Modus Baru, Sembunyikan Hasil Korupsi Lewat Bitcoin

110

Jakarta, Tengokberita.com- Bitcoin adalah mata uang elektronik atau virtual. Bank Indonesia menerbitkan peringatan kepada masyarakat untuk tidak menggunakan Bitcoin dan mata uang digital lain sebagai alat pembayaran. Masyarakat juga dihimbau untuk tidak memperjualbelikan Bitcoin karena dapat mengganggu stabilitas sistem pembayaran nasional.

Selain itu, pelarangan pemakaian Bitcoin untuk mencegah terjadinya banyak kejahatan. Karena selama ini transaksi Bitcoin seringkali dimanfaatkan untuk aktivitas kejahatan, seperti adanya dugaan terorisme, pencucian uang dan tindakan asusila.

Transaksi Bitcoin untuk pencucian uang dibenarkan oleh Wakil Ketua KPK Laode M Syarif. Menurut dia, beberapa koruptor menyembunyikan hasil korupsinya lewat Bitcoin sehingga menyulitkan aparat penegak hukum.

Syarif bercerita waktu berkunjung ke FBI, Amerika dia bertanya kepada seseorag yang bernama Dean. Kala itu Syarif bertanya apa yang dia lakukan dengan Bitcoin. Jawabannya cukup mengejutkan karena dia juga tidak tahu apa yang seharusnya dilakukan.

Nggak tahu apa yang harus dilakukan, karena tidak diatur negara. Kalau orang hasil kejahatannya dimasukkan ke Bitcoin, kita tidak tahu ke mana,” ujar Syarif menirukan Dean dalam acara Penutupan Rakernis Bareskrim Polri di Hotel Mercure, Ancol, Jakarta Utara, Kamis (8/3/2018).

Syarif mengakui bila pernah membuat akun Bitcoin dengan nama samaran. Namun, saat itu Syarif mengaku ketahuan sebagai penegak hukum. Bitcoin, kata Syarif, juga dijadikan transaksi suap dengan cara judi.Judi bola atau pacuan kuda di sejumlah negara tidak dilarang, tetapi dijadikan modus untuk transaksi suap menyuap.

“Mungkin bapak-bapak sudah lebih tahu dari saya bahwa ada suap menyuap di sini, transaksinya di Singapura, itu biasa. Tetapi yang tidak biasa, modus transaksinya dengan judi bola misalnya,” ujar Syarif.

Bitcoin pada sepanjang Januari 2018 lalu menjadi masa yang sulit bagi kebanyakan investor yang bermain di mata uang digital Bitcoin.

Pada awal Januari 2018, 1 BTC memiliki nilai hampir USD 15.000 (Rp 201 juta). Kemudian, pada akhir bulan tersebut, nilai dari salah satu cryptocurreny terbesar ini bahkan sempat jatuh hingga berada di kisaran USD 8.810 (Rp 118 juta).

Meskipun sempat pulih hingga berada di USD 10.142 (Rp 136 juta), namun kesialan Bitcoin masih berlanjut hingga ke awal Februari. Mata uang digital ini sempat kembali mengalami kemerosotan yang memaksa 1 BTC bernilai USD 8.568 (Rp 115,1 juta).

Angka itu menjadi yang terburuk sejak 25 November 2017, yang pada saat itu Bitcoin sempat menyentuh angka USD 8.561 (Rp 115 juta). Kini, nilai Bitcoin sendiri berada di kisaran 9.763 (Rp 134 juta), berdasarkan data dari CoinDesk. (rot)

Bagaimana menurut pembaca?