Kalkulasi Setnov dan Paranoid Syndrome

persekusi, kapolri, hukum

OLEH : HASANUDDIN
SENIOR JOURNALIST TENGOKBERITA.COM

Jakarta, Tengokberita.com – Setya Novanto kembali tidak hadir memenuhi panggilan penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Rabu (15/11/2017). Kali ini Setnov tidak hadir dalam kapasitasnya sebagai tersangka pada kasus korupsi KTP-E.

Ketidakhadirannya ke KPK pada Rabu itu memang sudah diprediksi sebelumnya. Sebab saat dipanggil dalam kapasitasnya sebagai saksi untuk tersangka Anang Sugiana Sudihardjo dalam kasus sama, Setnov bahkan sampai tiga kali mangkir.

Ketua DPR RI itu selalu saja mencari alasan untuk tidak hadir di KPK. Awalnya ia berdalih sedang melakukan tugas negara. Tapi belakangan berlindung di bawah payung hukum UU MD3, bahwa pemeriksaan anggota DPR harus mendapat izin dari Presiden RI.

Dan, alasan kedua itu belakangan begitu gencar digaungkan Fredrich Yunadi, kuasa hukum Setya Novanto. Fredrich bahkan terus berceloteh agar Presiden, TNI, dan Polri melindungi Setya Novanto.

Tak pelak, celotehan Fredrich membuat kesal Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla (JK). Wapres JK tegas mengatakan bahwa pemeriksaan Setya Novanto tidak perlu dan tidak harus ada izin dari Presiden RI.

Tapi Setnov tak berhenti sampai di situ. Lewat tim kuasa hukumnya, Ketua Umum Partai Golkar itu mengajukan gugatan uji materi (judicial review) atas Pasal 46 UU KPK ke Mahkamah Konstitusi (MK). Nah, berbekal dalih ini, Setnov mangkir dari panggilan pertamanya sebagai tersangka kasus megakorupsi KTP-E pada Rabu hari ini.

Soal mangkir dari panggilan aparat penegak hukum, memang bukan kali ini saja dilakukan mantan Bendahara Umum Partai Golkar tersebut. Pada 2016 silam, ia juga tiga kali mangkir dari panggilan penyidik Kejaksaan Agung dalam kasus permufakatan jahat PT Freeport Indonesia yang kemudian dikenal dengan istilah ‘Papa Minta Saham.’

Kenapa Setya Novanto selalu mangkir bin berkelit setiap berurusan dengan hukum? Tentu hanya Setya Novanto yang tahu.

Tetapi paling tidak, seorang Setya Novanto pastilah sudah memiliki kalkulasi tersendiri atas sikapnya yang selalu mangkir dari panggilan aparat penegak hukum.

Di pundaknya, ada dua jabatan strategis dan penting yang tengah diembannya yaitu Ketua Umum Partai Golkar dan Ketua DPR RI. Karena itu, pada dirinya, melekat erat dua lembaga besar tersebut; Setnov adalah Golkar dan Setnov adalah pimpinan DPR.

(Baca: Berkilah Pidato, Setya Novanto Mangkir Pemeriksaan KPK)

Sebagai ketua umum dari sebuah partai politik besar dan paling berpengalaman serta pernah tiga dekade menjadi parpol dominan di republik ini, Setnov tentu sudah memperhitungkan segala konsekuensinya dengan secara sadar apabila dia memenuhi panggilan aparat penegak hukum.

Sebagai orang nomor satu di Golkar, Setnov tentu saja tidak mau jika partai berlambang pohon beringin itu runtuh tertiup badai hukum yang menimpa dirinya. Setnov paham betul, pesta demokrasi lima tahunan sudah di depan mata.

Keruntuhan bisa menjadi senjata utama bagi kegagalan dalam mendulang suara di Pemilu 2019 sebab rakyat sudah merasa tidak simpatik lagi kepada Golkar.  Karena itu, belakangan Setnov terus merapatkan barisan dengan para Ketua DPD Golkar se-Indonesia yang dinilainya masih loyal terhadap dirinya. Dan keluarlah suara: Golkar tetap solid.

Sebagai Ketua DPR RI, Setnov tentu saja tidak mau kehilangan muka. Setnov sadar dan paham betul posisinya sebagai orang nomor satu di lembaga legislatif, sebuah lembaga negara yang menjadi dominan di iklim Reformasi di negeri ini.

Bermodalkan powernya sebagai Ketua DPR RI, Setnov memainkan perannya dengan tujuan ganda; menyelamatkan dirinya dari jerat hukum sekaligus membuat Partai Golkar tetap berdiri tegak. Itu sebab kemudian tercipta Pansus Angket KPK.

Sesungguhnya, apa yang dilakukan Setya Novanto belakangan ini tak lebih dari sebuah ketakutan berlebihan yang dalam medis dikenal dengan istilah paranoid (paranoia) syndrome. Paranoid didefinisikan sebagai gangguan mental yang diderita seseorang yang meyakini bahwa orang lain akan membahayakan dirinya.

Gejala paranoid ditandai proses pikiran yang terganggu yang cirinya berupa kecemasan atau ketakutan yang berlebihan secara tidak rasional dan timbul delusi. Pemikiran paranoid biasanya disertai anggapan akan dianiaya oleh sesuatu yang mengancamnya.

Barangkali…jika premisnya dibalik, bukan tidak mungkin hasil yang akan diperoleh justru sebaliknya seandainya saja Setya Novanto taat pada hukum dengan memenuhi segala panggilan dari aparat penegak hukum kepada dirinya.

Barangkali…rakyat justru akan menjadi simpati kepada Golkar, kepada DPR RI, dan kepada diri pribadi Setya Novanto. Sebagai pemimpin, ia telah menjadi teladan bagi rakyat untuk menjadi orang yang bertanggung jawab penuh atas segala tuduhan yang dialamatkan kepadanya.

Barangkali….****

 

Bagaimana menurut pembaca ?