Lawan Jokowi, Prabowo Tertinggal Jauh

40

Jakarta, Tengokberita.com – Elektabilitas Jokowi masih terlalu jauh untuk dikejar oleh Prabowo Subianto. Survey politik yang dilakukan Saiful Mujani Research & Consulting (SMRC) sepanjang Desember 2017 menunjukkan bahwa elektabilitas Joko Widodo masih tinggi. Angkanya masih 38,9 persen, sedangkan Prabowo 10,5 persen.

Djayadi Hanan, Direktur Utama SMRC mengatakan bahwa elektabilitas Jokowi masih memimpin pemilihan masyarakat.

38,9% masih memilih Jokowi, Prabowo 10,5%, kemudian diikuti oleh Pak SBY, Gatot Nurmantyo, Anies Baswedan, Hari Tanoe dan AHY. Jokowi dan Prabowo masih memimpi dan ada peningkatan dari Jokowi, dan stagnan kepada calon-calon lain. Dengan kata lain, lawan Pak Jokowi belum ada kecuali lawan yang lama, Prabowo Subianto,” ungkap Djayadi Hanan di Kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Selasa (2/1/2018).

Di samping itu, Swing Voters atau pemilih yang tidak konsisten terus menerus memilih partai yang sama setiap pemilu cukup besar hingga mencapai 38,4%.

Kemudian dicoba dilakukan sample oleh SMRC untuk melihat sejauh mana kesetujuan apabila Jokowi dipasangkan dengan Prabowo. Dari sample itu, terlihat kecenderungan masyarakat cukup tinggi atas kesetujuan hal tersebut sebanyak 66,9%. Namun hal ini menjadii perdebatan sendiri siapa yang menjadi Presiden dan siapa wakilnya.

Yang menjadi kekuatan Jokowi adalah kinerja, tingkat kepuasan presiden di angka 74%. Kedua, keyakinan Jokowi memimpin di angka 76%. Kemudian, kinerja menteri dianggap cukup puas 66%. Ekonomi dinilai lebih baik oleh 48%, kondisi politik 32% baik,” kata Djayadi.

Dari data-data itu dapat dilihat bahwa tingkat kepercayaan masyarakat terhadap Jokowi masih memuaskan sehingga kembali mendukung mantan Gubernur Jakarta itu maju Pilpres pada 2019.

Hal ini juga berdampak positif kepada PDI Perjuangan yang dianggap asosiasi dengan Jokowi. Sebab, menurut Djayadi, masih banyak masyarakat yang melekat sosok Jokowi dengan PDIP. Meskipun faktanya, PDIP sendiri hingga saat ini belum mendeklarasikan dukungannya kepada Jokowi. Berdasarkan survey SMRC, PDIP memegang persentase 27,6%, disusul oleh Golkar 12,1%, Gerindra 9% dan DEMOKRAT 7,7%.

Mengapa PDIP mengalami penguatan?
Hal itu dikarenakan Swing Voters PDIP terendah. Identifikasi PDIP dengan Jokowi. Alasan utamanya adalah asosiasi dengan Jokowi, Soekarno, kepemimpinan Megawati. Namun yang paling besar adalah faktor Jokowi,” pungkas dia.(nug)

Bagaimana menurut pembaca?