Museum Wajib Menerapkan SMK3

10
Museum Bahari kebakaran pada Selasa (16/1/2018).

Jakarta, Tengokberita.com – Kebakaran Museum Bahari di Jl Pasar Ikan No 1, Penjaringan, Jakarta Utara menjadi pelajaran berharga betapa aspek manajemen keselamatan penting untuk diterapkan. Jika tidak, benda-benda bersejarah yang menjadi koleksi museum akan rusak, hilang, dan bahkan hangus terbakar seperti dalam kasus kebakaran Museum Bahari yang terjadi Selasa (16/1/2018).

Ada banyak sistem manajemen yang bisa diterapkan guna melindungi aset-aset bangsa yang selama ini menjadi koleksi museum di Indonesia. Salah satunya adalah Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3).

Mantan Direktur Pengawasan Norma Keselamatan dan Kesehatan Kerja (PNK3) Ir Amri AK, MM bahkan mengatakan, SMK3 yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah (PP) No 50 Tahun 2012 tentang Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) wajib diterapkan dalam aspek permuseuman.

IR AMRI AK, MM

Menurut Amri yang kini menjadi Kepala Kesekretariatan Dewan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Nasional (DK3N), pada hakekatnya museum adalah tempat kerja. “Museum adalah tempat kerja, maka sesuai PP No 50/2012 tempat kerja tersebut (museum) wajib menerapkan SMK3,” kata Amri yang dikonfirmasi Tengokberita.com, Kamis (18/1/2018) pagi.

Dikatakan Amri, sesuai Pasal 1 butir a PP No 50/2012, dimaksud Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) adalah bagian dari sistem manajemen perusahaan secara keseluruhan dalam rangka pengendalian risiko yang berkaitan dengan kegiatan kerja guna terciptanya kegiatan kerja yang aman, efisien, dan produktif.

(baca :DPR: Pemerintah Harus Lebih Peduli Keamanan dan Keselamatan Museum)

Pengertian itu tak sebatas perusahaan, tetapi adalah tempat kerja termasuk perkantoran instansi-instansi pemerintah seperti halnya museum,” Amri menambahkan.

SMK3 meliputi struktur organisasi, perencanaan, tanggung jawab, pelaksanaan, prosedur, proses dan sumberdaya yang dibutuhkan bagi pengembangan, penerapan, pencapaian, pengkajian, dan sebagainya,” demikian Amri.

Museum Bahari yang menjadi museum sejarah Kebaharian Indonesia terbakar pada Selasa (16/1/2018) pagi. Api disebabkan oleh korsleting listrik.

Saksi Rahmat (72) melihat kabel listrik terbakar. Lelehan kabel menetes dan menimpa bahan-bahan yang mudah terbakar di bagian belakang museum tersebut.

Rahmat dan beberapa temannya berusaha memadamkan api dengan alat pemadam api ringan (APAR). Namun angin yang berembus kencang, membuat api kian berkobar. Dalam waktu sekejap, kobaran api sudah melumat gedung museum.

Kobaran api baru bisa dipadamkan satu setengah jam kemudian setelah petugas mengerahkan 16 unit mobil pemadam kebakaran (damkar) dari Pemkot Jakarta Utara dan Pemkot Jakarta Barat ke lokasi kejadian.

Tidak ada korban jiwa dalam musibah ini. Namun kerugian diperkirakan mencapai miliaran rupiah mengingat banyaknya koleksi museum yang turut hangus terbakar dan tidak sempat diselamatkan.

Kebakaran Museum Bahari menyisakan sebuah patung yang rusak parah akibat terbakar.

Kepala Museum Bahari Husnizon Nizar yang dikonfirmasi, membenarkan peristiwa terbakarnya Museum Bahari. Menurut pria yang akrab disapa Soni ini, api pertama kali terlihat di bagian belakang gedung pada Selasa (16/1/2018) sekitar pukul 09.00 WIB.

Kebakaran itu menghanguskan banyak koleksi, utamanya di ruang Navigasi. Namun Soni belum bisa merinci koleksi apa saja yang hangus dalam peristiwa kebakaran tersebut. “Belum bisa kita rinci sekarang. Pastinya banyak koleksi yang terbakar,” kata Soni.

Museum Bahari merupakan gedung bersejarah. Didirikan secara bertahap sejak 1652 hingga tahun 1771. Ada sejumlah bangunan di kompleks Museum Bahari, salah satunya digunakan sebagai museum sejak 7 Juli 1977.

Kompleks museum bahari dibangun sebagai gudang yang berfungsi untuk menyimpan, memilih dan mengepak hasil bumi, seperti rempah-rempah yang merupakan komoditi utama VOC (Vereegnigde Oostindische Compagnie, Kongsi Dagang Hindia Belanda) yang kala itu merupakan komoditi yang sangat diminati di Eropa.

Kompleks bangunan yang difungsikan sebagai gudang rempah-rempah itu dibangun VOC di samping muara Ciliwung di dua sisi. Sisi barat dikenal dengan sebutan Westzijdsche Pakhuizen atau Gudang Barat dan sisi timur yang dikenal dengan sebutan Oostzijdsche Pakhuizen atau Gudang Timur.

Gudang barat terdiri dari empat unit bangunan, dan tiga unit di antaranya yang sekarang digunakan sebagai Museum Bahari. Gedung ini awalnya digunakan untuk menyimpan barang dagangan utama VOC di Nusantara yaitu rempah, kopi, teh, tembaga, timah, dan tekstil.

Pada masa pendudukan Jepang, gedung-gedung ini dipakai sebagai tempat menyimpan barang logistik tentara Jepang. Setelah Indonesia Merdeka, bangunan ini dipakai PLN dan PTT untuk gudang. Tahun 1976, bangunan cagar budaya ini dipugar kembali, dan pada 7 Juli 1977 diresmikan sebagai Museum Bahari. (has)

Bagaimana menurut pembaca?