Kasus-Kasus Pernikahan Sejenis, Penggunaan Hak Asasi yang Terlarang

38

Society, Tengokberita.com– Kesakralan sebuah pernikahan ternodai oleh aksi pelanggaran hukum yakni munculnya pernikahan sejenis. Sebab hingga kini, pemerintah Indonesia tidak melegalkan pernikahan sejenis, antara laki-laki dengan laki-laki atau perempuan dengan perempuan.

Berdalih karena rasa saling mencintai, beberapa warga nekat melakukan pernikahan sejenis meski hal itu tergolong pelanggaran hukum, terutama UU No 1 tahun 1974 tentang Perkawinan. Dalam Pasal 1 UU perkawinan menyebutkan “Perkawinan ialah ikatan lahir bathin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Mahaesa”.
Namun, sepertinya mereka tak peduli dengan ketentuan itu. Mereka tetap melakukan berbagai cara untuk menempuh dan mengukuhkan cinta terlarang mereka itu ke jenjang pernikahan.
Di sisi lain, selain melanggar hukum, pernikahan sejenis di di Indonesia masih dianggap kontroversial karena bertentangan dengan norma-norma agama maupun budaya Indonesia bahwa perkawinan sesama jenis merupakan sebuah aib dan perbuatan amoral yang harus ditolak bahkan dikategorikan sebagai perbuatan dosa.

Sayangnya, aturan ini ‘ditabrak’ oleh kelompok yang pro terhadap pernikahan sejenis dengan alasan hak asasi manusia. Hal ini bisa dilihat dari kemunculan beberapa kasus pernikahan sejenis yang mengundang kehebohan publik Indonesia.

April 2011, Muhammad Umar (32), warga Kecamatan Jatiasih, Kota Bekasi, Jawa Barat, melaporkan kasus penipuan kepada polisi setelah yang bersangkutan menyadari bahwa ‘wanita’ yang dinikahinya sejak enam bulan silam ternyata berkelamin laki-laki.

Kapolsek Jatiasih kala itu, AKP Karosekali mengatakan terlapor yang bernama Rahmat Sulistiyo alias Fransiska Anastasya, telah ditangkap petugas di rumahnya Kampung Bojong RT-001/RW-002, Kelurahan Jatisari, Kecamatan Jatiasih, pada Rabu, 30 Maret 2011 lalu.

Kapolsek mengungkapkan pelaku berpura-pura menjadi wanita, kemudian menikah dengan korban Umar, di mana semua biaya pernikahan tersebut ditanggung oleh korban.
Pasangan Umar menikah dengan ‘wanita’ yang bernama Fransiska Anastasya itu pada 19 September 2010 di rumah korban dengan disaksikan orang tua masing-masing, setelah pasangan itu menjalin hubungan sejak Agustus 2010. Selama menjalin hubungan rumah tangga, kata Kapolsek, pelaku berperilaku layaknya seorang istri dengan selalu menggunakan jilbab dan pakaian wanita lengkap.

Bahkan untuk meyakinkan korban, pelaku selalu menggunakan pakaian tertutup untuk menyembunyikan bagian fisik tertentu.

Selama enam bulan berumah tangga, kata dia, korban dan pelaku melakukan hubungan intim layaknya suami istri dengan cara dilakukan pada malam hari dan lampu dimatikan total. Bahkan, pelaku kerap menolak berhubungan intim dengan posisi telentang dengan alasan mengalami gangguan pencernaan atau haid.
Korban Umar baru mengetahui kalau istrinya itu adalah laki-laki pada Selasa, 29 Maret 2011, setelah adanya informasi dari warga sekitar yang sempat mengenal kepribadian Fransiska Anastasya yang sesungguhnya.

Warga yang sempat mengenal Fransiska Anastasya menginformasikan bahwa wanita itu kerap berperilaku kasar dan memiliki jenggot serta berbadan tegap. Fransiska Anastasya juga sempat dituntut warga untuk memeriksakan fisik ke Klinik Maharani Medika di Gunung Putri, Kabupaten Bogor, guna mengetahui jenis kelamin yang sebenarnya.

Namun, Fransiska Anastasya pada akhirnya berhasil meyakinkan korban Umar dengan merekayasa surat keterangan dokter, bahwa yang bersangkutan benar-benar perempuan. Sayang kebohongan pelaku berhasil terbongkar berkat pengakuan pihak Klinik Maharani Medika yang menyatakan tidak pernah mengeluarkan surat keterangan tentang jenis kelamin kepada orang yang bernama Fransiska Anastasya.

 

Maret 2016

Kisah pernikahan sejenis kembali terjadi antara Andi Budi Sutrisno dan Didik Suseno yang menggegerkan Desa Teges Wetan, Kecamatan Kepil, Wonosobo. Pernikahan yang gagal itu masih menyimpan cerita haru. Andi, yang akrab disapa sebagai Andini, sempat merelakan kekasih prianya untuk menikahi wanita.

