Home » News » Refleksi » Kedunguan Tak Memiliki Batas
Geisz Chalifah

Kedunguan Tak Memiliki Batas

(Sebuah Kritik atas Film KAAL)

Oleh: Geisz Chalifah
Produser Jakarta Melayu Festival

FILM adalah karya seni, sebagaimana bentuk dan rupa aneka karya seni lainnya. Sebagai sebuah karya seni, tentu sang seniman tak bisa sebebas-bebasnya berekspresi.

Sebuah karya seni juga terikat pada aturan-aturan. Ada pakem yang harus dipatuhi dan ada norma serta etika yang harus dijunjung tinggi, sebab kita lahir, besar, dan tinggal di dunia belahan Timur.

Menyimak isi film pendek ‘Kau Adalah Aku yang Lain’ karya sutradara Anto Galon, tentu kita menjadi bertanya-tanya. Adakah norma dan etika pada film tersebut yang dijunjung tinggi?

Secara keseluruhan, film berdurasi tak lebih dari 7 menit itu memang telah mencerminkan sebagai karya seni. Sayang, film itu diisi dengan adegan dan dialog yang sama sekali tak menjunjung tinggi aspek norma dan etika. Bahkan cenderung mendiskreditkan Islam yang nota bene menjadi agama mayoritas di negeri ini.

Boleh dibilang, film ‘Kau Adalah Aku yang Lain’ karya Anto Galon itu adalah sebuah karya seni berupa sinematografi yang buruk. Inti dari film pendek tersebut, justru terletak pada adegan dan dialog yang menyudutkan agama Islam.

Apapun dalihnya, penggalan adegan dan dialog tokoh ‘Si Mbah’ dalam film tersebut telah mendiskreditkan umat Islam di Indonesia. Islam bisa ditafsirkan sebagai agama yang intoleran. Padahal, dalam kenyataan sehari-hari, adegan dan dialog seperti itu tidak pernah terjadi di Indonesia.

Ironisnya, meski terang benderang adegan dan dialog pada film itu menyakiti umat Islam di Indonesia, film ‘Kau Adalah Aku yang Lain’ justru mendapat penghargaan sebagai juara pertama pada ajang Police Movie Festival (PMF) ke-4 yang dihelat Divisi Humas Polri.

Entah tim juri atau si pemberi penghargaan tak faham film yang baik/buruk atau sedari awal memang sudah punya niat untuk menyudutkan Islam. Sangat terasa aneh jika film bernuansa SARA ini bisa lolos dari seleksi bahkan hingga dinyatakan sebagai juara, menyisihkan 240 film lainnya yang masuk panitia.

Kedunguan memang tak memiliki batas. Demikian budayawan Geisz Chalifah dengan sinikal menyikapi film Anto Galon yang kini sedang ramai dibahas netizen.

Menurut Geisz Chalifah, narasi film maupun plot cerita mencerminkan kedunguaan yang luar biasa dari sang sutradara. Bila polisi memberi penghargaan untuk film itu maka segeralah kita sadar bahwa aparat negeri ini memang tak memiliki akal sehat alias tidak waras.

Islam yang intoleran dalam film itu tidak menggambarkan watak umat Islam sebenarnya, melainkan mengekspresikan watak setan si pembuatnya.***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Related Post

RS Mitra Keluarga Hanya Diberikan Teguran Tertulis, Cukupkah?

OLEH: HASANUDDIN SENIOR JOURNALIST TENGOKBERITA.COM Jakarta, Tengokberita.com – Pemerintah lewat Dinas Kesehatan DKI Jakarta akhirnya ...

Kedunguan Tak Memiliki Batas

Tengok Berita red tengokberita.com Berita Hari ini: 2 min
0