Menyoroti Kontroversi Jenis Kelamin Lucinta Luna dari Perspektif Hukum dan Sosial

31

RECHSTAAT, Tengokberita.com

Dunia ini panggung sandiwara
Cerita yang mudah berubah
Kisah Mahabarata atau tragedi dari Yunani
Setiap kita dapat satu peranan
Yang harus kita mainkan
Ada peran wajar dan ada peran berpura pura

Mengapa kita bersandiwara
Mengapa kita bersandiwara

Masyarakat Indonesia khususnya para pencinta musik sudah tentu familiar dengan bait di atas. Ya, bait itu adalah potongan lagu berjudul Panggung Sandiwara, yang liriknya ditulis Taufik Ismail dengan untaian melodi dan instrumen musiknya digarap oleh Ian Antono. Lagu tersebut begitu dekat dengan masyarakat karena betul-betul mencerminkan tentang kehidupan nyata. Tak ayal lagi, betapapun sudah 41 tahun tercipta (sejak tahun 1977), namun karya seni itu hingga kini seolah tak pernah lekang oleh waktu.

Mendengar dan membacakan lirik lagu tersebut, secara kontekstual nampaknya cukup relevan dikaitkan kondisi sosial saat ini. Tak terkecuali, berkaitan dengan persoalan transgender yang dari waktu ke waktu tetap menjadi isu aktual. Sebab, di samping keberadaan para transgender di tengah masyarakat kerap menimbulkan kontroversi, peristiwa yang berhubungan dengan tindakan kaum yang berorientasi seksual LGBT ini juga berujung pada terjadinya ketegangan sosial bahkan ketegangan hukum.

Tak terkecuali, isu di balik tabir sosok Lucinta Luna, penyanyi group musik Dua Bunga yang kini kian ngepop. Di hadapan publik, Lucinta Luna tampil sebagai sesosok perempuan. Pun halnya para netizen, mengakui keanggunan Lucinta bak boneka barbie. Sampai di situ tak ada persoalan yang timbul.

Namun tiba-tiba, masyarakat mendengar informasi yang diembuskan, Lucinta adalah seorang transgender. Melly Breadley, nama dari yang mengembuskan kabar itu. Dia mengungkap, sebelum melakukan operasi kelamin, Lucinta Luna adalah laki-laki bernama Muhamad Fatah. Melly bahkan menguatkan pengumumannya itu melalui unggahan video melalui youtube. Video itu berisi, sosok Lucinta habis melakukan operasi kelamin. Videonya viral hingga ditonton hampir satu juta kali.

Lucinta Luna di hadapan publik membantah pria itu dirinya. Lucinta juga mendapatkan bullyan dari para netizen, serta cemooh terutama karena pengingkarannya sebagai seorang mantan lelaki. Kontrovesi mengenai jenis kelamin Lucinta Luna pun akhirnya menjadi sajian informasi yang disantap publik, meskipun informasi itu melampuai batas privacy.

(Baca: 26 Negara Melegalkan Pernikahan Sejenis, Bagaimana Indonesia?)

Ada beberapa aspek persinggungan bertalian dengan sengkarut isu seputar jenis kelamin dan identitas Lucinta. Pertama, persoalan perlindungan privacy seseorang yang bukan merupakan bagian dari informasi yang harus disajikan ke ruang publik. Kedua, kedudukan Lucinta sebagai subjek hukum bertalian dengan pengembanan hak dan kewajibannya terhadap negara maupun warga negara sebagai subjek hukum. Ketiga, konteks hubungan sosial Lucinta dengan masyarakat sehubungan dengan kedudukannya sebagai artis atau publik figur.

Ketiga aspek tersebut akan saling berkaitan. Pertama, menyangkut perlindungan terhadap privacy, yang dimiliki Lucinta Luna/Ayluna Puti atau bahkan Muhamad Fatah sekalipun (Bila saja asumsi tersebut benar). Secara normatif, perlindungan terhadap informasi yang bersifat pribadi adalah perlindungan kehormatan dan nama baik yang tidak dapat diganggu secara sewenang-wenang (Lihat Pasal 12 Universal Declaration of Human Rights). Penghormatan dan perlindungan terhadap hak-hak atas kehormatan pribadi tersebut kemudian dikukuhkan melalui International Covenant on Civil and Political Rights (ICCPR) sebagaimana telah diratifikasi Indonesia melalui pengesahan Undang-Undang No.12 Tahun 2005.

Merujuk ICCPR, kendati setiap orang berhak untuk mencari, menerima dan menyampaikan informasi, hukum tetap memberikan batasan dalam hal pelaksanaan hak-hak tersebut guna melindungi hak-hak pribadi seseorang (article 19 ICCPR). Tetapi, herannya, entah karena arus teknologi yang sudah semakin sulit dibatasi serta munculnya akun-akun gosip pribadi, hingga media massa pun sendiri ikut-ikutan latah larut dengan penyajian informasi yang bersifat pribadi. Padahal, terhadap penyajian informasi yang bersifat pribadi, aturan yang berlaku tidak akan memberikan perlindungan hukum bagi pelanggarnya karena tidak adanya kaitan dengan unsur kepentingan umum.

Berikutnya, hubungan Lucinta sebagai subjek hukum dengan negara. Bila benar Lucinta adalah Ayluna Puti yang merupakan “metamorfosis” dari Muhamad Fatah, so what ? Pengadilan Negeri Jakarta Barat telah memberikan penetapan tertanggal 15 Desember 2016 yang menyatakan Muhamad Fatah telah berganti identitas menjadi seorang perempuan dengan seluruh akibat hukumnya. Sepanjang Ayluna menjalankan kewajiban-kewajibannya sebagai subjek hukum perempuan, semuanya selesai tidak ada masalah.

Sedangkan aspek ketiga, bertalian dengan masalah sosial menyangkut hubungan interaksi Ayluna dengan masyarakat. Inilah persoalan hidup bagi setiap subjek dalam kaitannya sebagai makhluk sosial. Seseorang kerap menghadapi konsekwensi dari setiap langkah yang diambilnya. Termasuk Ayluna yang kini populer dalam dunia artis, menjadi bagian dari konsekwensi sosial yang juga turut harus ditanggung saat menghadapi budaya hukum masyarakat yang kepo terhadap persoalan pribadi.

Kemungkinan hanya dua pilihan bagi Ayluna untuk menjawab sengkarut persoalan yang melanda dirinya. Pilihan pertama adalah langkah hukum, jika mau, karena keberatan dirinya dituduh sebagai transgender atau mantan laki-laki. Kedua, bila fakta itu benar, maka secara sosial tak ada salahnya Ayluna mengakui masa lalunya, yang notabene adalah seorang laki-laki. Seperti di dalam ungkapan sebuah hadits berbunyi Qulil Haq Walau Kaana Muuran yang artinya katakanlah kebenaran walaupun itu pahit. (red)

Bagaimana menurut pembaca?