Home » News » Sosok » Mimpi Dinny Jusuf Menghapus TKI di Indonesia (Lanjutan)
tki, tenun, prt

Mimpi Dinny Jusuf Menghapus TKI di Indonesia (Lanjutan)

Tapi Dinny yang bukan orang Toraja asli sadar, ia tidak mempunyai skill untuk menghidupkan kembali tenun. Untuk mengulik tentang arti pada setiap motif kain tenun Toraja juga bukan hal mudah, karena tidak banyak warga Toraja yang memahaminya. Perlu waktu dua tahun bagi Dinny untuk memahami hal itu. Bahkan ia harus langsung bertemu Tomina Toburake, warga Jepang yang memiliki pemahaman mendalam tentang kain tenun Toraja. Toburake juga berperan dalam diterbitkannya dua buku tentang Toraja dan kain tenunnya.

Satu hal yang bisa dilakukan saat itu adalah membuat para pengrajin itu tetap menenun dan memastikan karya mereka ada yang membeli.

Lantas pada 2009, ia mencoba membuat tas berbahan tenun Toraja dan dipasarkannya ke teman-temannya di Jakarta. Desain dikerjakan sang adik, Nina Jusuf yang pernah mengenyam pendidikan desain di University of San Francisco, Amerika Serikat. Hasilnya, sebanyak 100 buah tas habis terjual.

Lantas kakak beradik ini sepakat mendirikan Yayasan Toraja Melo dan PT Toraja Melo. Dinny menangani keuangan, marketing, dan public relations. Sedangkan bertanggung jawab atas desain, produksi dan operasional.

Misi kami saat itu, untuk mempertemukan produk komunitas dengan pasar yang lebih luas, baik di tingkat nasional maupun internasional sekaligus memperbaiki kehidupan para perempuan penenun Toraja yang menjadi mitra,” ujarnya.

Perlahan, Dinny mengajak penenun untuk mengubah kebiasaan mereka dalam menghasilkan kain tenun guna disesuaikan dengan selera konsumen. Ini bukanlah hal mudah, karena menenun sudah dilakukan secara turun-temurun. Dan ada nilai-nilai tertentu yang perlu dipertahankan dalam menekuni aktifitas ini.

Mojang priangan yang pernah bekerja di sebuah bank nasional ini ditantang untuk meyakinkan penenun bahwa perubahan ini demi kepentingan mereka sendiri.

(Baca: Mimpi Dinny Jusuf Menghapus TKI di Indonesia)

Awalnya hanya segelintir penenun yang bersedia bergabung. Namun seiring waktu angka itu terus bertambah. Pada 2012, Perempuan Kepala Keluarga (PEKKA) memintanya menjadi partner.

Dinny yang sebelumnya fokus memberdayakan penenun akhirnya sepakat bermitra dengan ribuan penenun dari komunitas tersebut. Kini ribuan penenun yang bergabung dengan Toraja Melo yang berarti ‘Toraja yang cantik ini. Mereka berasal dari empat wilayah, yaitu Toraja, Mamasa, Pulau Adonara dan Pulau Lembata, Flores Timur.

Kami membantu mengembangkan usaha mereka. Kami ajarkan mereka mengelola keuangan, bagaimana kain tenun yang diproduksi bisa memiliki nilai jual, dan akses ke modal dan pasar dan sebagainya,” ungkapnya.

Toraja Melo kini tak sebatas menjual helai-helai kain tenun, tetapi juga menjual brand story tentang kehidupan perempuan yang memproduksi kain tenun. Awalnya di Toraja kemudian meluas ke beberapa daerah lain. Ini yang menjadi pembeda dan nilai tambah bagi konsumen untuk membeli.

Berkat upaya ini, kini banyak konsumen yang berkontribusi dalam membuat perubahan bagi para penenun. Untuk mengembangkan sayapnya Toraja Melo juga berkolaborasi dengan anak-anak muda untuk mengembangkan website.

Kini kerja keras Dinny telah membuahkan hasil. Sejumlah tenun Nusantara kian dikenal dunia, dan ribuan penenun pun terlahirkan kembali di bumi Nusantara. Semoga mimpi Dinny agar taka da lagi TKI yang harus mengadu nasib ke luar negeri bisa terwujud. (emu)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Related Post

Nanan: VW Tanamkan Nilai Kebersamaan, Kekeluargaan dan Persaudaraan

Tengokberita.com – Mengusung tema ‘Harmony in Diversity’ Jambore Nasional Volkswagen Indonesia ke 48 sudah digelar ...

Mimpi Dinny Jusuf Menghapus TKI di Indonesia (Lanjutan)

Tengok Berita red tengokberita.com Berita Hari ini: 2 min
0