Kriminalisasi Pemikiran vs Pemikiran Kriminalisasi

74
DR ROCKY MARBUN, SH, MH

OLEH

Dr. Rocky Marbun, S.H., M.H.
Dosen/Staff Pengajar Fakultas Hukum Universitas Pancasila

ARGUMENTASI, baik dalam bentuk lisan maupun tertulis, merupakan hasil dari proses penalaran dan logika terhadap konsep-konsep umum berbasis pada paradigma tertentu. Artinya, paradigma itulah yang merupakan grand design dari keseluruhan logika dan penalaran yang dikonstruksikan untuk membuat suatu argumen. Dalam mengkonstruksikan argumentasi tersebut, terlibat di dalamnya metode-metode interpretasi yang turut serta dibawa bersama-sama dengan penggunaan paradigma.

Perbedaan paradigma sebagai ‘cara pandang’ tersebut memunculkan perbedaan argumen terhadap suatu objek yang bersifat umum dengan memunculkan konsep yang khusus. Bahkan, dalam paradigma yang sama pun mampu memunculkan argumen yang berbeda, ketika dikaitkan dengan instrumen yang digunakan untuk mengungkapkan argumen tersebut. Faktor penentu lainnya adalah ‘bahasa’, di mana penggunaan ‘bahasa’ sebagai instrumen untuk melakukan penalaran dalam sistem logika tentunya berkaitan erat dengan kebudayaan pada masa objek tersebut ditafsirkan.

Perbedaan paradigma sebagai ‘cara pandang’ pula tidak mungkin menghindarkan diri dari penggunaannya pada ranah ilmu pengetahuan mana yang melakukan penalaran dan penafsiran terhadap objek yang dikaji tersebut. Di mana sejarah perkembangan filsafat ilmu pengetahuan memiliki periodisasi yang berbeda-beda.

(baca: Hendardi: Pernyataan Rocky Gerung Harusnya Diuji Secara Ilmiah, Bukan Dipidanakan)

Dampak dari Perkembangan Paradigma/Filsafat
Perkembangan pemikiran filsafat, menurut Herry Hamersma (1992: 141), yang menghiasi sejarah umat manusia dari dulu hingga sekarang ini yaitu terbagi menjadi 4 (empat) fase yaitu kosmosentris, teosentris, antroposentris dan logosentris.

Fase “kosmosentris” adalah fase di mana alam dipandang sebagai objek discourse yang terjadi pada masa klasik. Pada fase “teosentris”, Tuhan menjadi objek pembicaraan yang berlangsung pada abad pertengahan. Di abad modern yang merupakan fase “antroposentris”, wacana yang penting dan dominan dalam kajiannya adalah seputar manusia terutama kekuatan akal atau rasionya. Dan akhirnya di abad mutakhir ini, abad 20 adalah fase “logosentris”, bahasa menjadi pusat objek perbincangan yang menarik.

Periodisasi ini, seolah-olah merupakan kajian ilmu sejarah yang tanpa masalah. Sejarah filsafat berkembang diandaikan begitu saja sebagai perjalanan pemikiran tanpa hambatan dan tantangan. Begitu banyak model dalam melakukan periodisasi tersebut antara lain pertama, adalah memformulasikan dan mengklasifikasikan pola-pola pemikiran yang sejenis dan memiliki titik tekan pemikiran yang sama. Kedua, ada pula ahli filsafat yang menggunakan ruang dan waktu dalam melakukan klasifikasi.

Misalnya zaman Yunani Kuno kemudian masuk kepada zaman Romawi/Yunani, dilanjutkan dengan zaman Abad Pertengahan, yang kemudian secara perlahan memasukki zaman Abad Pencerahan (reinainsance dan aufklarung) atau zaman modern dan saat ini berkembang pula zaman postmodern.

Ketiga, banyak pula ahli filsafat yang melakukan periodisasi berdasarkan tokoh-tokoh yang mempengaruhi perkembangan sejarah filsafat. Selain itu, keempat, kegiatan melacak sejarah pengaruh dari masing-masing tokoh yang mempengaruhi perkembangan filsafat pada masanya. Dalam model ini memunculkan kesulitan yang sama, khususnya bagi si aktor yang melakukan pelacakan sejarah pengaruh telah terkontaminasi terlebih dahulu oleh paradigma/filsafat yang ia pahami sebelumnya.

Dan kelima, periodisasi berdasarkan wilayah kebangsaan, misalnya adanya ahli filsafat yang mengklasifikasi antara lain dengan melekatkan wilayah masyarakat yaitu filsafat barat dan filsafat timur.

Periodisasi tersebut bukanlah hal yang mudah. Oleh karena, misalnya, perkembangan dari fase teosentris menjadi fase antroposentris bukanlah hal yang mengalami keterputusan pemikiran. Namun bersambung dan saling menekan dan saling mempengaruhi, bahkan saling menghancurkan.

