Home » News » Blak-Blakan » Indikasi Terjadi Kecurangan Secara TSM, Dikondisikan Paslon Kalah Cuma Bisa Gigit Jari
acta, ahok, pilkada dki, ahok, djarot

Indikasi Terjadi Kecurangan Secara TSM, Dikondisikan Paslon Kalah Cuma Bisa Gigit Jari

Jakarta, Tengokberita.com – Advocat Cinta Tanah Air menilai Pilkada DKI putaran pertama yang digelar pada 15 Februari kemarin dinilai kebobolan. Alasannya berdasarkan pada banyaknya kejanggalan yang mengindikasikan adanya kecurangan yang dilakukan secara sistematis. Lantaran itu, Advocat Cinta Tanah Air (ACTA) menyiapkan “kuda-kuda” guna mengantisipasi terjadinya kecurangan-kecurangan yang bakal timbul di putaran ke dua.

Belajar dari pengalaman putaran pertama, pada putaran kedua nanti tidak ada cerita, persoalan yang terjadi di TPS diselesaikan di KPUD. Persoalan-persoalan yang terjadi di TPS nanti, akan seluruhnya kita selesaikan di TPS, atau paling tidak di tingkat kecamatan, jangan sampai di selesaikan di tingkat KPUD,” kata Wakil Ketua Umum ACTA, Ade Irfan Pulungan, Jumat (24/2/2017).

Sebab, kata Ade Irfan, kalau diselesaikan di tingkat KPUD, terlalu riskan dan beresiko. “Kita akan kawal di TPS sampai di tingkat Kecamatan. Karena kalau sampai di tingkat KPUD, repot. Khawatir karena ambang batas yang ditetapkan undang-undang tidak mencapai syarat untuk bisa digugat. Artinya kalau tidak sampai ambang batas minimal, paslon yang dirugikan bakal gigit jari karena tidak bisa menggugat ke MK,” beber Ade Irfan.

(Baca: Mengerikan! ACTA Beberkan Indikasi Kecurangan untuk Memenangkan Ahok-Djarot)

Berdasarkan itu, Ade Irfan mengatakan, bisa diduga telah terjadi ada upaya terstruktur, sistematis, dan masif untuk memenangkan Paslon tertentu. “Kejadian-kejadian itu, kalau dirangkai, dari mulai adanya surat suara yang melebihi daftar pemilih tetap dikaitkan dengan adanya penggunaan KTP palsu, lalu pemilihan ulang yang dilakukan pada akhirnya menyebabkan suara Paslon No.2 anjlok, patut diduga telah terjadi upaya yang terstruktur, sistematis, dan masif untuk memenangkan calon itu,” tambahnya.

Kami lantas menanyakan, apakah mungkin hal itu bisa dilakukan dengan melakukan setting selisih suara yang tidak melebihi ambang batas yang ditetapkan undang-undang ? Di lain sisi, di TPS juga ada saksi-saksi dan pengawas pemilu lainnya. Ade Irfan menjawab, “Karena itulah kami menduga terjadi upaya terstruktur, sistematis, dan masif itu. Dugaan memuluskan itu, di TPS juga terjadi politik uang, tentunya untuk daerah-daerah yang memang sudah dikondisikan,” kata Ade Irfan menegaskan. Untuk itu ACTA tidak mau lagi sampai kecolongan. “Masalah di TPS, kita kawal di TPS hingga tuntas, tidak sampai KPUD. Kami siapkan minimal 2 orang Advokat yang tergabung dalam Tim Reaksi Cepat (TRC),” kata Ade Irfan lagi.

Langkah yang sama juga dilakukan Fahira IDris, anggota DPD yang menggalan g Jawara dan Pengacara, disingkat Japat untuk mengawal putaran ke dua Pilkada DKI. “Iwan Kotak-Kotak mungkin akan selalu hadir di setiap saat dan setiap tempat. Mengintimidasi, mengancam, dan mempermainkan hukum dan Tuhan dan hukum negara,” kata Fahira Idris.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Related Post

hti, pemerintah, wawancara

‘Apa Salah Jika Kami Punya Cita-cita?’ (3-Habis)

Kapan Hizbuth Tahrir hadir di Indonesia? Sudah sejak tahun 1980-an. Tetapi secara resmi, HTI hadir ...

Indikasi Terjadi Kecurangan Secara TSM, Dikondisikan Paslon Kalah Cuma Bisa Gigit Jari

Tengok Berita red tengokberita.com Berita Hari ini: 2 min
0