Ini Nama-Nama Calon Deputi Penindakan KPK, Siapa Unggul ?

178

Jakarta, Tengokberita.com-Kejaksaan Agung telah mengirimkan 7 nama jaksa untuk mengikuti seleksi sebagai calon Deputi Penindakan KPK. Jaksa Agung menjamin nama-nama yang dikirim adalah sosok profesional dan memenuhi kualifikasi untuk menempati posisi yang ditinggal oleh Irjen Pol Heru Winarko tersebut.

“Mereka adalah jaksa-jaksa yang berpengalaman jadi Kajati. Berkompeten, siapa pun yang kita kirim ke sana itu sudah kita jamin profesionalitasnya,” ujar Prasetyo di kantornya, Jalan Sultan Hasanuddin, Jakarta Selatan, Jumat (9/3/2018).

Tujuh nama yang dikirim tersebut terbilang bukan sembarang tunjuk. Mereka adalah sosok yang memiliki pengalaman menangani proses hukum serta integritasnya cukup terjaga. Kemampuan mereka juga mumpuni dalam menangani proses penyelidikan, penyidikan, penuntutan, dan melakukan upaya hukum. Prasetyo memang enggan menyebutkan nama-nama mereka. Namun, informasi yang didapat dari sumber Tengokberita.com mengatakan bahwa nama-nama yang diajukan itu antara lain: Feri Wibisono, Fadil Zumhana, Heffinur, Wisnu Baroto, Wiyono, Warih Sadono dan TR Silalahi.
Feri Wibisono saat ini adalah Staf Ahli Jaksa Agung untuk bidang Pembinaan.

Bagi orang-orang di KPK, lelaki yang pernah menjabat sebagai Kajati Jawa Barat bukanlah sosok asing. Dia pernah menjadi Direktur Penuntutan Komisi Pemberantasan Korupsi. Nama Feri memang cukup populis di bidang pemberantasan korupsi. Bisa dibilang tak ada cerita kelam pada diri mantan Kajati Banten itu. Hanya saja, ada satu cerita tak enak saat dia menjadi Kajati Jawa Barat, yakni ketika anak buahnya Jaksa Devianti Rohaeni, ditangkap KPK melalui OTT atas sangkaan menerima suap dengan perkara BPJS Kabupaten Subang.

Sementara Fadil Zumhana, adalah Sekretaris Jaksa Agung Muda Pidana Khusus Kejaksaan Agung. Mantan Kepala Kejaksaan Tinggi Kalimantan Timur ini juga nama yang diusulkan oleh Kejaksaan Agung untuk bersaing dengan nama-nama lain Nama yang juga tidak asing di jajaran KPK adalah Direktur Penyidikan Jampidsus Kejagung Warih Sadono.

Warih merupakan mantan Deputi Penindakan Komisi Pemberantasan Korupsi, jabatan yang ditinggalkan oleh Heru Winarko. Sebelum menjabat Deputi Penindakan, Warih Sadono adalah Direktur Penuntutan KPK sejak 25 Juli 2011. Pria kelahiran Tegal, 1 Maret 1963, ini mengawali karier di KPK sebagai Penuntut Umum pada 2004 hingga 2005. Sebelum di KPK, lulusan Fakultas Hukum Universitas Atmajaya Yogyakarta (1987) dan S-2 Hukum Perdata pada Universitas Padjajajaran (2005) ini menjabat Kapuspenkum Bidang Hubungan Media Massa (2005-2007), Kepala Kejaksaan Negeri Kota Batu, Jawa Timur (2007-2010), dan Asisten Pengawasan pada Kejaksaan Tinggi Bali (2010). Warih memiliki kapabilitas, kompetensi, dan track record yang tidak diragukan lagi untuk kembali menjadi bagian dari KPK. Dia dianggap mampu menghadapi tantangan KPK ke depan yang semakin kompleks.

Betapapun Warih merupakan salah satu unggulan, sikapnya tetap low profile. Tatkala tengokberita.com menyapanya, Warih seolah acuh dengan penunjukan itu. “Masa mantan Deputi ke Deputi lagi,” ujar Warih sedikit berseloroh.

Setelah Warih, ada Direktur Penuntutan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Korupsi Kejaksaan Angung, Heffinur. Sebelumnya adalah Jaksa Fungsional pada Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus.
Direktur Eksekusi dan Eksaminasi Jampidsus Kejagung Wisnu Baroto, kabarnya juga nama yang diusulkan. Wisnu juga bukan pendatang baru di KPK. Wisnu pernah menjadi penuntut umum di lembaga anti rasuah saat masih dipimpin Busyro Muqoddas.

