Kisah Pilu Seorang Ibu: Akibat Terkena Stigma

41

Society, Tengokberita.com – Siapa yang tak sedih bila sang buah hatinya meninggal karena kecanduan narkoba. Inilah yang dialami oleh wanita sebut saja Lusy. Wanita berusia 65 tahun dan lulusan dari Fakultas Psikologi, salah satu kampus elit di Indonesia itu merasakan betul bagaimana dia begitu merasakan kesedihan yang mendalam karena salah satu putranya meninggal akibat terperangkap narkoba.

“Narkoba ada dimana-mana karena Negara tidak mampu berbuat apa apa,” ujar wanita itu kepada Tengokberita.com saat ditemui di rumahnya di wilayah Kecamatan Pulogadung pada hari Kartini, 21 April 2018.

Lusy pun bercerita bahwa putra keduanya itu terperangkap Narkoba sejak kelas 1 di sebuah SMAN di wilayah Jakarta Timur. Kala itu, sang anak memakai Putauw dengan jarum suntik. Karena sudah kecanduan dan pihak sekolah mengetahui maka sang anak mengundurkan diri dari sekolah itu dan pindah ke sekolah swasta yang tak jauh dari rumahnya. kata Lusy, akibat ulah anaknya, keluarganya mendapat beban psikologis berlipat-lipat. Di samping cemohan warga dan masyarakat di sekitar rumahnya, keluarga juga menanggung beban biaya untuk berobat dan rehabilitasi. “Beban berat stigmatisasi dari masyarakat seolah olah anak kami dianggap lebih buruk daripada seorang kriminal, bahkan lebih buruk dari stigma PKI di zaman Orde Baru,” ujar Lusy dengan mimik sedih.

(Baca: 200 Tahun Lalu, Raja Paku Buwono IV: ‘Jauhi Madat, Madat Tidak Baik Untukmu Semua’)

Tapi, kata Wanita yang pernah jadi aktivis HMI ini pandangan masyarakat sudah mulai berubah. Jika beberapa waktu lalu, pecandu narkoba dianggap “Penjahat” dan salah di mata hukum, kini sudah mukai bergeser. Mereka adalah korban yang memerlukan pendampingan. Selain itu, beberapa keluarga juga mulai terbuka terhadap keluarganya yang terkena narkoba. Mereka tak lagi takut terkena stigma buruk seperti yang dia alami. Dia mengakui jika Stigma adalah salah satu aspek yang paling kejam dan paling sulit bagi korban narkoba karena membuat lebih sulit, baik bagi korban sendiri maupun bagi keluarganya untuk mendapatkan bantuan seperti yang mereka butuhkan.

Banyak Masyarakat yang masih memiliki stigma bahwa korban narkoba adalah sebuah cacat karakter atau kelemahan yang mungkin tidak bisa disembuhkan. Padahal seorang pecandu bukanlah seorang kriminal yang harus dipenjara. Mereka adalah korban dan orang sakit yang wajib ditolong dan dipulihkan terutama melalui rehabilitasi. Untuk menuju ke proses itu memerlukan keseriusan, kepedulian, kerelaan dan komitmen kuat seluruh komponen masyarakat. (jar/rot)

Bagaimana menurut pembaca?