Home » News » Kasus » Kasus Bayi Debora, Izin RS Mitra Keluarga Kalideres Bisa Dicabut
bayi, meninggal, rs

Kasus Bayi Debora, Izin RS Mitra Keluarga Kalideres Bisa Dicabut

Jakarta, Tengokberita.com – Rumah Sakit (RS) Mitra Keluarga Kalideres, Jakarta Barat yang menangani kasus Tiara Debora (4 bulan) hingga bayi tersebut meninggal dunia, bisa terancam sanksi berupa denda dan pencabutan izin.

Ancaman berupa sanksi administrasi ini bisa dikenakan lantaran RS Mitra Keluarga Kalideres bisa dinilai telah melanggar kewajibannya. Utamanya soal melaksanakan fungsi sosial sebagaimana diatur dalam Pasal 29 ayat (1) butir f UU No 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit.

Melaksanakan fungsi sosial dengan memberikan fasilitas pelayanan pasien tidak mampu/miskin, pelayanan gawat darutat tanpa uang muka, ambulan gratis, pelayanan korban bencana dan kejadian luar biasa, atau bakti sosial bagi misi kemanusiaan,” demikian bunyi Pasal 29 ayat (1) butir f UU No 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit.

Sanksi terhadap rumah sakit yang melanggar kewajibannya, diatur dalam Pasal 29 ayat (2). “Pelanggaran atas kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikenakan sanksi administrasi berupa: a. Teguran; b. Teguran tertulis ; c. Denda dan pencabutan izin rumah sakit.”

Dalam konteks kasus bayi Debora, RS Mitra Keluarga juga bisa dikenakan Pasal 29 ayat (1) huruf c UU No 44 Tahun 2009. “Memberikan pelayanan gawat darurat kepada pasien sesuai dengan kemampuan pelayanannya.”

Dikonfirmasi akan hal ini, Ketua Yayasan Pemberdayaan Konsumen Kesehatan Indonesia Marius Wijayarta membenarkan.

(Baca: Bayi Debora Menggugat Rasa Kemanusiaan Dokter dan Rumah Sakit)

Bagaimanapun rumah sakit wajib memberikan pelayanan darurat kepada pasien. UU Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit jelas menyebutkan bahwa Rumah Sakit wajib melaksanakan pelayanan gawat darurat sesuai dengan kemampuan dia. Kalau tidak mampu, artinya harus dirujuk. Tapi kan dia (RS Mitra Keluarga Kalideres, red) sudah punya PICU. Jadi, tidak usah menanyakan biaya, itu kewajiban,” kata Marius saat dihubungi tengokberita.com, Senin (11/9/2017).

Disinggung soal fungsi sosial, Marius menjelaskan bahwa meskipun badan hukum rumah sakit berbentuk Perseroan Terbatas (PT), rumah sakit berbeda dengan pabrik, supermarket, hotel, dan sebagainya.
Rumah sakit wajib memiliki fungsi sosial, sekalipun dia berbentuk PT. Hal ini juga sudah diatur dalam UU No 44 tahun 2009,” Marius menegaskan.

Sebagaimana diberitakan, Tiara Debora Simanjorang (4 bulan) meninggal dunia pada Senin (4/9/2017) pagi setelah menjalani perawatan di IGD RS Mitra Keluarga Kalideres, Jakarta Barat.

Anak kelima dari lima bersaudara pasangan Rudiantoro Simanjorang dan Henny Silalahi ini mengembuskan napas terakhir setelah enam jam berada di ruang IGD.

Seharusnya, bayi Debora menjalani perawatan di ruang PICU (Pediatric Intensive Care Unit) yaitu ruang gawat darurat khusus anak. Namun, karena orang tua bayi Debora hanya memiliki uang Rp7 juta, bayi Debora tak bisa masuk ruang PICU. RS Mitra Keluarga Kalideres mematok harga DP Rp19.800.000 untuk bisa masuk ruang PICU. (has)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Related Post

Ini Kronologi Jony Tikam Selingkuhannya Gara-gara ‘Mr P’ Nya Diledek Kecil

Kasus Bayi Debora, Izin RS Mitra Keluarga Kalideres Bisa Dicabut

Tengok Berita red tengokberita.com Berita Hari ini: 2 min
0