Kemerdekaan Catalonia dan Simbolisme Pita Kuning Pep Guardiola

133

Jakarta, Tengokberita.com– Pelatih Pep Guardiola tak menghiraukan hukuman Asosiasi Sepak Bola Inggris (FA). Pelatih Manchester City ini tetap menggunakan pita kuning saat membawa Manchester City melakoni laga final Piala Liga Inggris kontra Arsenal di Stadion Wembley, Minggu (25/2/2018) lalu. Akibatnya, Pep demikian kerap dipanggil dinyatakan bersalah karena mengenakan pakaian yang menampilkan pesan politik. Pelatih berkebangsaan Spanyol ini memiliki waktu sampai Senin, 5 Maret 2018 pukul 19.00 waktu Eropa, untuk membela diri atau merespons hukuman FA tersebut.

Apa yang dilakukan oleh Pep itu dalam antropologi politik dikatakan sebagai satu bentuk the politics of symbolism. Politik simbolisme adalah suatu tindakan untuk merepresentasikan sebuah gejala sosial, dalam hal ini kemerdekaan Catalonia. Pep Guardiola merasa perlu menunjukkan kepada publik bahwa ia memiliki komitmen kuat untuk ikut berempati dengan penderitaan masyarakat pro kemerdekaan Catalonia yang pemimpinnya kini berada di pengasingan.

Sebagai ikon olahraga Katalan yang juga identik dengan tim sepak bola Barcelona yang terkenal dengan taktik ‘tiki-taka’nya Guardiola mencoba untuk menjadi bagian dari kemerdekaan Catalonia.

Meski saat ini tinggal di negara Inggris, dia mencoba merebut simpati dunia lewat panggung sepak bola. Bagaimanapun Guardiola pernah merasakan kepahitan dan kesenangan bersama Barcelona. Karena itu dukungan Guardiola untuk Catalonia masih menyala terang di manapun dia berada.

Dalam pandangannya, ketika aspirasi Catalonia ditundukkan oleh pemerintah Spanyol, dia harus ikut menggelorakan semangat Catalonia.

Pita kuning yang selalu melekat di dada kirinya itu menunjukkan solidaritas dengan para politisi yang meninggalkan Catalonia karena takut ditangkap dan dikurung oleh pemerintah Spanyol menyusul deklarasi kemerdekaan yang dinilai ilegal oleh pemenerintah pusat di Madrid.
Hukuman FA terhadap dirinya tetap tak menyurutkan langkahnya untuk terus memakai pita kuning itu di dalam setiap pertandingan.

Atas hukumannya itu, dia menerimanya dengan lapang dada.” Saya menerima denda, saya adalah manusia, dan ini tentang kemanusiaan,” ujar Guardiola.

Sayang sikap kerasnya tak berlaku buat wilayah lain di luar Catalonia. Guardiola masih berdamai dengan pemilik klub Manchester City. Seperti kata Rob Harris di Washington Post bahwa dia membuat sebuah pernyataan penghargaan kepada pemilik Sheikh Mansour bin Zayed Al Nahyan karena menawarkan dukungan moral sepanjang musim pertamanya yang tanpa pamrih.

Kata Harris seharusnya hal itu tidak dilakukan karena Mansour yang merupakan wakil perdana menteri di Uni Emirat Arab adalah bagian dari penguasa yang kurang memberikan kesempatan kepada penduduk UEA untuk menjalankan kebebasan yang demokratis.

Laporan terbaru Amnesty internasional menyebutkan bahwa pihak berwenang UEA secara sewenang-wenang membatasi hak kebebasan berekspresi masyarakatnya. Human Rights Watch mengatakan bahwa UEA telah menunjukkan “Intoleransi kritik,” memperingatkan bahwa penduduk yang berbicara kepada kelompok hak asasi manusia berisiko “Penahanan sewenang-wenang” dan upaya untuk “Merusak persatuan nasional” dapat menyebabkan hukuman mati.

Pep Guardiola seharusnya tahu itu. Namun, apa yang dikatakan Guardiola saat ditanya pandangannya soal wilayah UEA. “Setiap negara memutuskan cara mereka ingin hidup untuk diri mereka sendiri. Jika dia memutuskan untuk tinggal di negara itu, itu adalah apa adanya.

Pep Guardiola sudah menunjukan keteguhannya untuk kemerdekaan sebuah wilayah dengan simbol pita kuning di dadanya. Namun, itu bukan untuk UEA atau negara lainnya. Aksi pita kuning itu hanya didedikasikan untuk Catalonia, ya hanya untuk Catalonia. (rot)

Bagaimana menurut pembaca?