Kontroversi Srikandi, Seorang Transgender dari 5.000 Tahun Lalu

119
Srikandi (tubuh biru) ditemani Arjuna (memegang panah) yang membunuh Resi Bhisma dalam kitab Mahabarata.

Budaya, Tengokberita.com – Menyambung keterangan Sekretaris Parisada Hindu Indonesia (PHDI), Ir Parwata, dalam kitab Suci Hindu, Kitab Sruti ( Weda ) tidak ada teks yang merujuk kepada persoalan transgender.

Masalah transgender ini justru muncul di kitab Smriti “Yang diingat”. Kitab Smriti berasal dari Weda dan dianggap berasal dari manusia bukan dari Tuhan. Smriti ditulis untuk dan menjelaskan Weda, membuat Weda dapat dimengerti dan lebih berarti bagi manusia pada umumnya.

Dalam kitab Smriti, di bagian Epos Mahabrata muncul fenomena transgender terutama terhadap sosok yang disebut Sikandi yang di Jawa kemudian menjadi Sri Kandi.

DEWI SRIKANDI, dalam pewayangan di Jawa

Srikandi menurut sejumlah sumber dilahirkan sebagai laki-laki yang memiliki tampilan lemah gemulai atau kalau bahasa zaman sekarang disebut bencong. Namun, sumber lain menyebutkan Srikandi ini seorang perempuan.

Karena itulah dia tak bisa tampil di Medan Perang. Padahal, dia punya tugas untuk membunuh Resi Bhisma. Srikandi meminta kepada Tuhan, untuk mengubah wujudnya meski hanya sehari menjadi seorang laki-laki agar diijinkan ikut ke medan laga. Permintaan itu dikabulkan. Srikandi yang perempuan ini menjadi laki-laki saat turun ke medan laga hanya untuk membunuh Bhisma.

Srikandi pun bisa membunuh Resi Bhisma yang terkenal akan kesaktiannya. Dalam medan laga itu, saat membunuh Bhisma, Srikandi ditemani Arjuna yang terkenal akan panah saktinya.

Mahabarata merupakan sebuah kitab yang diperkirakan ditulis pada 3.000 tahun Sebelum Masehi (SM). Transformasi perempuan ke laki-laki itulah yang merupakan contoh yang sudah tergambar pada 3.000 tahun Sebelum Masehi atau 5.000 tahun lalu sehingga bisa dikatakan transgender tidak bisa dilepaskan dari perjalanan panjang sejarah peradaban manusia. (rot)

Bagaimana menurut pembaca?