Fakta tersebut terungkap sesaat setelah izin menikah dua sejoli sejenis ini ditolak Kantor Urusan Agama (KUA) Kepil, Wonosobo pada Selasa, 8 Maret 2016. Andi yang juga Andini ini adalah Pria berusia 27. Ia telah meminta Didik kekasihnya untuk mencari wanita lain, sebagai ganti dirinya saat prosesi pernikahan pada Sabtu, 12 Maret 2016.

Namun, Didik malah marah dan tetap meminta Andi untuk menikah dengannya. Dua sejoli yang telah membina hubungan setahun itu kemudian tetap bersepakat melanjutkan tasyakuran pernikahan. Kepada Andi, Didik meminta agar mengaku telah melangsungkan pernikahan resmi di KUA Kepil.

Andini atau Andi datang ke rumah Didik di Purworejo dengan berpakaian layaknya pengantin perempuan setelah merias diri di salon Kecamatan Bruno, kemudian ketemu pihak keluarga Didik.
Kedua pasangan sejenis itu memberikan keterangan kepada keluarga jika telah menikah di KUA. Pihak keluarga Didik pun akhirnya bersepakat untuk menghadiri temu pengantin di rumah Andi pada Sabtu 12 Maret 2016 tersebut. Namun, prosesinya tak bisa dilangsungkan karena ternyata mereka sejenis.

Mei 2016

Lagi lagi pernikahan sejenis terulang di Kota Palu, Sulawesi Tengah. Sebut saja Donny (22), melaporkan istrinya berinisial TN alias CH, alias AG (20) yang dinikahinya pada 2015 ke polisi. Donny merasa ditipu, karena ternyata istri yang dinikahi resmi itu adalah seorang laki-laki. Jamrin, kuasa hukum Donny dari LBH Sulteng, mengatakan, peristiwa tersebut terjadi pada akhir 2014 silam. Saat itu Donny yang bekerja di sebuah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kota Palu sedang mengisi tangki sepeda motor milik seorang perempuan yang mengunakan pakaian perawat. Mereka pun berkenalan. Dalam perkenalan itu sang perawat yang bernama Anggraeni itu mengaku bekerja di sebuah rumah sakit Mandani di Kota Palu. Pertemuan itu terus belanjut hingga keduanya bertukar nomor telepon. Akhirnya mereka pun berpacaran. Singkat cerita, mereka memutuskan untuk menikah. Namun, orang tua sang wanita tidak bisa hadir, dan meminta agar orang tua Donny menikahkan anaknya.
Akhirnya pernikahan itu terjadi April 2015. Pesta perkawinan itu berlangsung cukup meriah. Dua ekor sapi disembelih untuk acara perkawinan tersebut. Namun akhirnya identitas Anggraeni terbongkar setelah delapan bulan menikah. Anggraeni istri Donny adalah seorang lelaki bernama Toni Haryanto.

September 2017

Rencana pernikahan Wilis Setyowati (26), warga Desa Sidoleren, Kecamatan Gebang, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, gagal. Calon suaminya ternyata wanita. Hal itu terungkap setelah keluarga Wilis curiga bahwa calon suami Wilis memiliki fisik dan suara yang tidak sama dengan laki-laki. Calon suami Wilis itu mengaku bernama Pratama asal Desa Binong, Kota Tangerang, Jawa Barat. Keluarga Wilis kemudian melaporkan Pratama ke kantor Polres Purworejo atas tuduhan pemalsuan identitas. Laporan tersebut dikuatkan dengan hasil pemeriksaan tim medis puskemas setempat terhadap Pratama. Hasil pemeriksaan tim medis diketahui bahwa calon mempelai pria ternyata wanita. Dia mengaku bernama Pratama, padahal nama aslinya Nova Aprida Avriani.

 

September 2017

Warga sebuah desa di Bulukumba, Sulawesi Selatan, dihebohkan dengan pernikahan sesama wanita. Pengantin wanita baru menyadari bahwa suaminya seorang perempuan pada malam pertama.
Pernikahan menghebohkan itu terjadi Minggu, 17 September 2017. Syarifah Nurul Husna (20) menggelar pesta pernikahan dengan pasangan sejenisnya, Rahmat Yani atau Rahmayani (26) di Erelebu, Desa Hila-Hila, Kecamatan Bontotiro.
Dalam foto yang beredar di media sosial, keduanya nampak seperti pasangan pengantin pada umumnya.
Mempelai perempuan terlihat cantik mengenakan busana pengantin bernuansa biru, lengkap dengan hijabnya. Sedangkan pasangannya pun terlihat layaknya seorang pria dengan perawakan tubuh yang sedikit tinggi dan kurus.

Hingga pesta selesai digelar, tak ada yang menyadari jika keduanya adalah sama-sama perempuan. Bahkan semua keluarga ikut larut dalam pesta pernikahan yang digelar meriah dua pekan lalu itu. Tak hanya pengantin perempuan dan keluarganya saja yang terkecoh. Kebohongan ini baru terbongkar ketika keduanya memasuki malam pertama. Peralatan ‘tempur’ milik Rahmat palsu. Rahmat bukan laki-laki tapi seorang wanita sama seperti Syarifah. (rot)

Bagaimana menurut pembaca?