Home » News » Mancanegara » Membidik Aung San Suu Kyi Sebagai Pelaku Kejahatan Internasional; Genosida

Membidik Aung San Suu Kyi Sebagai Pelaku Kejahatan Internasional; Genosida

Jakarta, Tengokberita.com – Isu genosida mencuat menyusul kekerasan yang mendera warga Rohingnya akibat kebrutalan tentara Myanmar di bawah rezim pemerintahan Aung Saan Suu Kyi. Presiden Turki, Tayyip Erdogan, salah satu yang mengecap tindakan yang dilakukan tentara Myanmar sekaligus pemerintah yang melakukan pembiaran sebagai genocida terhadap warga muslim Rohingnya.

Ada genosida di sana. Mereka tetap diam terhadap ini. Semua orang yang berpaling dari genosida yang dilakukan di bawah tabir demokrasi juga merupakan bagian dari pembantaian ini,” kata Erdogan di Istanbul seperti dilansir dari Reuters, dari Sindonews.com Jumat (1/9/2017).

Genosida, sebagaimana diungkapkan Erdogan merupakan kejahatan internasional yang menempati urutan tertinggi kedua setelah agresi berdasarkan konvensi internasional. Istilah genosida berasal dua suku kata dari bahasa Yunani yakni genos yang berarti ras, bangsa, atau etnis. Sedangkan sida berasal dari kata cide, caedere, cidium, yang berasal dari bahasa latin yang berarti membunuh. Secara harfiah, genosida dapat diartikan pembunuhan terhadap ras.

Istilah genisida pada gilirannya didefinisikan dalam Convention in the Prevention and Punishment of the Crime of Genocide yang diterima oleh resolusi Majelis Umum PBB 260A (III), 9 Desember 1948. Pasal 1 konvensi tersebut menyatakan, genosida baik yang dilakukan baik pada waktu keadaan perang maupun damai adalah kejahatan internasional.

Adapun pengertian genosida itu sendiri termaktub di dalam Pasal 2 konvensi tersebut, yang di dalam terjemahan bebasnya kurang lebihnya seperti ini :

Dalam konvensi ini, genosida diartikan sebagai perbuatan-perbuatan berikut, yang dilakukan dengan tujuan merusak begitu saja, keseluruhan atau sebagian, suatu kelompok bangsa, etnis, rasial, atau agama seperti:

(Baca: Hindari Bencana Kemanusiaan, PBB Minta Myanmar Tahan Diri)

1. Membunuh para anggota kelompok ;
2. Menyebabkan luka-luka pada tubuh atau mental para anggota kelompok ;
2. Dengan sengaja menimbulkan pada kelompok itu kondisi hidup yang menyebabkan kerusakan fisiknya secara keseluruhan ataupun sebagian ;
4. Mengenakan upaya-upaya yang dimaksudkan untuk mencegah kelahiran di dalam kelompok itu ;
5. Dengan paksa mengalihkan anak-anak suatu kelompok ke kelompok lain.

Bertalian dengan tudingan Erdogan, mengenai adanya genosida, diberitakan hampir 400 orang tewas dalam pertempuran yang telah mengguncang barat laut Myanmar selama seminggu terakhir. Jumlah itu adalah data resmi terbaru.

Sebuah laporan lagi yang dirilis dari para aktivis menyebut pasukan keamanan Myanmar dan para perwira Buddha melakukan pembantaian etnis Muslim Rohingya secara besar-besaran dalam sepekan. Dalam laporan disebutkan, sekitar 130 orang, termasuk wanita dan anak-anak Rohingya dibunuh.

Sejauh ini laporan—menurut saya cukup kredibel—menyebutkan sekitar 130 orang termasuk wanita dan anak-anak terbunuh,” kata Chris Lewa, Direktur The Arakan Project, lembaga kemanusiaan yang bekerja dengan komunitas Rohingya, seperti dikutip Sindonews.com

Itu terjadi pada hari Minggu ketika pasukan keamanan tiba-tiba mengepung seluruh wilayah, bersama dengan penduduk desa Rakhine, sepertinya ini adalah pembantaian besar-besaran di Rathedaung,” kata Lewa.

Kekerasan terbaru pecah di Rakhine pada Kamis malam atau Jumat dini hari pekan lalu ketika sebuah kelompok gerilyawan menyerang pos-pos polisi yang menewaskan 12 petugas. Kelompok Arakan Rohingya Salvation Army (ARSA) mengklaim bertanggung jawab atas serangan itu dengan dalih sebagai sikap pembelaan terhadap warga Rohingya.

Melihat kekerasan yang terjadi dan menimpa warga Muslim Rohingnya, kecaman Erdogan terhadap militer dan pemerintahan Aung San Suu Kyi, jelaslah pertanyataan yang bukan tanpa dasar. Dihubungkan dengan Convention in the Prevention and Punishment of the Crime of Genocide, yang menjadi sumber hukum internasional, perbuatan yang tercakup di dalam Pasal 2 Konvensi tersebut, tidak bisa dipandang main-main. Perbuatan tersebut pada akhirnya bukanlah hal yang tidak mungkin akan menghadapkan militer Myanmar tersebut ke Mahkamah Pidana Internasional. Bahkan, terhadap Aung San Suu Kyi bukan saja hanya dicabut nobel perdamaiannya, tetapi lebih dari itu dapat dianggap melakukan kejahatan berupa pembiaran (delic by omission) karena tidak mencegah militer yang berada di bawah pemerintahannya. (Ibn)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Related Post

paris hilton, farrah britt, indonesia

Cantiknya Sepupu Paris Hilton Yang Berayah Indonesia

Jakarta, Tengokberita.com – Siapa tak kenal Paris Hilton. Pewaris hotel Hilton ini ternyata memiliki sepupu ...

Membidik Aung San Suu Kyi Sebagai Pelaku Kejahatan Internasional; Genosida

Tengok Berita redaksi Berita Hari ini: 2 min
0