‘Kitab Suci Itu Fiksi’ Dipidanakan: Kriminalisasi Logika

43

Justice, Tengokberita.com – Ungkapan di atas, merupakan twit dari Rocky Gerung pada tanggal 13 April 2018, semenjak mengetahui bahwa dirinya dilaporkan secara pidana oleh Permadi Arya atau dikenal dengan nama Abu Janda melalui Kepolisian Daerah (Polda) Metro Jaya Jakarta dengan menggunakan Pasal 28 ayat (2) jo Pasal 45A ayat (2) UU Informasi dan Transaksi Elektronik.

Kata “kriminalisasi” seringkali dipergunakan untuk mengungkapkan keterkejutan seseorang yang ‘merasa’ tidak bersalah atas perbuatannya dan terjerat dalam dugaan melakukan perbuatan pidana oleh Penyidik Polri sebagai akibat laporan dan/atau aduan pihak lain, yang pula ‘merasa’ dirugikan.

Kata ‘kriminalisasi’ semenjak disalahpahami ketika sosok yang dilaporkan dan/atau diadukan adalah public figure yang mempunyai kelompok-kelompok pengagum/fans. Misalnya, pada kasus Abraham Samad, Bambang Widjayanto, bahkan kasus Ahok sekalipun.

Kata ‘kriminalisasi’ diandaikan begitu saja sebagai suatu istilah yang ada dalam Hukum Pidana sama seperti apa yang telah diungkapkan sebagai rasa ketidaksukaan atas pelaporan/pengaduan tersebut. Namun, pada hakikatnya, kata ‘kriminalisasi’ tersebut memiliki makna yang berbeda, tergantung ranah ilmu pengetahuan apa yang dijadikan sebagai perspektifnya.

(baca : Kitab Suci Itu Fiksi, Siapakah Rocky Gerung? (Bagian 2-Habis))

Kata ‘kriminalisasi’ akan memunculkan makna yang negatif ketika dipandang dari perspektif Ilmu Kriminologi dan Sosiologi Hukum. Di mana berdasarkan kedua ilmu pengetahuan tersebut, ‘kriminalisasi’ merupakan tindakan menempatkan seseorang tanpa dasar hukum (artinya tidak ada peraturan perundang-undangan yang mengatura), semenjak dari tahapan Pra-Adjudikasi (Penyidikan-Penuntutan), kemudian masuk pada tahapan Adjudikasi (Pemeriksaan di depan persidangan), hingga pada pelaksanaan putusan pidana.

Misalnya: Apabila dua orang muda-mudi, di mana keduanya belum pernah menikah, ditangkap dan diadili dalam proses peradilan pidana dan kemudian diputuskan sebagai pelaku perbuatan pidana perzinahan. Padahal unsur absolut dari Tindak Pidana Zina adalah salah satunya masih terikat perkawinan yang sah.

Maka, pemidanaan tersebutlah yang dapat dikatakan sebagai ‘kriminalisasi’. Oleh karena, KUHP Indonesia masih menganut perzinahan oleh dua orang yang keduanya masih single, bukanlah tindak pidana perzinahan.

Sedangkan kata ‘kriminalisasi’ dalam Hukum Pidana memiliki makna sebagai suatu keputusan untuk menetapkan suatu perbuatan yang bukan merupakan perbuatan pidana, namun melalui politik hukum pidana oleh kekuasaan legislatif bersama-sama dengan Presiden menetapkannya sebagai suatu perbuatan pidana.

Misalnya, sebelum tahun 2002, setiap orang bebas untuk melakukan perbuatan melakukan transfer atau mengalihkan keuntungan dari perbuatan pidana dan perbuatan mentransfer atau mengalihkan keuntungan tersebut bukanlah merupakan tindak pidana.

Namun ternyata pada tahun 2002, DPR bersama Presiden menetapkan perbuatan menransfer atau mengalihkan keuntungan dari perbuatan pidana sebagai suatu tindak pidana yaitu Tindak Pidana Pencucian Uang (money laundering).

Maka, semenjak tahun 2002 tersebutlah pentransferan/pengalihan kekayaan hasil dari perbuatan tindak pidana adalah resmi dan sah sebagai suatu tindak pidana. Hal inilah yang dikenal dengan istilah ‘kriminalisasi’.

Nah, sekarang mari kita letakkan pemahaman tersebut pada twitt Rocky Gerung tersebut. Bahwa objek yang dijadikan sebagai bentuk kriminalisasi adalah ‘LOGIKA’. Maka, kita harus mengetahui terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan ‘logika’ tersebut.

Istilah Logika merupakan percabangan ilmu dari Filsafat, yang merupakan proses berpikir pada diri seseorang berdasarkan cara dan metode tertentu dan berdasarkan paradigma tertentu pula.

Kemudian, kita coba pertanyakan kembali apakah LOGIKA sebagai proses berpikir tersebut telah ditetapkan sebagai suatu perbuatan pidana?? Secara limitatif, sistem hukum Indonesia hanya memberikan larangan dan menetapkan ancaman pidana bagi yang mengembangkan ajaran komunisme/marxisme/sosialisme, oleh karena adanya sejarah kelam terhadap ajaran-ajaran tersebut. Selebihnya tidak pernah ada secara yuridis normatif pelarangan terhadap suatu ajaran apapun kecuali ketiga ajaran tersebut di atas.

Maka, kita sudah dapat sampai pada satu kesimpulan bahwa pelaporan/pengaduan terhadap Rocky Gerung tersebut bukanlah tindakan kriminalisasi, dalam konteks Hukum Pidana, oleh karena Logika yang disampaikan oleh Beliau bukan atau belum ditetapkan sebagai perbuatan pidana. Namun, sangat mungkin twitt tersebut dipergunakan dari konsep berpikir berdasarkan Ilmu Kriminologi dan Sosiologi Hukum. (red)

Bagaimana menurut pembaca?