Memaknai Kaos Kuning Jokowi Saat Bertemu Airlangga

50

Jakarta, Tengokberita.com – Presiden Joko Widodo dan Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto telah bertemu di Istana Bogor,Sabtu (24/3/2018).

Pertemuan itu diungkapkan kembali oleh Ketua DPP Partai Golkar Ace Hasan Syadzily bahwa Airlangga bertemu Jokowi untuk membahas soal cawapres. Bahkan Airlangga yang juga Menteri Perindustrian itu menyampaikan beberapa masukan terkait kriteria cawapres.

Airlangga, kata Ace, menyampaikan dua hal. Pertama adalah calon atau figur wapres ke depan adalah yang dapat membantu kinerja presiden dan yang kedua adalah yang mampu untuk menjaga integrasi NKRI. Tetapi yang menarik saat bertemu Airlangga itu, Jokowi berkaus kuning, yang memang merupakan warna Partai Golkar.

Pertemuan itu dari sudut pandang sosiolog Herbeth Blumer mengandung pengertian bahwa manusia bertindak (act) terhadap sesuatu (thing) atas dasar makna (meaning). Artinya, tindakan presiden Joko Widodo memakai kaus kuning karena memang akan bertemu dengan Ketua umum Partai Golkar. Presiden dan warna kausnya itu adalah sebuah makna yang berasal dari interaksi sosial seseorang dengan sesamanya.

Makna itu diperlukan atau diubah melalui suatu proses penafsiran (interpretative prosess) yang digunakan orang dalam menghadapi sesuatu yang dijumpainya. Blumer hendak mengatakan bahwa makna yang muncul dari interaksi tersebut tidak begitu saja diterima seseorang, kecuali setelah individu itu menafsirkannya terlebih dahulu.

(Baca: Ini Kriteria Cawapres Jokowi, Siapa Yang Masuk?)

Pertemuan Airlangga dan Jokowi adalah interaksionisme simbolik yang merujuk pada suatu karakter interaksi khusus yang berlangsung antar-manusia. Aktor tidak semata-mata bereaksi terhadap tindakan yang lain tetapi dia menafsirkan dan mendefinisikan setiap tindakan orang lain.

Respon aktor selalu didasarkan atas penilaian makna tersebut. Oleh karenanya interaksi pada manusia dijembatani oleh penggunaan simbol-simbol penafsiran atau menemukan makna tindakan orang lain.

Mengacu pada hal itu maka presiden sebenarnya sedang memberikan simbol bahwa cawapres itu bisa saja datang dari kader Golkar.

Kendari demikian, Ketua DPP Golkar Ace Hasan Syadzily enggan mengomentari kaus kuning tersebut. Kata dia biarlah masyarakat yang menilai apakah itu sinyal Jokowi untuk menggandeng Partai Golkar sebagai cawapresnya.

Jika Pak Presiden menggunakan kaus kuning, orang membaca hal itu sebagai suatu sinyal, saya kira Partai Golkar tidak merasa ke geeran, ” ujar dia di Komplek Parlemen Senin (26/3 /2018).(rot)

Bagaimana menurut pembaca?