Kabiro Humas KPK Febri Diansyah mengatakan baik Polri maupun Kejaksaan sudah mengirimkan nama untuk posisi Deputi Penindakan dan Direktur Penyidikan KPK. Seleksi dari kalangan internal juga sedang dibuka pendaftaran. Untuk sementara, posisi Plt Deputi Penindakan KPK dipegang oleh pimpinan secara bergantian.

Sementara itu, Polri sudah mengirim tiga nama sebagai kandidat calon pengganti Heru Winarko untuk mengisi jabatan Deputi Penindakan KPK. Polri menutup rapat identitas tiga calon yang diajukan. “Kalau tidak salah, sudah mengajukan tiga nama dari Polri dan 7 dari Kejaksaan,” ujar Kadiv Humas Polri Irjen Setyo Wasisto di Hotel Golden Boutique, Melawai, Jakarta Selatan, belum lama berselang.

Namun, Setyo, tidak menyebut nama yang dimaksud. Dia hanya menunjukkan kriteria yakni minimal bintang satu senior yang siap untuk naik bintang dua. “Prinsipnya adalah ini kan deputi penindakan, tentunya kriterianya adalah orang-orang yang mempunyai kapasitas sebagai penyidik,” ujar dia. Kabar yang berembus di kalangan media, polri menyiapkan Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus Brigjen Pol Agung Setya dan Kapolda NTB Brigjen Pol Filri. Keduanya dikabarkan disodorkan untuk mengisi calon Deputi Penindakan KPK. Agung adalah alumni Akpol angkatan 1988.

Usai dilantik sebagai perwira polisi berpangkat Letnan Dua (sekarang Ipda), ia bertugas menjadi Perwira Samapta (Pamapta) di Polres Salatiga. Tahun 1989, dirinya mulai memasuki dunia Reskrim dan menjabat Kepala Bagian Operasional (KBO) atau wakil Kasat Reskrim. Agung pernah menjadi Kapolres Bengkulu sampai akhirnya ditarik ke Mabes Polri, menduduki posisi Kanit III Dit II/ Ekonomi dan Khusus, Bareskrim. Berada di Bareskrim inilah nama Agung Setya mulai menanjak, berbagai kasus besar bidang ekonomi berhasil dibongkarnya.

Ketika pangkat Komisaris Besar (Kombes) Agung dipromosikan menjadi Wakil Direktur Tipideksus. Selanjutnya saat Brigjen Pol Bambang Waskito selaku Direktur Tipideksus dimutasi, Agung ditunjuk untuk menggantikannya hingga sekarang.

Sedangkan Brigjen Pol Firli lulusan Akpol 1990 ini berpengalaman dalam bidang reserse. Karir kepemimpinannya ditandai usai lulus Sespim tahun 2004. Setelah rangkaian proses itu, mulailah Firli masuk pada jabatan strategis dari tingkat Mapolres ke Mapolda.
Pada tahun 2001, Firli menjabat Kapolres Persiapan Lampung Timur. Karirnya berlanjut dengan ditarik ke Polda Metro Jaya menjadi Kasat III Ditreskrimum. Selanjutnya dua kali berturut turut menjadi Kapolres, yakni Kapolres Kebumen dan Kapolres Brebes.

Karirnya semakin moncer ketika ditarik ke ibukota menjadi Wakapolres Metro Jakarta Pusat tahun 2009 lalu. Dia juga pernah menjadi Asisten Sespri Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tahun 2010. Keluar dari istana, lantas memegang jabatan Direskrimsus Polda Jateng tahun 2011. Firli kembali ke istana dan menjadi ajudan Wapres RI tahun 2012, saat Wapresnya Boediono.

Kemudian menjabat Wakapolda Banten tahun 2014 dan meraih pangkat bintang satu ketika menjabat Wakapolda Jawa Tengah dan sekarang Kapolda NTB. Kini, para calon sudah diajukan tinggal keputusan akhir berada di tangan KPK. Siapa di antara calon-calon itu yang akan menggantikan Heru Winarko.

Kita berharap penggantinya bisa lebih agresif dalam melakukan penindakan terhadap para koruptor. Seperti hadits riwayat Muslim “Barang siapa di antara kalian melihat suatu kemungkaran hendaklah ia mengubah dengan tangannya; jika tidak mampu, maka dengan lisannya; jika ia masih tidak mampu, maka dengan hatinya dan itu adalah selemah-lemahnya iman.” (rot)

Bagaimana menurut pembaca?