Ini yang Akan Terjadi Jika Anak Kurang Gizi

Kekurangan gizi yang diderita anak, menyebabkan pertumbuhan otak anak tidak maksimal. Pada gilirannya, tingkat kecerdasan anak akan terganggu.

Jakarta, Tengokberita.com – Para orangtua perlu memerhatikan asupan gizi anak pada masa kritis yaitu usia 1-3 tahun. Selain menyebabkan ganguan pada perkembangan otak anak, kekurangan gizi dapat menyebabkan gangguan fisik. Selain itu, kurang gizi juga mempercepat penyakit degeneratif.

Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskedas) tahun 2010 kasus kurang gizi pada anak masih sekitar 17,9 persen. Menurut Ketua Unit Kerja Koordinasi Nutrisi dan Penyakit Metabolik Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Dr. dr. Damayanti Syarif, Sp. A (K) bahwa erat kaitannya antara kurang gizi dan kecedasan anak.

Anak yang gizinya buruk, IQ-nya rendah. Anak yang gizinya bagus, IQ-nya tinggi,” kata Damayanti dalam acara Media Workshop Indofood Nutrision di Jakarta.

(baca: Ini 13 Manfaat Kayu Manis Bagi Kesehatan)

Damayanti menjelaskan bahwa berdasarkan data World Health Organization (WHO), kurang gizi menjadi penyebab tidak langsung kematian satu dari tiga orang anak.

Kekurangan gizi sendiri dibagi menjadi dua, yaitu kurang gizi primer dan sekunder. Kurang gizi primer umumnya terjadi di pedesaan, sebaliknya kurang gizi sekunder terjadi di perkotaan.

Anak di perkotaan biasanya menderita kasus malnutrisi sekunder, di mana penderita mengalami gangguan peningkatan berat badan atau gagal tumbuh karena gangguan sistem tubuh anak. Sedangkan di pedesaan, biasanya anak mengalami ganguan malnutrisi primer di mana keadan kurang gizi disebabkan oleh asupan protein maupun energi yang kurang akurat,” kata Damayanti.

Seorang anak kurang gizi di Yaman, (Foto: Reuters)

Damayanti pun menjelaskan, sangat erat kaitannya antara kemiskinan dan kekurangan gizi. Ia pun mersakan tidak mudah mengatasi persoalan kekurangan gizi pada masyarakat yang kurang mampu. Namun, ia tetap menyarankan kepada masyarakat kurang mampu untuk tetap memperhatikan asupan gizi pada anaknya dengan mengolah bahan makanan yang ada di sekitarnya.

Waktu bertugas sebagai dokter di daerah terpencil, saya bersama masyarakat di daerah tersebut mengolah bahan makanan dari sumber yang ada. Kombinasi dari sumber makanan yang ada, itu bisa memenuhi asupan gizi yang baik,” ujar Damayanti.

Untuk membantu mengatasi perrsoalan kurang gizi pada anak, memang perlu ada orang yang konsen untuk mengampanyekan pentingnya asupan gizi. Ia menilai di era internet ini, pengetahuan tentang gizi yang bagus harusnya lebih baik.

Dulu saja sebelum ada internet, saya mencari bahan-bahan tentang makanan dengan gizi yang baik. Dari bahan-bahan yang ada, saya praktikkan kepada masyarakat,” tutur Damayanti. (has)

Bagaimana menurut pembaca?