Kelangkaan Elpiji 3Kg Bisa Menggerus Keberlangsungan UMKM

Pedagang mie ayam

Jakarta, Tengokberita.com – Kelangkaan elpiji (LPG, liquid petroleum gas) ukuran 3 kg yang kini tengah berlangsung, akan menimbulkan efek domino yang panjang.

Tak hanya menyulitkan kaum ibu rumah tangga tapi juga bisa menggerus keberlangsungan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang jumlahnya puluhan juta di Indonesia.

Anggota Komisi VI DPR RI Bambang Haryo bahkan menegaskan, kelangkaan elpiji 3kg yang kini terjadi, tak hanya di beberapa kota saja tetapi di seluruh Indonesia. Kalaupun ada, harganya sudah meroket ke angka Rp23.000 – Rp25.000 per tabung dari harga pasaran sebelumnya Rp18.000/tabung.

(baca: Polisi Akan Selidiki Kelangkaan Elpiji 3 Kg)

Elpiji sekarang mengalami kelangkaan di seluruh Nusantara, terutama elpiji 3kg. Sudah harganya mahal, dinaikkan, di tengah kota di Jakarta harganya sampai dua puluh lima ribu,” ungkap Bambang di Komplek Parlemen, Kamis (7/12/2017).

Situasi itu jangan dibiarkan lama sebab pengguna elpiji 3 kg jumlahnya di Indonesia mencapai lebih dari 70 juta bahkan lebih. Bambang Haryo meminta agar KPK segera turun tangan mengatasi kelangkaan elpiji 3 kg ini.

KPK harus turun untuk ngecek itu ketidakbenaran daripada Pertamina. Harusnya sebelum KPK itu turun kementerian ESDM beserta yang membuat satu regulasi, beserta kementerian BUMN yang mengawasi korporasi itu harus segera turun,” kata Bambang.

Menurut Bambang, kelangkaan elpiji ukuran 3kg berpengaruh tidak hanya masyarakat menengah ke bawah, tapi juga dapat bersinggungan dengan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

Jadi lebih dari 10 juta UMKM yang ada di Indonesia itu menggunakan elpiji 3 kg. Lebih, karena jumlahnya UMKM itu ada 56 juta itu kira-kira hampir separuhnya itu menggunakan elpiji 3kg. Makanya dengan kelangkaan ini bisa menggerus pertumbuhan ekinomi kita,” tegas Bambang.

Bambang kemudian mengkritisi kebijakan pemerintahan Joko Widodo yang dianggap tidak peduli dengan kelangkaan elpiji terutama ukuran 3 kg. Elpiji, kata Bambang, merupakan masalah krusial bagi Indonesia dan bisa menurunkan ekonomi dalam negeri, tapi pemerintah seolah menutup mata akan hal ini.

“Saya lihat pemerintah Jokowi kok tenang-tenang, gak mau peduli, lebih peduli terhadap masalah yang berhubungan dengan seremonial. Upacara manten, upacara peresmian, potong tumpeng, potong pita, potong ini potong itu, jadi ini yang terjadi sehingga tidak memperhatikan permasalahan yang sangat-sangat penting atau krusial untuk kepentingan rakyat,” kata dia.

UMKM merupakan usaha yang mampu bertahan ketika Indonesia dihantam krisis keuangan yang berlanjut pada krisis ekonomi di tahun 1997 silam. Jumlah mereka berkisar 70 persen dari usaha di Indonesia. (nug)

Bagaimana menurut pembaca ?