Mana Kesaktian dan Kejumawaanmu, Setnov?

Jakarta, Tengokberita.com – Dalam beberapa bulan terakhir, nama Setya Novanto tiba-tiba saja menjadi buah bibir masyarakat. Ketua DPR RI ini menjadi trending topic di jejaring media sosial (medsos) di Tanah Air.

Kepopularannya melebihi artis paling tenar sekalipun di negeri ini. Nama Setya Novanto mendadak melejit setelah ia terlibat dalam drama satu babak dengan lakon “Sakit.”

Namanya menjadi sangat terkenal setelah Ketua Umum Partai Golkar itu bermain sangat apik dalam lakon “Sakit.” Dalam drama satu babak itu, Novanto menjadi produser, sutradara sekaligus pemain utama.

Ya, mantan Bendahara Umum Partai Golkar tersebut tiba-tiba saja jatuh sakit ketika penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memanggil dirinya untuk menjalani pemeriksaan dalam kapasitasnya sebagai tersangka pada kasus megakorupsi KTP-E berbasis Nomor Induk Kependudukan (NIK) periode 2011 – 2012 pada 11 September 2017.

(baca: Jika Setnov Tak Serahkan Diri, KPK Usulkan Polri Keluarkan Surat DPO)

Dua kali dipanggil, dua kali pula tidak datang ke KPK, dan dua kali pula Setya Novanto pindah rumah sakit. Entah apa sakit yang dideritanya. Foto saat Setnov berada di rumah sakit pun beredar luas. Dan, penuh kejanggalan….

Pada Jumat (29/9/2017), hakim tunggal PN Jakarta Selatan yang menangani sidang praperadilan, Cepi Iskandar, mengabulkan gugatan yang dimohonkan Setya Novanto. Hakim Cepi menyatakan bahwa penetapan tersangka kepada Setya Novanto oleh penyidik KPK, tidak sah!

Kondisi kesehatan Setnov dikabarkan berangsur membaik. Tiga hari setelah putusan, Ketua DPR RI ini dinyatakan sembuh dan diperbolehkan meninggalkan rumah sakit pada 2 Oktober 2017. Putusan hakim ternyata menjadi obat sangat mujarab bagi Setya Novanto.

Setya Novanto memang sakti. Meme Setnov sakti pun langsung beredar luas di jejaring medsos, The Power of Setya Novanto.

Setya Novanto maling ayam, ayamnya yang digebukin warga.”
Setya Novanto ikut uji nyali, yang kesurupan setannya.”
Setya Nonato kena tilang, yang disidang polisinya.”
Setya Novanto makan daging kambing, yang darah tinggi kambingnya.”

Kesaktian Setya Novanto sudah dia perlihatkan sejak 1999 ketika tersandung hukum pertama kalinya dalam kasus Pengalihan hak piutang (cassie) PT Bank Bali kepada Bank Dagang Negara Indonesia (BDNI) yang diduga merugikan negara Rp904,64 miliar. Berlanjut ke kasus-kasus lainnya seperti penyelundupan beras 60 ribu ton dari vietnam (2003), penyelundupan limbah B3 di Batam (2006), korupsi proyek PON Riau (2012), permufakatan jahat PT Freeport Indonesia yang dikenal dengan sebutan Papa Minta Saham (2015), dan sebagainya.

Toh, kalah di pengadilan, KPK segera mengumpulkan bukti baru. Surat Perintah Penyidikan (Sprindik) baru atas Setya Novanto diterbitkan KPK. Pada 10 November 2017, KPK resmi mengumumkan status tersangka kepada Setya Novanto.

Kesaktian Setnov kembali diuji. Kali ini Ketua DPR RI itu malah berpolah jumawa. Lewat pengacaranya, Hendrich Yunadi, Setya Novanto berpolah seakan menegaskan bahwa dirinya adalah Sang Ketua DPR RI yang tak bisa semudah itu tersentuh hukum.

Di saat sang pengacara terus berkoar, Setnov terus mangkir dari panggilan KPK dan bahkan berani tampil di podium-podium. Terakhir, Setya Novanto lebih memilih memimpin Rapat Paripurna di DPR RI ketimbang memenuhi panggilan penyidik KPK pada Rabu (15/11/2017).

Tapi sejak itu, Sang Ketua DPR RI yang juga Ketua Umum Partai Golkar ini mendadak hilang bak ditelan bumi. Kesaktiannya mendadak sirna ketika tim penyidik KPK menyambangi kediamannya di Jl Wijaya, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (15/11/2107) malam.

Setnov kini lebih memilih bersembunyi di balik selimut ketimbang mempertontonkan kejumawaannya bahwa dia adalah Ketua DPR RI yang merasa imun terhadap hukum. “Perlu dipahami juga bahwa semua orang memiliki kedudukan yang sama di mata hukum,” kata juru bicara KPK Febri Diansyah di gedung KPK, Kamis (16/11/2017) dinihari. (hasanuddin)

Bagaimana menurut pembaca ?