Proses demitologi dari paham ketuhanan pada Abad Pertengahan menuju paham rasionalisme dan empirisme tidaklah serta merta dapat ditentukan bahwa pemikiran filsafat/paradigma telah berubah secara pasti.

Para pemikir dan ilmuwan yang berpaham rasionalisme dan empirisme yang hidup pada masa peralihan dari Abad Pertengahan, bukanlah tanpa resiko. Kita semua sama-sama mengetahui bagaimana nasib dari Galileo, Copernicus, dan masih banyak lagi yang mencoba mendobrak filsafat ketuhanan yang menghegemoni pada masa itu.

Sedangkan pada zaman modern pun, bukan berarti tenang dan damai karena diasumsikan filsafat ketuhanan telah musnah, terjadi pertarungan pemikiran. Para pemikir atau ahli filsafat, sesuai sifat dari filsafat itu sendiri, selalu mencoba menemukan novelty (kebaruan) dari pemikiran-pemikiran sebelumnya berbasis kepada hegemoni perilaku penguasa yang berbasis pemikiran arus utama. Pada masa dimunculkannya postmodern, pula memunculkan sentimen kepada pemikir-pemikir baru. Maka, dampak sejarah pemikiran berulang, dalam format yang berbeda.

Hegemoni Filsafat Barat
Walaupun filsafat teosentris atau aliran hukum kodrat (irrasional) diasumsikan telah ‘mati’ dan tidak akan bangkit lagi, namun pada kenyataannya, dalam konteks perkembangan Hak Asasi Manusia, filsafat modern tidak mampu membendung sifat transendental dari manusia secara utuh.

Namun demikian, perkembangan pemikiran transendental dalam penghormatan terhadap Hak Asasi Manusia (HAM) menyusup secara rasional dan sadar ke dalam pola-pola pemikiran dalam Filsafat Barat.

Filsafat Barat yang bersifat eksploratif dan eksploitatif terhadap suatu objek, secara filosofis mendapat rambu-rambu dengan dimunculkannya subyek hukum tanpa kewajiban, yaitu lingkungan. Sehingga, dewasa ini Filsafat Barat mengenal adanya konsep ‘keadilan ekologis’ yang dipaksakan masuk kepada masyarakat bangsa yang terpolakan dengan Filsafat Timur.

Dominasi dan hegemoni FIlsafat Barat terhadap Filsafat Timur, dalam konteks ke-Indonesia-an, seolah-olah dibenarkan begitu saja. Padahal, dalam Filsafat Timur semenjak awal pertumbuhannya selalu berbasis kepada kehidupan yang harmonis terhadap alam.

Pada sisi lain, salah satu sifat lain dari Filsafat Barat yaitu penafiqkan kepada unsur illahi sebagai causa prima, tidak dapat masuk ke dalam Filsafat Timur. Masyarakat Indonesia tetap pada pandangan-pandangan ketuhanan yang dilestarikan dari generasi ke generasi dan hidup berdampingan dengan dilestarikannya nilai-nilai kesusilaan dan adat istiadat.

Dalam konteks FIlsafat Barat yang pada masa tertentu kental dengan nuansa illahi, namun semenjak abad ke-18, mencuat perdebatan sengit mengenai konsep ketuhanan tersebut. Kelompok saintisme mengajukan gugatan kepada konsep ketuhanan tersebut sebagai sesuatu yang imaginer, bahkan sampai kepada tahapan pandangan filosofis yang memberikan landasan rasional atas ‘kematian’ Tuhan itu sendiri. Hal tersebut tentunya sangat bertentangan dengan pandangan-pandangan filosofis dalam Filsafat Timur.

Namun permasalahannya adalah dominasi dan hegemoni Filsafat Barat merasuk ke dalam dunia pendidikan di Indonesia tanpa mampu dibendung, bahkan menjadi bagian dari kurikulum mata kuliah di seluruh perguruan tinggi. Sehingga, pengampu mata kuliah filsafat ilmu atau filsafat hukum, tidak mampu melepaskan dirinya dari jeratan pemikiran-pemikiran Filsafat Barat itu sendiri.

Kutukan Filsafat
Walaupun telah diklaim sebagai suatu bentuk-bentuk pemikiran yang modern, namun pada dasarnya, pertentangan terhadap hal-hal yang baru tidak pernah surut dan bahkan terus dilestarikan melalui instrumen kekuasaan yaitu Undang-undang, yang patut dicurigai sebagai usaha mempertahankan status quo.

Sehingga, tidaklah heran muncul fenomena klasik yang mempersalahkan apakah seseorang bersalah semenjak memiliki kehendak ataukah tanpa memiliki kehendak?

