Karya-karyanya Banjiri Pasar, Siapakah Enny Arrow? (bag 1)

28

Jakarta, Tengokberita.com – Generasi yang lahir di era milenial, barangkali tidak ada yang tahu Enny Arrow. Jangankan membaca karya-karyanya, mendengar namanya pun dijamin tidak pernah.

Namun bagi generasi yang lahir di tahun 1960an, 1970an, dan 1980an atau mereka yang sudah beranjak remaja di tahun 1970an, 1980an, dan sedikit di awal tahun 1990an, nama Enny Arrow begitu melekat. Karya-karyanya seakan menjadi ‘bacaan wajib’ kaula muda di era itu, utamanya 1960an hingga 1980an.

Karya-karya Enny Arrow dikenal dengan sebutan “Stensilan.” Sebutan ini mengacu pada jenis kertas yang digunakan pada setiap karyanya di awal-awal kelahirannya di pertengahan tahun 1960-an. Stensil adalah salah satu jenis kertas berwarna buram dan bertekstur kasar.

Karya-karya Enny Arrow adalah bacaan dewasa yang disajikan secara vulgar. Naskah ceritanya diketik dengan menggunakan mesin tik, dicetak dan diperbanyak dengan menggunakan kertas jenis stensil oleh penerbit Mawar.

Dicetak dalam bentuk buku saku, buku yang berukuran kantong saku. Setiap karyanya ditulis dengan jumlah yang tak lebih dari 40 halaman sehingga terbilang tipis untuk ukuran sebuah buku.

Bentuknya yang demikian, tampaknya sengaja dibuat atas permintaan pasar supaya buku tersebut mudah dibawa ke mana saja sekaligus gampang disembunyikan apabila ketahuan orangtua atau siapa saja yang merasa jengah atas karya Enny Arrow.

Karya-karya Enny Arrow tidak ada yang diedarkan dan dipasarkan di toko-toko buku. Seluruhnya diedarkan dan dijual di lapak-lapak buku emperan toko seperti di Pasar Senen Jakarta Pusat dan Blok M Jakarta Selatan.

Belakangan, mengingat larisnya penjualan, karya-karya Enny Arrow juga dijual secara sembunyi-sembunyi di agen-agen koran. Dipasarkan oleh para loper koran. Biasanya para loper koran di terminal bus atau stasiun kereta, akan menyelipkan karya Enny Arrow di dalam koran yang dijualnya.

Target mereka adalah kawula muda, baik yang berada di dalam bus maupun para calon penumpang yang banyak menunggu di terminal maupun stasiun. Jika penumpang tidak menghiraukan koran yang sengaja mereka taruh di pahanya, si penjual akan segera memberi kode supaya si penumpang melihat dulu apa yang ada di dalam koran yang ditawarkannya.

Kode itu bisa berupa mata atau terkadang sengaja mencolek tubuh si penumpang dan memintanya untuk membuka apa yang ada di dalam lipatan koran yang ditawarkannya. Saking larisnya, banyak karya Enny Arrow yang digandakan dengan cara difotokopi lalu dijual di terminal-terminal bus dan stasiun kereta.

Pada mulanya, karya-karya Enny Arrow dicetak begitu saja dalam kertas stensil. Pada bagian cover, hanya tertulis nama Enny Arrow di bagian atas, judul di tengah, dan nama Penerbit Mawar di bagian bawah yang disertai dengan cap setangkai bunga mawar.

Belakangan, pada bagian cover dibuat lukisan tangan sepasang muda mudi. Di pertengahan tahun 1980an, bagian cover mulai dibubuhi gambar-gambar wanita seksi yang lebih didominasi oleh wanita asing. Di penghujung 1980an hingga awal 1990an, bagia covernya sudah dibuat lebih bagus dengan kualitas cetakan yang lebih bagus pula.

Kertas stensil sejak pertengaha 1980an, mulai ditinggalkan dan digantikan dengan jenis kertas yang lebih bagus. Karya-karya terakhirnya bahkan sudah diketik menggunakan komputer yang kala itu masih menggunakan program Dos dan WS 3 atau 4.

Untuk karya-karyanya yang terakhir, terutama yang terbit pada pertengahan 1980an hingga awal 1990an, santer disebut bukan Enny Arrow asli. Banyak orang yang melakuan penulisan serupa, namun menggunakan brand Enny Arrow supaya laku.

Fakta itu sempat menimbulkan tanya, apakah Enny Arrow adalah nama penulis atau hanya merek dagang (brand) ? Untuk mengetahui jawabannya, ikuti terus ulasan mengenai siapa itu Enny Arrow hanya di Tengokberita.com. (pink/has)

Bagaimana menurut pembaca?