Home » News » IPTEK » Mubahalah Tak Sembarangan, Ini Syarat Utamanya
mubahalah, nabi muhammad saw, ustadz bachtiar nasir

Mubahalah Tak Sembarangan, Ini Syarat Utamanya

Jakarta, Tengokberita.com – Ustadz Bachtiar Nasir menyebutkan sumpah Mubahalah adalah sumpah untuk saling melaknat atau saling mendoakan agar laknat Allah SWT dijatuhkan atas orang yang zalim atau berbohong di antara mereka yang berselisih.

Mubahalah dilakukan karena dizolomi,” tutur Bachtiar ketika dihubungi wartawan di Jakarta, Senin (12/6/2017).

Bachtiar menjelaskan, syariat mubahalah bertujuan untuk membuktikan kebenaran dan mematahkan kebatilan bagi mereka yang keras kepala dan tetap bertahan pada kebatilan meskipun sudah jelas bagi mereka kebenaran dan argumen-argumennya.

Dalam kitab Zad al-ma’ad, Ibnu al-Qayyim menjelaskan, mubahalah disunahkan ketika beragumentasi dan berdebat dengan kelompok batil atau orang-orang sesat.

Apabila mereka tetap tidak mau kembali kepada kebenaran dan tetap keras kepala meskipun sudah dijelaskan tentang kebenaran dan hujah-hujahnya.

Allah SWT memerintahkan Nabi SAW menantang kaum Nasrani dari Najran untuk ber-mubahalah. Ketika itu, utusan Nasrani dari Najran bersikeras mengatakan kepada Nabi SAW bahwa Isa adalah anak Allah SWT. Padahal, Nabi SAW telah menjelaskan kepada mereka bahwa Isa AS itu adalah hamba Allah SWT dan utusan-Nya. Maka, Allah SWT memerintahkan kepada Nabi SAW agar menantang mereka untuk ber-mubahalah.

(Baca: Ade Armando Terima Mubahalah HRS, FPI: Kita Lihat Saja)

Jaman Nabi juga pernah ada Mubahalah,” katanya.

Dalam mubahalah tersebut, Nabi SAW menghadirkan anak dan istri masing-masing, kemudian berdoa kepada Allah agar menurunkan azab dan laknat-Nya kepada yang berbohong di antara mereka. Tetapi, karena mereka \mengetahui bahwa Nabi SAW berada dalam kebenaran dan mereka berada dalam kebatilan, merekapun tidak berani melakukannya. Akhirnya, mereka berdamai dan membayar jizyah kepada Nabi SAW.

Diriwayatkan bahwa para sahabat Nabi SAW, seperti Ibnu Abbas, pernah menantang orang yang berselisih pendapat dengannya dalam suatu masalah untuk ber-mubahalah. Imam al-Auza’i, Imam Ibnu Taimiyyah, dan Ibnu Hajar juga pernah ber-mubahalah.

Namun, tidak dianjurkan kepada seorang Muslim untuk ber-mubahalah setiap berbeda pendapat dengan orang atau kelompok lain. Karena, sebagaimana yang ditegaskan di atas, mubahalah itu bertujuan untuk membuktikan kebenaran yang jelas kebenarannya dan mematahkan kesesatan dan kebatilan yang jelas kebatilannya.

Mubahalah tidak bisa sembarangan karena harus memiliki niat yang suci dan hanya karena Allah, bukan untuk tujuan kemenangan hawa nafsu,” katanya.(gun)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Related Post

online shop, e-commerce, palsu

Ini 6 Item Produk yang Rentan Dipalsukan di Pasar Online

Jakarta, Tengokberita.com – Belanja secara daring atau online kini kian diminati masyarakat, seiring dengan kemajuan ...

Mubahalah Tak Sembarangan, Ini Syarat Utamanya

Tengok Berita red tengokberita.com Berita Hari ini: 1 min
0