Kita semua mengetahui bahwa pemikiran filsafat bukanlah untuk mempertahankan hegemoni ataupun untuk meruntuhkannya. Namun, pada hakikatnya, adalah sebagai bentuk perubahan sikap yang diinternalisasikan pada dirinya menuju kepada kebijakan. Sehingga, seharusnya penguasaan terhadap filsafat memunculkan sikap yang bertoleransi terhadap pemikiran-pemikiran baru.

Permasalahannya adalah sejarah filsafat menunjukan tindak kekerasan dalam perkembangannya, baik dalam bentuk sikap maupun dalam bentuk literasi. Model-model yang bervariatif atas tindak kekerasan terhadap pola-pola pemikiran terus dipertahankan dan bahkan dinormatifkan dalam bentuk frase-frase abstrak, sehingga bersifat ‘karet’.

Akibatnya, siapapun dapat menggunakan teks otoritatif tersebut untuk menekan pemikiran-pemikiran yang ‘dianggap’ membahayakan kemapanan pola pemikiran yang mendominasi dan menghegemoni.

Walaupun terdapat pembatasan ruang dan waktu untuk menjerat, yang disandarkan kepada konsep ‘dimuka umum’ (openbaar) dengan konsep ‘kepentingan akademis’, namun kedua konsep tersebut menjadi summir ketika berhubungan dengan media pembawanya.

Kitab Suci adalah Fiksi: Kriminalisasi Pemikiran
Upaya mempertahankan pola pemikiran status quo yang menggunakan instrumen kekuasaan, dalam hal ini adalah Hukum Pidana, merupakan hal yang bersifat primitif. Menurut Andi Hamzah (dalam I Made Widnyana, 1995: 36), walaupun alasan penjatuhan pidana itu telah banyak dipikirkan dan dicari alasan dan cara penerapan yang lebih manusiawi, namun sisa-sisa nafsu membalas manusia tidak kunjung pupus keseluruhannya dari sistem pemidanaan. Pada hukum pidana, nampaknya sifat primitif dari nafsu membalas sangat sulit untuk dihilangkan.

Sifat primitif dari Hukum Pidana semakin nampak ketika memperdebatkan suatu objek dengan mempertentangkan dua pola pemikiran yang didasarkan kepada dua paradigma/filsafat yang berbeda.

 

Misalnya pada penjelasan dari Akademisi/Dosen Filsafat Rocky Gerung yang menjelaskan makna dan pengertian fiksi terhadap Kitab Suci. Dalam fenomena ini, Saya tidak hendak membenarkan penjelasan dari Beliau. Namun, fokus yang hendak Saya sampaikan adalah bahwa pada acara cara Indonesia Lawyers Club di TV One pada Selasa malam, 10 April 2018.

Jika kita hendak mendudukan permasalahan tersebut dengan tepat, maka seharusnya yang perlu dilacak adalah apakah paradigma/filsafat dari Rocky Gerung ketika mengeluarkan penjelasan tersebut? Karena, keseluruhan ilmu filsafat yang dikuasai oleh Rocky Gerung merupakan hasil dari pemahamannya terhadap pendidikan filsafat yang diperolehnya.

Pemikiran yang demikian itu, pada hakikatnya merupakan buah pemikiran yang telah ada semenjak abad 17 sampai dengan abad ke 18, pada awal-awal pergerakan pemikiran yang mendobrak kebuntuan perkembangan saintis dibawah bayang-bayang Abad Pertengahan dalam fase teosentris. Sehingga, tidaklah mengherankan, ketika Rocky Gerung pernah pula mengatakan dalam forum yang sama, bahwa Beliau lebih menyukai membahas ayat-ayat konstitusi daripada ayat-ayat suci.

Ketidakpahaman terhadap basis penalaran dari Rocky Gerung tersebut, semakin jelas ketika yang memberikan komentar adalah Akademisi/Dosen Filsafat Islam. Oleh karena, akan semakin jelas pertentangannya, bahkan pertentangan kedua jenis filsafat tersebut tidak pernah berdamai semenjak zaman klasik hingga saat ini.

Pada titik point inilah letak kesalahan terbesar dari negara yang semenjak awal berdirinya Negara Indonesia berada dibawah bayang-bayang sejarah kelam sebagai bangsa terhadap ajaran-ajaran yang dianggap merongrong Pancasila sebagai dasar negara. Sehingga, berimbas kepada penolakan secara absolut terhadap pola pemikiran mainstream. Dimana secara paradoks, pola pemikiran yang diungkapkan tersebut merupakan salah satu referensi dan bahan pengajaran dalam kurikulum di seluruh perguruan tinggi di Indonesia.***

Bagaimana menurut pembaca?