebelumnya mengatakan dampak buruk bila mengonsumsi makarel bercacing, berputar haluan 180 derajat setelah melakukan kunjungan dan melihat langsung proses pengolahan ikan di CV Pasific Harvest, Kecamatan Muncar, Banyuwangi. BPOM berkesimpulan ikan makarel kaleng aman dikonsumsi.

BPOM RI mengimbau masyarakat tak perlu lagi khawatir dengan isu cacing dalam kaleng ikan makarel. Bahkan untuk meyakinkan masyarakat, Kepala BPOM RI, Penny Kusumastuti Lukito bersama dengan perwakilan Kementerian Kelautan dan Perikanan serta Kementerian Perindustrian menyatap ikan makarel kalengan bersama-sama.
Peni mengatakan Ikan kaleng makarel ini mengandung protein dan kalsium. Baik untuk anak-anak. “Sekarang tidak ada masalah lagi, aman bermutu dan bernutrisi,” ujar Penny beberapa saat lalu.

(baca: Diberitakan Dominasi Produk Ikan Makarel Bercacing, Ini Klarifikasi Maya Food Industries)

Diakui Penny, temuan cacing dalam kaleng ikan makarel oleh BBPOM Surabaya beberapa waktu lalu, hanya terdapat pada batch tertentu saja. Saat ini pun batch itu sudah ditarik dari peredaran.

Penny menegaskan jika saat itu BPOM meminta penghentian produksi. Hal itu untuk melindungi masyarakat. Namun, setelah dilakukan pengecekan di lapangan pengolahan ikan sesuai dengan prosedur yang ditetapkan. “Kini giliran kami melindungi pelaku usaha. Sudah aman dikonsumsi masyarakat,” Penny menambahkan.
Penny menjamin makanan ikan kaleng yang sempat disetop produksinya itu sudah layak untuk dikonsumsi. (tim)

Bagaimana menurut pembaca?